Lillah Billah Lirrosul Birrosul Lilghouts bil ghouts.

Minggu, 26 Desember 2010

CERDAS RUHANIAH DENGAN SHOLAWAT WAHIDIYAH

Sebagaian besar manusia modern mengalami rasa
dahaga dan miskin spiritual. Mereka mengalami
suasana kehampaan, bahkan menurut Erich Fromm
sebagai orang yang merasakan kesepian ditengah
keramaian. Orang-orang yang miskin di tengah
limpahan kekayaan sebagaimana dialami oleh
multimilioner Howard Hughes. Bagaikan ayam mati
kelaparan di lumbung padi. Mereka terguncang.
Bahkan mereka selebritis yang di tohok popularitas
dan limpahan materi, melirik pada dunia spiritual.
Dan tidak sedikit diantara mereka yang mengisi
kekosongan ruhaninya itu dengan mengikuti
kelompok atau aliran yang bersifat mistik, serta
paham-paham baru yang mencoba menggali
spiritual dari sudut pandang dan pemikiranya sendiri
tanpa mau menerima ajaran agama yang sudah
mapan. Sikap seperti ini pada akhirnya melahirkan
sebuah aliran yang sudah lama dikenal di lingkungan
kita dengan apa yang disebut aliran kepercayaan
atau aliran kebatinan, sebagaimana di Amerika
tumbuh berbagai aliran spiritual, seperti New Age,
New Thought, Iluminasi, Fremansonryy dan lain
sebagainya.
Rasa dahaga dan kemiskinan sepiritual makna hidup,
mereka salurkan memaknai dunia kearifan yang
berasal dari dunia Timur. Mereka melihat nilai-nilai
sepiritual tersebut dalam prespektif budaya, bukan
agama. Mereka pun menyelami nilai-nilai spiritual
tersebut dengan cara aktif ikut belajar yoga, meditasi
dan menjadikan tokoh-tokoh dari Timur semacam
Mahatma Ghandhi sebagai sosok yang paling pantas
menjadi model atau tipe orang yang cerdas secara
spiritual.
Sayangnya, dalam upaya pencerdasan spiritual
tersebut mereka tidak menjadikan Al Qur ’an dan
Hadits sebagai rujukan, sehingga mereka
memahami kecerdasan spiritual hanya sebagai
potensi yang khas di dalam jasad, tanpa
mengkaitkanya secara jelas dengan kekuasaan
Tuhan. Alhasil, ruhaniah mereka tetap hampa dan
rapuh. Hal ini diperarah dengan penafsiran salah
mereka bahwa agama hanya dipandang sebagai
penemuan orang-orang arif belaka. Bagi mereka,
agama tidak memberikan kebebasan pencarian
kebenaran ilmiah. Keyakinan mutlak terhadap ajaran
agama melahirkan sikap yang otokratis yang
bertentangan dengan nilai demokratik sehingga tidak
memberdayakan daya imajinasi kreatifnya.
Padahal, ajaran Islam memberikan keleluasaan
kemerdekaan bagi pemeluknya untuk
mempergunakan kecerdasan spiritualnya melakukan
eksplorasi, tetapi kata kuncinya tetap berawal dan
berakhir kepada Tauhid, sebagaimana firman
Allah: ”Yaitu orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi. ” (QS. Ali Imran: 19).
KECERDASAN RUHANIAH
Sebelum membahas secara luas apa itu kecerdasan
ruhaniah yang biasa disebut dengan kecerdasan
spiritual serta pendapat para ahli mengenai
kecerdasan spiritual, ada baiknya kita mengetahui
pendapat Sayyidina Ali RA dalam memaknai
kecerdasan. Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA,
kecerdasan adalah: karunia tertinggi yang diberikan
Tuhan kepada manusia. Ia akan mencapai puncak
aktualisasinya jika diperuntukkan sebagaimana visi
dan misi penciptaan dan keberadaannya yang
ditetapkan Tuhan baginya.
Dannah Zohar, sarjana fisika dan filsafat di MIT
(Massachusetts Institute of Tehnology), dan
menyelesaikan post graduate dibidang psikologi,
agama dan filsafat di Harvard Univerity, dalam
bukunya SQ (Spiritual Intelligence) mengatakan
bahwa, ”kecerdasan spitirutal adalah kecerdasan
untuk menghadapi dan memcahkan persoalan
makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk
menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks
makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan untuk
menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang
lebih bermakna dibandingkan yang lain. SQ adalah
landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ
dan EQ secara efektif.
Sementara itu Jalaludin Rahmat dalam pengantarnya
di buku SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual
dalam berfikir Integralistik dan Holistik untuk
memaknai Kehidupan, menukil pendapat Khalil
Khavari menjelaskan bahwa kecerdasan Spiritual
adalah fakultas dari dimensi non material kita ruh
manusia. Inilah intan yang belum terasah yang kita
semua memilikinya. Kita harus mengenalinya seperti
apa adanya, menggosoknya sehingga berkilap
dengan tekad yang besar dan menggunakannya
untuk memperoleh kebahagiaan abadi. Seperti dua
bentuk kecerdasan lainya, kecerdasan spiritual dapat
ditingkatkan dan juga diturunkan. Akan tetapi,
kemampuanya untuk ditingkatkan tidak terbatas.
Toto Tasmara, penulis sekaligus dai yang sufistik
dalam bukunya, Transcendental Intelligence
(Kecerdasan Ruhaniah) memaknai kecerdasan
ruhaniah dengan kemampuan seseorang untuk
mendengarkan Hati nuraninya atau bisikan
kebenaran yang meng-Ilahi dalam cara dirinya
mengambil keputusan atau melakukan pilihan-
pilihan. Berempati, dan beradapsi. Lain lagi pendapat
dalam bukunya ESQ (Emotional Spiritual Quation).
Ari mengatakan, kecerdasan spiritual adalah
kemampuan untuk memberi makna ibadah
terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui
langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah,
menuju manusia yang seutuhnya, dan memiliki
pola pemikiran tauhid serta berprinsip, “Hanya
karena Allah (lillah).”
Dari bebagai pendapat diatas, dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa kecerdasan ruhaniah
bersumber dari fitrah (God Spot) manusia itu
sendiri. Kecerdasan ini tidak dibentuk melalui
diskursus-diskursus atau memori-memori
fenomenal, tetapi merupakan aktualisasi fitrah itu
sendiri. Ia ‘memancar’ dari kedalaman diri manusia,
jika dorongan-dorongan keingintahuan dilandasi
kesucian, ketulusan dan tanpa pretense egoism.
Dalam bahasa yang sangat tepat, kecerdasan
spiritual ini akan aktual, jika manusia hidup
berdasarkan visi dasar dan misi utamannya, yakni
sebagai ’abid dan sekaligus khalifah Allah di muka
bumi.
Sebagai Khalifah Allah atau Wakil Tuhan di bumi,
manusia diberi tugas mengatur kehidupan dunia ini
menjadi kehidupan yang baik dan benar serta
diridhai Allah SWT. Namun didalam menjalankan
fungsinya sebagai khalifatullah manusia tidak bebas
begitu saja tanpa arah, melainkan harus mengikuti
haluan garis besar pokok yang harus dituju oleh
manusia, sebagaimana ketetapan Allah dalam Al
Qur ’an.”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia
kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz
Dzariyat: 56).
Manusia sebagai ‘abid, hamba Allah hendaknya
orientasi hidupnya diarahkan untuk mengabdikan
diri beribadah kepada Allah SWT, dan dijadikan
sebagai pelaksanaan dari liya ’buduun. Artinya, agar
jin dan manusia mengenal (sadar) kepada Allah. Jadi,
segala hidup dan kehidupan manusia maupun jin
menurut penafsiran Ibnu Abbas RA harus
sepenuhnya diarahkan atau sebagai saran untuk
makrifat, mengenal Allah SWT.
Istilah Wahidiyah, sebagaimana sering difatwakan
Romo Yahi RA, orang yang senantiasa lillah billah
adalah orang yang wushul (makrifat) kepada Allah.
Dan orang yang senantiasa lillah billah adalah orang
yang dapat beribadah setiap saat.
TAKWA INDIKATOR CERDAS RUHANIAH
Menurut Kyai Subhan Khotib, dai muda asal
Sumenep Madura, indikator orang yang cerdas
ruhaninya adalah dia yang memiliki sense of
responbility atau takwa yang terefleksi dalam
kehidupan nyata sehari-hari. Takwa bukan hanya
sekedar pengetahuan, tetapi merupakan sikap dan
tindakan didalam menerima sesuatu sebagai
amanah dengan penuh rasa cinta ingin
menunaikanya dalam bentuk amal-amal shaleh.
Dalam arti dia harus merealisasikan pengetahuannya
dalam wujud amal nyata sehari-hari dengan penuh
tanggung jawab dan rasa cinta dengan semata-
mata mengharap ridha Allah. Seorang santri sangat
tahu hukum-hukum syariat agama. Bahkan dia
dididik langsung untuk mengerathui dan
mengamalkanya. Akan tetapi, dalam kenyataannya
sikap dan perilakunya tetap saja tidak berubah
sebagaimana ketika belum menjadi santri. Dia tidak
bisa dikatakan sebagai orang yang bertakwa. Karena
dia tidak bertanggung jawab, tidak amanah atas
pengetahuan yang telah diperolehnya dan tidak
mewujudkannya dalam pencapaian amal nyata
sehari-hari.
Takwa sebagai bentuk tanggung jawab hanya
sinkron dengan kebaikan saja. Takwa hanya dapat
bersanding dengan prinsip keimanan. Selain itu,
tidak ada takwa atau tanggung jawab. Sehingga
seseorang tidak diperkenankan untuk mengikuti apa
saja di luar pengetahuanya, karena seluruh
keputusanya akan dimintai pertanggung
jawabannya. Sebagaimana firman Allah:”Janganlah
kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki
pengetahuan tentang hal tersebut, karena
pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu
akan dimintai pertanggungjawabanya. ” (QS. Al Isra:
36).
Karena rasa tanggung jawab itu pula maka seorang
muslim tidak mungkin menghianati hati nuraninya
dengan melakukan perbuatan dosa dan
permusuhan. Karena prinsip keimananya lebih
menekankan pada perdamaian dan penghargaan
yang mendalam terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Karena itulah Allah berfirman: ”Dan tolong-
menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan
dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran. ” (QS. Al Maidah: 2).
Dengan demikian, takwa berkaitan dengan masalah
nurani. Sehingga takwa merupakan hasil dari
pencerahan qalbu yang senantiasa berada pada
posisi menerima curahan cahaya ruh yang
bermuatkan kebenaran dan kecintaan kepada Allah
SWT. Karena itulah orang yang bertakwa akan selalu
berbuat dan bertindak di atas kebenaran dan
kebaikan saja. Dan akan selalu meminta nasihat
kepada qalbunya. ”Mintalah nasehat pada dirimu,
mintalah nasehat pada hati nuranimu wahai
Habhishah (Nabi mengulang tiga kali). Kebaikan
adalah sesuatu yang membuat jiwa tenang dan
membuat hati senang. Dosa adalah sesuatu jiwa
tidak tentram dan dosa terasa bimbang di dalam
hati. ” (HR. Ahmad).
Itulah mengapa Rasulullah SAW (sambil
menunjukkan jari tangan ke dadanya) bersabda: ”At
takwa hahuna,” takwa itu ada disini (di qalbu).
Untuk memelihara prinsip tanggung jawab atau nilai
tersebut, orang yang merindukan kecerdasan ruhani
akan senantiasa berupaya membersihkan hatinya
(tazkiyatun nafs) agar dinding qalbunya menerima
cahaya nurani yang terus-menerus membisikkan
kebenaran Ilahiah.
MEMILIKI VISI
Orang yang cerdas ruhaninya sangat menyadari
bahwa hidup yang dilakoninya bukanlah ‘kebetulan’
melainkan sebuah kesengajaan yang harus
dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab
terhadap masa depan. ”Hai orang-orang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk hari
esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui segala yang kamu
kerjakan. ” (QS. Al Hasyr: 18).
Menghayati makna ayat tersebut diatas seakan
memperingatkann setiap orang akan visi atau tujuan
hidupnya. Serta persiapan apa yang dilakukannya
untuk mencapai harapan tersebut. Tentu saja orang
yang ingin mempertajam kecerdasan ruhaninya,
menetapkan visinya melampaui wilayah yang
bersifat duniawi, dan menjadikan qalbunya sebagai
suara hati yang selalu didengar. Karena itu visi atau
tujuan hidup setiap muslim yang cerdas ruhaninya,
akan menjadikan perjumpaan dengan Allah sebagai
puncak dari pernyataann visi pribadinya yang
kemudian dijabarkan dalam bentuk perbuatan baik
yang terukur dan terarah. Perjumpaan dengan Allah
atau kerinduan untuk pulang ke kampung akhirat
merupakan obsesi yang mendorong dirinya untuk
menjadikan dunia hanya sekedar hamparan sajadah
ibadah, sebuah perjalanan yang harus kembali
pulang ke akhirat dengan membawa bekal serta
memenuhi seluruh tanggung jawabnya untuk dapat
berjumpa dengan sang kekasih sejati yaitu Allah
SWT.
MERASAKAN KEHADIRAN ALLAH
Mereka yang cerdas secara ruhaniah, merasakan
kehadiran Allah dimana saja dan kapan saja mereka
berada. Mereka meyakini sepenuh hati ada kamera
Ilahiah yang terus menyoroti gerak-geriknya.
Mereka juga merasakan serta menyadari bahwa
seluruh bisikan hatinya diketahui dan dicatat Allah
tanpa ada satu pun yang tertinggal. Mereka
merasakan pengawasan Allah. Allah
berfirman: ”Sesungguhnya telah Kami ciptakan
manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan
hatinya. Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat
nadinya. ” (QS. Qaaf: 16).
Takwa tidak mungkin tumbuh kecuali ada kesadaran
yang sangat mendalam, bahwa Allah senantiasa
tampak dimanapun kita berada dan tampak dalam
pandangan mata batinnya. Kesadaran bahwa Allah
senantiasa bersamanya dan perasaan bahwa Allah
menyaksikan dirinya, merupakan fitrah asasi
manusia yang telah melekat pada saat manusia
masih berada di dalam ruhani. Pesan ke-Ilahian
yang berupa perjanjian moral dan pengakuan
keberadaan Tuhan itu berbunyi: ”Bukankah Aku
Tuhanmu? Mereka menjawab: Benar (Engkau Tuhan
Kami), kami menjadi saksi. ” (QS. Al A’raf: 172).
Dengan kesadaran inilah, maka nilai-nilai moral akan
terpelihara. Karena seluruh tindakannya berasal dari
pilihan hatinya yang tercerahkan Nur Ilahiyah, akan
melahirkan kemampuan untuk terus berjalan ke
depan di atas prinsip-prinsip iman yang sangat
merindukan perjumpaan dengan-Nya.
Tentu saja, perasaan kehadiran Allah didalam hati
tidak akan begitu saja, melainkan harus dilatih
melalui keheningan batin dan menjalankan riyadhah-
riyadhah qalbiyah. Menerapkan ajaran Wahidiyah
lillah billah dan seterusnya secara terus-menerus
serta dipupuk dengan Mujahadah Shalawat
Wahidiyah.
AHLI DZIKIR DAN DOA
Dzikir atau mengingat Allah adalah amaliah yang
tidak pernah ditinggalkan oleh mereka yang cerdas
ruhaniyahnya. Dzikirnya da-iman (terus-menerus)
berkesinambungan tanpa diselingi. Baik waktu
berdiri, duduk maupun berbaring. Diwaktu sunyi
maupun ramai. Diwaktu sibuk maupun santai. Di
waktu senang maupun susah. Ingat Allah meskipun
di waktu marah. Pendek kata, hatinya senantiasa
tawajuh kepada Allah fi kulli lamhatin wa nafasin.
Dzikir merupakan tiang yang kuat dalam menuju
whusul kepada Allah, juga sebagai langkah utama
dalam menggapai cinta Ilahi jika tidak mengningat-
Nya secara terus-menerus. Orang yang beriman
dan cinta kepada Allah hatinya selalu dihiasi dengan
dzikrullah, karena dzkir telah menjadi santapan qalbu
mereka . hidup tanpa terus mengingat Allah, adalah
hampa dan kering. Kalau kita mencintai seseorang
misalnya, kita akan senantiasa mengenang dan
menyebut-nyebut namanya. Oleh karena itu,
siapapun yang dalam hatinya telah tertanam cinta
akan Allah, disitulah dzikir akan terus terlantunkan.
Jadi, sebenarnya kita bisa mencapai mahabbatullah
dengan menempuh jalan dzikrullah.
Mereka yang cerdas secara ruhani juga menyadari
bahwa doa mempunyai makna yang sangat
mendalam bagi dirinya. Dengan berdoa, mereka
memiliki sikap optimis. Karena doa pada hakekatnya
adalah rintihan seorang hamba yang memiliki
harapan untuk memperoleh kemuliaan, pertolongan
Allah SWT dan sebagai alat untuk memenuhi
kebutuhan menuju Allah. Begitu dahsyatnya doa
yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga
dapat mengubah takdir.
Mengingat doa merupakan bagian dari dzikir, dan
dzikir adalah keyakinan yang mendalam bahwa aku
selalu dilihat oleh Tuhanku. ” Maka dalam berdoa,
mereka merasakan dirinya sedeng beraudensi
dengan Tuhanya. Ia menghadapkan seluruh wajah
batinya kepada Allah dengan bersungguh-sungguh
penuh rasa rendah diri dan rasa cemas tetapi
sekaligus penuh harap. Dia yakin bahwa Allah tidak
akan pernah memalingkan wajah-Nya dari hamba-
hamba yang memohon dengan penuh
kesungguhan menyatakan suara batinya dengan
optimis. Dia sangat yakin bahwa Allah tidak akan
pernah mengingkari janjinya untuk mengabulkan
permohonan hamba-Nya yang berdoa. Allah tidak
pernah mengenal kata jemu untuk mendengarkan
hamba yang menjerit meminta petunjuk-Nya. Karl
Jesper mengatakan bahwa, ”Tuhan adalah satu-
satunya yang tak kenal lelah untuk mendengarkan
doa manusia. ” Allah berfirman:”Berdoalah kepada-
Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al
Mukmin: 60).
Perihal doa ini, Hadratul Mukarram Romo KH. Abdul
Latif RA dawuh, ”Kalau doa itu didalami dengan
sungguh-sungguh, maka akses dari doa itu sendiri
mutlak diatas semua ikhtiyar manusia. ”Beliau lantas
mencontohkan kekuatan doa ini dengan
kemenangan pasukan perang muslim di zaman
Khalifah Umar bin Khattab saat menghadapi pasukan
Rumawi, Negara adidaya kala itu yang notabene
bersenjata lengkap dan canggih. Sementara
persenjataan kaum muslimin sangatlah terbatas dan
amat sederhana. Namun dibalik itu semua, ada
kekuatan dahsyat yang tidak dapat dikalahkan
dengan senjata super canggih sekalipun yakni doa.
Banyak orang yang kagum dan heran akan
kebesaran Wahidiyah yang dalam waktu relative
singkat sudah me-Nasional bahkan go Internasional.
Ketika Romo Yahi RA ditanya apa rahasianya? Beliau
menjawab, ”Hanya satu, Bid-du’a (dengan doa).
Tentu saja doa bukan sembarang doa tapi doa yang
berkualitas. Berdoa dengan nama Kebesaran Allah
bijahi Sayyidima Muhammadin SAW. Para ulama
sepakat, bahwa barangsiapa berdoa dengan nama
kebesaran Allah juga malalui nama dan hak
kebesaran Rasulullah SAW, ijabah doanya.
SHALAWAT WAHIDIYAH DAN KECERDASAN
RUHANIAH
Kecerdasan Ruhaniah adalah kebeningan batin akibat
pancaran nur-nur Ilahiah yang menyinari hati
seorang hamba yang dikehendaki-Nya. Pancaran
Nur tersebut selanjutnya akan menuntun hatinya
menggerakkan lahiriyah: untuk berbuat, berkreasi,
beramal dan beribadah kepada Tuhanya dengan
sebenar—benarnya.
Untuk meraih kebeningan batin (kejernihan hati)
yang notabene syarat utama menghadap Allah, di
akhir zaman ini, tidaklah semudah membalik telapak
tangan. Apalagi kalau tidak ada seorang guru kamil-
mukamil yang menuntun. Sementara, untuk
menemukan seseorang guru penuntun pun sangat
sulit. Saking sulitnya, dalam sejarah para sufi,
mereka kemudian melakukan uzlah, bertapa,
riyadhah dan sebagainya. Ini menunjukkan, bahwa
kecerdasan ruhaniah tidak bisa dicapai dengan main-
main. Agar ruhani cerdas, batin menjadi bening
sehingga bisa mencapai wushul kepada Allah di
akhir zaman ini, khususnya bagi orang yang banyak
dosa, bagi orang bodoh secara ruhaniah, menurut
kalangan sufi, salah satunya adalah dengan
membaca Shalawat.
Karena shalawat banyak sekali macamnya, maka
sesuai dengan situasi dan tuntutan zaman, sudah
seharusnya kita mengamalkan shalawat yang dapat
memberikan faedah bagi kebeningan batin dan
ketentraman jiwa. Atau shalawat yang
mendatangkan kecerdasan ruhaniah, yang
mendorong pada peningkatan iman dan takwa,
peningkatann ingat dan sadar (wushul) kepada Allah
wa Rasulihi SAW.
Secara umum, membaca shalawat kepada Nabi
SAW memang dapat mengantarkan whusul. Tetapi
hal itu pada dasarnya tidak lepas dari niat awalnya.
Bahwa kita membaca shalawat ini bertujuan sebagai
tahriqah (jalan) menuju Allah. Sebab, jika membaca
shalawat hanya niat untuk mendapatkan karomah,
ingin diberi ilmu hikmah, ingin hutang-hutangnya
terbayar, ekonominya lancar dan sebagainya, maka
bacaan shalawat itu tidak akan menyampaikan kita
kepada Allah. Shalawat yang kit abaca paling-paling
hanya membuat kita diberi karomah, doa kita ijabah,
apa yang diucapkan terjadi, kesulitan-kesulitan kita
teratasi, dan sebagainya. Dan ini, menurut para sufi,
adalah salah satu rintangan bagi seorang murid
dalam menuju Allah. Mereka banyak tergiur oleh
godaan itu, hingga perjalananya menuju Allah putus
ditengah jalan.
Dan Alhamdulillah, Shalawat Wahidiyah dikaruniai
faedah menjernihkan hati dan makrifat billah.
Menjadikan hati bening, membuat ruhani cerdas dan
mengantarkan wushul kepada Allah. Shalawat
Wahidiyah, dimana setiap hurufnya mengandung
nadrah, apabila diamalkan dengan sungguh-
sungguh dan mengikuti tuntunan-tuntunan yang
telah ditetapkan, baik cara membacanya, adab-
adabnya, penerapan ajaranya, apalagi jika disertai
dengan riyadhah qalbiyah, maka akan mampu
membuka fadhal Allah serta mengekang pengaruh
nafsu, sehingga hati selalu yuthufullaha daiman, atau
thawaf bergerak sowan dan sadar ke hadirat Allah
SWT.
Jika seseorang telah sadar kepada Allah, maka dalam
hatinya akan timbul kesadaran-kesadaran yang lain.
Kesadaran bermasyarakat, kesadaran berbangsa,
kesadaran bernegara, dan kesadaran-kesadaran
yang lain sesuai bidang masing-masing. Dan ini
merupakan dari ruhani yang cerdas. Dengan kata
lain, ruhani yang cerdas memiliki pengaruh yang
besar bagi kecerdasan lahir. Sebaliknya, akal yang
cerdas (lahir), belum tentu bisa membuat ruhani
menjadi cerdas. Bahkan mungkin sebaliknya(?)
Sebagaimana kata Nabi dalam haditsnya riwayat Ad
Daylami RA, ”Barangsiapa yang hanya bertambah
ilmunya (kecerdasannya) tetapi tidak bertambah
hidayahnya (keimanan/ kecerdasan ruhaninya),
maka ia bukan semakin bertambah dekat kepada
Allah, melainkan justru semakin jauh dari
Allah. ”Wallahu a’lam bisshawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar