Lillah Billah Lirrosul Birrosul Lilghouts bil ghouts.
Tampilkan postingan dengan label By Wahidiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label By Wahidiyah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

Semua keadaan, bisa menjadi TORIQOH (jalan) menuju Allah!

“Tidak dikuatirkan padamu bingung jalan. Tetapi
yang dikuatirkan atasmu adalah menangnya hawa
nafsu atas akal dan imanmu. ” (Al Hikam: 117)
Bagi semua orang, tidak dikhawatirkan bingung
tentang keadaan dirinya; apakah ia melakukan taat,
atau terjerumus berbuat maksiat. Karena yang jelas,
perbuatan-perbuatan itu, sebenarnya bisa dijadikan
jalan untuk menuju mewusulkan seseorang kepada
Allah, atau bisa menjadi jalan, atau toriqoh kepada
Allah.
Amal itu sendiri memiliki dua nilai. Pertama; Nilainya
sebagai amal. Tentu setelah terpenuhinya syarat-
syaratnya amal itu sendiri. Kedua; Berfungsi sebagai
toriqoh.
Suatu perbuatan dinilai amal, kalau dalam
pelaksanaanya sudah memenuhi syarat-syarat,
seperti niat, rukunya sudah tepat, yang
membatalkan sudah ditinggalkan, dan sebagainya.
Jika hal ini sudah ditepati, amal itu diterima.
Sebaliknya, kalau amal itu untuk dijadikan sebagai
toriqoh ilallah, ya syaratnya lain lagi, tentu
sebagaimana yang berlaku di toriqoh. Nah, kalau
bisa, kita melakukan amal ibadah bisa bernilai kedua-
duanya; sebagai amal ibadah dan sebagai toriqoh.
Karena ada amal yang tidak memenuhi syarat-
syarat amal, tapi ia bisa tusilu ilallah (menjadi toriqoh
untuk wushul kepada Allah). Ada juga amal yang
diterima, tetapi tidak bisa tusilu ilallah.
Ketika kita menghadapi suatu keadaan, di sini
digambarkan, ada taat, ada maksiat, juga ada bala’.
Taat, maksiat dan bala’ ini, kita tidak dikhawatirkan
ketidakmampuan kita untuk memanfaatkanya
menjadi toriqoh atau amal ibadah tusilu ilallah.
Meskipun didalam Al Qur’an sendiri dan juga hadits,
telah jelas diterangkan, bahwa apabila kita mau
mempelajari dan memahami benar-benar, disana
ada tuntunan-tuntunan yang menuntun kita agar
dapat memanfaatkan semua keadaan atau amal
ibadah menjadi toriqoh yang tusilu ilallah.
Pertanyaanya sekarang, bagaimana menggunakan
taat, menjadi amal ibadah, menjadi toriqoh yang
tusilu ilallah. Yaitu:
Yakni, kita memandang bahwa semua amal ibadah
kita ini adalah anugerah dari Allah, bukan sebab daya
upaya kita, dan bukan karena usaha kita. Karena itu
jangan diaku ketika kita bisa taat, bahwa itu hasil
ikhtiar kita, tetapi sadarilah bahwa ini adalah
anugerah dari Allah. Walaupun umpamanya, kita
sudah lillah, tetapi ketika kita melakukan amal ibadah
belum melihat bahwa sesungguhnya bisa beramal
itu sendiri merupakan anugerah Allah, berarti kita
masih mahjub, terhijab, amal itu masih diaku. Nah,
supaya amal itu tidak diaku, kita harus menyadari
minnatun minallah (anugerah dari Allah). Dalam
istilah Wahidiyah billah, bukan ikhtiar kita. Kalau taat
kita sudah kita bilah-kan, hati kita senantiasa ingat
kepada Allah, ya otomatis amal atau taat itu menjadi
toriqoh kepada Allah.
Dibidang maksiat; bagaimana agar maksiat kita ini
bisa dijadikan toriqoh kepada Allah? Yaitu, ketika kita
maksiat, kita harus istighfar, merasa hina, merasa
dosa dihadapan Allah SWT. Kemudian kita tobat
yang sungguh-sungguh kepada Allah, maka
maksiat itu akan menjadi toriqoh kepada Allah.
Karena itu ada dawuh:”Maksiat yang didalamnya
menimbulkan rasa dosa, nelongso dan menangis
meminta ampunan kepada Allah, berdepe-depe
tobat dan kembali kepada Allah, itu lebih bagus
daripada taat yang tidak ada rasa demikian itu,
bahkan menumbuhkan rasa takabur. Karena itulah,
maksiat bisa dijadikan toriqoh kepada Allah.
Begitu juga nikmat. Bagaimana nikmat itu agar bisa
dijadikan toriqoh kepada Allah. Yaitu kita senantiasa
bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan
Allah. Baik Syukur bil qalbi, syukur bil lisan, maupun
syukur dengan cara menggunakan nikmat itu untuk
beramal, sesuai dengan kehendak yang memberi
nikmat.
Syukur bil qalbi, kita merasa, menyadari bahwa
semua nikmat itu dari Allah SWT. Sadar bahwa
nikmat itu adalah anugerah Allah. Juga sebagai
ungkapan syukur kita, secara lisan kita berterima
kasih kepada Allah dengan memanjatkan puji;
Alhamdulillah. Bahkan, kalau perlu disampaikan
kepada orang lain: Alhamdulillah saya baru saja
mendapat nikmat dari Allah ” maksud membicarakan
nikmat tentu bukan niat riya’, tapi niat syukur dan
menunjukkan nikmat Allah kepada orang lain. Kalau
bisa demikian, maka syukur nikmat tadi, bisa
menjadi toriqoh kepada Allah.
Begitupun ketika kita mendapat bala’. Ia bisa
dijadikan toriqoh kepada Allah. Yaitu ketika kita
menerimanya dengan hati ridha, dan sadar bahwa
ini adalah qodho-qodar-nya Allah. Kita memandang,
ini semua dari Allah semata. Disebabkan banyak
dosa-dosa kita.
” Telah tampak berbagai kerusakan di darat dan
dilautan. Bencana alam, banjir, angin topan, gunung
meletus, kecelakaan, dan sebagainya. Semua ini
adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri, kata
Allah. Hingga dunia menjadi rusak, dan semua
barokahnya hilang. Mulai barokah harta-benda,
barokah rumah-tangga, semuanya hilang.
Semuanya kacau balau. Akibat kerusakan itu
kemudian ditimpakan oleh Allah kepada manusia,
agar mereka mau sadar dan kembali kepada Allah
SWT. ” (QS. Ar Rum: 41).
Demikian inilah beliau tuntunan K. Mushonnif kepada
kita, kepada Pengamal Wahidiyah khususnya yang
telah lama didik Mbah Yahi, untuk menyikapi
keadaan maksiat, taat, nikmat dan bala ’. Untuk
dijadikan toriqoh kepada Allah.
Jadi pada intinya; bukan maksiat menjadi ibadah,
tidak. Tapi, bagaimana maksiat itu bisa dijadikan
toriqoh ubudiyah yang tusilu ilallah.
Bagi Pengamal Wahidiyah yang telah dididik Mbah
Yahi, ketika menghadapi maksiat, taat, nikmat dan
bala ’. Atau ketika ia dikuasai nafsu, sangat
dikhawatirkan ia tidak bisa memanfaatkan keadaan-
keadaan tersebut jadi toriqoh ilallah. Yang lebih
menghawatirkan lagi apabila taatnya menjadi
maksiat, bala ’ menjadi maksiat, karena dirinya
dikuasai oleh hawa nafsu.
Padahal Mbah Yahi telah mendidik agar kita tidak
perlu khawatir lagi menyikapi nikmat taat, maksiat,
bala ’ ini. Sebab jika kita benar-benar tidak dikuasai
hawa nafsu, maka semua keadaan itu bisa untuk
dijadikan toriqoh ilallah. Insya Allah Pengamal
Wahidiyah yang telah dididik Mbah Yahi sudah
mampu demikian dengan idzin-Nya.
Namun walau ilmiahnya mudah, dipandang
mampu, tapi kalau hatinya dikuasai nafsu, sangat
dikhawatirkan taatnya menjadi maksiat, apalagi
maksiatnya. Nikmatnya jadi maksiat, jadi siksa dan
juga bala ’nya senantiasa menjerumuskan.
Apabila kondisi seseorang dikuasai nafsu, maka
orang ini jelas sudah buta mata hatinya. Ia sudah
tidak bisa membedakan mana yang untuk
mendekatkan diri kepada Allah, mana yang bukan.
Dengan amal taatnya, ia taajjub, bangga dan merasa
bahwa “aku bisa beramal”. Bisa beramalnya bukan
karena anugerah dari Allah, sebaliknya, ia bangga,
taajjub bit-toatihi. Dia tidak lagi memandang bahwa
bisa beramal itu adalah minnatun minallah.
Wa tasiru fil maksiat…., dan ketika ia terjerumus
kedalam keadaan yang demikian, ia malah terus
enak-enakan tanpa menyadari bahwa dirinya dalam
kondisi maksiat. Ia tidak segera keluar dari keadaan
itu dan cepat-cepat tobat.
Wa tastaqilla…, dan ketika ia mendapat nikmat, ia
juga menganggap bahwa nikmat yang diberikan
kepadanya itu cuman sedikit. Akhirnya ia tidak mau
bersyukur kepada Allah, bahkan terus-menerus
ngersulo, mengeluh.
Wa jazaa fil baliyat…, ia juga hanya merasa susah,
ketika keadaanya sedang dicoba. Sebaliknya ia tidak
segera tobat.
Karena itulah sangat dikhawatirkan, bahwa
Pengamal Wahidiyah yang sedang dikuasai nafsu,
ketika menyikapi taat, maksiat, nikmat dan baliyat
(bala ’) akan terjerumus seperti yang disebutkan
diatas tadi.
Karena itu, kita dalam kehidupan ini, mari kita
koreksi. Apakah keadaan kita lebih banyak taatnya,
atau lebih banyak maksiatnya.
Kita juga harus menyadari, bahwa kita ini tidak bisa
lepas dari nikmat Allah. Akan tetapi, didalam nikmat
itu sesungguhnya ada bala ’ atau musibah. Yang
dimaksud musibah disini adalah ketika nikmat itu
sesungguhnya kita aku sendiri, bukan dari Allah.
Dan kita menyalahgunakan nikmat itu bukan untuk
toriqoh inallah. Inilah yang dimaksud musibah.
Karena itulah, kita dididik oleh Mbah Yahi, bagaimana
agar kita tidak bingung, jangan sampai jumbuh
istilah disini, bingung, tidak mampu menggunakan
melaksanakan taat untuk toriqoh ilallah. Karena
itulah, apabila kita mendapat nikmat, bisa taat, maka
janganlah diaku, tapi harus billah, bahwa ini semata-
mata adalah anugerah Allah SWT. Kita juga harus
terus bersyukur, terus berdepe-depe dan tobat
memohon ampun kepada-Nya. Begitu juga, apabila
kita ‘diberi’ maksiat, jangan susah. Karena itu qadha-
qodhar-Nya Allah. Tetapi susahlah pada
perbuatanya, nangis, tobat kepada Allah SWT. Dan
apabila mendapat nikmat ya disyukuri: ”Dan
sekiranya kamu menghitung-hitung nikmat yang
telah diberikan Allah, niscaya kamu tidak akan
mampu menghitungnya. ” (QS. Ibrahim: 34).
Nikmatnya Allah itu tidak bisa dihitung. Karenanya,
Allah hanya meminta kita untuk mensyukurinya.
Dan apabila kita mendapat baliyat atau cobaan, kita
harus sadar bahwa ini adalah peringatan dari Allah.
Iya kalau cobaan itu yang ngelaraake teng nafsu
(menyusahkan/ menyakitkan pada nafsu). Tapi,
kalau cobaan itu jutru yang mengenakkan nafsu kita,
kita terlena nanti. Di coba sakit, dicoba jatuh usaha
kita, ini biasanya kita tahu. Tapi, kalau kita dicoba
kaya, ampuh, kita ndak tahu … Hingga cobaan itu
membuat kita bingung, tidak bisa menggunakannya
untuk tusilu ilallah SWT. Hati-hati … dan harus lebih
hati-hati lagi, ketika hawa nafsu itu menguasai kita,
hingga kita berani mengaku bisa beramal ibadah.
Bahkan, jika hati kita sudah tertutup oleh nafsu,
maka kita akan enak-enakkan didalam maksiat,
sehingga nikmat yang banyak yang kita terima dari
Allah SWT, tidak bisa kita rasakan. Begitu juga
baliyat (bala ’) yang sebenarnya sifatnya peringatan
dari Allah, justru dianggapnya sebagai siksa.
Juga ada dawuh, laa yukhafu alaika… (sudah tidak
dikhawatirkan lagi…). Maksud dawuh ini adalah ‘tidak
dikhawatirkan bingung’ membedakan antara mana
perbuatan maksiat dan mana perbuatan taat. Juga
tidak dikhawatirkan bingung memilih, mana ketaatan
yang harus lebih diutamakan, mana yang tidak.
Tapi bahasanya di sini, adalah ‘dikhawatirkan
bingung’ memilih, antara meksiat dan perbuatan taat
untuk digunakan toriqoh kepada Allah.
Sekarang bagi Pengamal Wahidiyah, sudah tidak
dikhawatirkan lagi bingung memilih mana yang
lebih penting dan manfaat, mana yang tidak. Karena
pengamal sudah dewasa, sudah bisa taqdimul
aham fal aham tsumal anfa ’ fal anfa’. Tidak
dikhawatirkan bingung memilih diantara amal-amal
yang tusilu ilallah. Seperti shalat, syiam (puasa),
zakat, dzikir dan sebagainya. Sudah tidak
dikhawatirkan bingung memilih mana yang lebih
utama, yang lebih aham, dan yang labih anfa ’.
Karena kita sudah diberi taqdimul aham fal aham
tsumal anfa ’ fal anfa’.
Tetapi, apabila kita dikuasai hawa nafsu, pasti kita
menjadi bingung untuk memilih; mana yang lebih
utama, mana yang tidak. Sehingga dalam
melakukan amal perbuatan tidak istiqomah.
Terkadang mengerjakan yang ini, terkadang yang
itu. Terus …. Begitu. Kadang-kadang, mempeng,
giat. Kadang tidak sama sekali. Ia bingung karepe
dewe (bingung sendiri/ tanpa sebab). Oleh karena
hatinya terombang-ambing nafsunya. Mengamalkan
amalan yang ini, ia tidak merasakan ada atsar di
hatinya. Semakin ia mempeng (sungguh-sungguh),
justru semakin gelap hatinya dari Allah. Bahkan
saking bingungnya, kembali ia ganti amalan lagi,
kemudian ganti lagi, dan seterusnya. Tetapi yang ia
dapat bukan rasa nikmat dalam hati, namun
hanyalah rasa kesel nggak ada hasilnya … Sebab apa?
Sebab ia tidak memilih mana yang lebih aula, lebi
anfa ’ dan lebih aman.
Orang yang demikian ini, biasanya adalah orang-
orang yang tidak dalam bimbingan Asy Syaikhul
Kamil Mukamil. Kerena tidak mendapat bimbingan
Syaikh Kamil Mukamil, maka hatinya dikusai nafsu.
Akibatnya, ia bingung memilih; mana yang aula atau
aham, mana yang tidak.
Oleh karena dirinya dikuasai nafsu, maka hatinya
tercegah, tertutup untuk melihat jalan yang terbaik
yang mestinya ia gunakan untuk toriqoh ilallah
SWT. Maka saat ia mencari amalan, hanyalah
amalan yang sifatnya agar bisa mendekatkan diri
kepada Allah. Itu saja. Tetapi ia sendiri tidak mampu
membedakan mana amalan yang sungguh-
sungguh efektif, atsar-nya banyak, dan mampu
tusilu ilallah. Pokoknya, amalan yang bisa mendekat
kepada Allah, ya diamalkan.
Karena ia mendapatkan amalanya hanya asal-asalan,
kemudian ‘pokoknya mengamalkan’, tidak ada
bimbingan guru Kamil Mukamil, hatinya dikuasai
nasu pisan, hal ini membuat hatinya semakin gelap,
hingga ia tidak bisa melihat mana yang aham, mana
yang anfa ’. Akhirnya, perjalanan ruhaninya menuju
Allah, kembali dari awal, dari bawah lagi.
Namun demikian. Walaupun ia tidak mampu
memilih mana yang aham dan mana yang anfa’,
oleh karena ia terus mengamalkan amalan yang
didapatnya itu, akhirnya Allah pun menolong, hatta
yajmuka … Sehingga kamu dipertemukan dengan
guru Kamil Mukamil yang memberikan bimbingan
dan menunjukkan kamu untuk menuju Allah SWT.
Dan akhirnya kamu di dalam bimbingan seorang
guru Syaikh Kamil Mukamil itu.
Bagi kita Pengamal Wahidiyah, ini sangat penting
sekali. Jangan sampai kita terpeleset. Kita menjadi
pengamal sudah lama sekali. Apalagi kita sudah
pengamal sejak kecil hingga besar seperti sekarang
ini. Jangan sampai, kalau diajak ngomong ajaran
kayak-kayak alim, kayak menguasai ilmu toriqoh,
ilmu lillah dan billah. Tapi, setelah itu selesai. Cuma
ngomong-omong saja, namun hatinya tidak
dredeg, tidak bergetar sama sekali seperti
omonganya. Sebaliknya, kalau diomongi, ganti
nyembur, ganti ngomongi. Namun hatinya jauh
dari apa yang dibicarakan. Hingga ketika ia
menghadapi empat masalah seperti dalam bahasan
diatas, ia bingung; mana yang diamalkan. Justru ia
terus gonta-ganti amalan; ngamalkan ini, kemudian
ganti ngamalkan itu, terus ganti lagi ngamalkan yang
ini. Karena hati kita telah dikuasai nafsu.
Bahkan mungkin juga, hanya doa saja yang ia
amalkan; pengen surga, pengen jauh dari neraka,
pengen ini dan itu, sehingga tujuan yang utama
yaitu wushul kepada Allah kalah di tengah jalan,
kalah dengan kebutuhan ekonominya. Begitulah
kalau hati kita telah dikuasai nafsu. Hati kita
terombang-ambing, hingga kita selalu gonta-ganti
amalan. Suatu saat mengamalkan ini, suatu saat
tidak. Hingga jadinya tidak istiqomah.
Begitu juga, meski yang diamalkan jelas-jelas
amalan Wahidiyah, namun karena ia tidak pernah
datang di jama ’ah, tidak pernah Usbu’iyah, tidak
pernah datang di Rubu’usanah, hingga tidak ada
penjelasan-penjelasan yang membawa dia untuk
tusilu ilallah, sama dengan tidak dibimbing oleh
Syaik Kamil Mukamil, maka ia pun tetap akan
merasakan kebingungan. Akhirnya ia hanya bisa
ngamuk, menuruti nafsunya sendiri. Pokoknya dia
mengamalkan … Hati-hati, jangan-jangan yang
dikhawatirkan oleh mushannif (penyusun Kitab Al
Hikam), atau Mualif Shalawat Wahidiyah ini terjadi
pada pengamal Wahidiyah yang lama.. mari kita
koreksi diri kita sendiri.. Allahu a ’lam Al Fatihah…
Pengajian Al Hikam Oleh: Hadrotul Mukarrom Romo
KH. Abdul Latif Madjid, RA.

Sabtu, 15 Januari 2011

IMAN : Tidak hanya dengan Ucapan

Dan sebagian di antara manusia ada yang
mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan hari
akhir, sedangkan mereka sebenarnya tiada beriman.
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang
beriman. Padahal mereka tiada menipu kecuali
menipu pada mereka sendiri, sedangkan mereka
tidak menyadari. ” (QS. Al Baqarah: 8-9).
Jumlah ayat tentang orang-orang berian kurang
lebih empat ayat, yaitu mulai ayat 2 hingga ayat 5.
Uraian mengenai orang beriman tersebut tergolong
banyak karena untuk memberikan penerangan
kepada manusia, khususnya kepada mereka yang
mengimani Al Qur ’an tentang bagaimana agar
seseorang menjadi mukmin yang sejati.
Selanjutnya Allah SWT memberikan uraian
mengenai orang kafir jalli (Kafir yang terang-
terangan) secara singkat. Uraian tersebut hanya dua
ayat, yaitu ayat 6 dan 7. Hal ini karena kaum kafir
sangat jelas karakter dan wataknya. Mereka
sedemikian mudah dikenal sehingga cukup dengan
uraian yang singkat saja. Tanpa banyak
penyelidikan, kita bisa melihat bahwa orang-orang
semacam Abu Jahal atau Abu Lahab adalah kafir.
Karena mereka secara terang-terangan menyatakan
kekafiran mereka.
Selanjutnya, kita akan memasuki pembahasan
keterangan Allah mengenai orang munafik. Yaitu
mereka yang pada dasarnya kafir namun
menampakkan diri sebagai orang beriman. Ayat
mengenai orang munafik ini cukup banyak. Yaitu
berjumlah 13 ayat yang membentang mulai ayat 8
hingga 20 dari surat Al Baqarah ini.
Uraian mengenai kaum munafik sedemikian banyak.
Hal ini karena beberapa sebab.
Yang Pertama, adalah bahwa dosa munafik adalah
dosa yang sangat besar. Bahkan lebih besar dari
dosa kafir yang terang-terangan. Hal ini karena
dalam Al Qur ’an kaum munafik diancam dengan
neraka lapisan terbawah. Sementara kaum kafir
biasa tidak masuk ke dalam lapisan paling bawah.
Namun di atas lapisan kaum munafik. Karena itulah
Allah menjelaskan keberadaan kaum munafik ini
secara terperinci agar manusia tidak jatuh ke dalam
jurang kemunafikan.
Yang kedua, adalah bahwa sifat-sifat munafik
tersebut sangat samar. Karena samarnya tersebut,
Rasulullah SAW menjelaskan, bahwa bisa jadi
seseorang itu melakukan shalat, berpuasa dan
bahkan menyangka dirinya seorang muslim.
Namun dalam pandangan Allah, ternyata ia seorang
munafik. Karena itulah, mengenal hal-hal yang
menyebabkan seseorang menjadi munafik
sangatlah penting agar seseorang terjaga dari sifat
munafik tersebut.
Ketiga, kerusakan yang di timbulkan oleh
kemunafikan ini sangatlah besar. Bahkan jauh lebih
besar dari mereka yang kafir secara terang-
terangan. Pada masa Rasulullah SAW, kaum
munafik nyaris bisa menimbulkan perang saudara
sesama mukmin akibat adu domba mereka. Hanya
karena pertolongan Allah-lah kaum muslimin saat itu
selamat dari perang saudara.
Upaya kaum munafik ini terus berlangsung. Namun
pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, upaya
mereka terhalang. Pada masa Khalifah Utsman,
kaum munafik yang dipelopori oleh Abdullah bin
Saba ’ berhasil membuat kekacauan yang berakibat
terbunuhnya Khalifah Utsman. Pada masa Khalifah
Ali, kaum munafik menimbulkan perang Jamal yang
merenggut nyawa puluhan ribu kaum muslimin.
Bukan hanya itu, kaum munafik juga telah
membidani lahirnya berbagai aliran sesat dalam
Islam. Upaya kaum munafik yang besar di abad XX
adalah runtuhnya Kekhalifahan Islam Turki Utsmani.
Setelah persenjataan tidak mampu menghancurkan
Khilafah Islam, mereka menyusup orang-orang
munafik yang melakukan pembusukan yang
mengakibatkan runtuhnya Khilafah Islam.
Pada ayat di atas, Allah memberitahukan bahwa ada
manusia yang menyatakan bahwa mereka beriman
kepada Allah dan hari akhir. Padahal sebenaranya
tiada sebiji atom pun iman dalam hati mereka.
Ayat diatas menyiratkan beberapa hal,
Pertama, adalah bahwa keimanan dalam pandangan
Allah tidak cukup dengan ucapan lisan. Namun
harus bermula dari keyakinan di dalam hati, yang
kemudian diucapkan dengan lisan. Walaupun
demikian, setiap orang yang sudah mengikrarkan
keimanan, harus diperlakukan sebagai orang Islam.
Walaupun mungkin dia adalah seorang munafik.
Kedua, adalah bahwa keyakinan kepada Allah dan
hari akhir itupun tidak cukup untuk menjadikan
seseorang menjadi mukmin. Namun harus disertai
dengan beriman kepada Rasulullah SAW serta
seluruh cabang-cabang keimanan yang lain. Hal ini
perlu disampaikan karena pada umumnya mereka
yang munafik adalah kaum Yahudi. Mereka
beranggapan bahwa walaupun mereka Yahudi
namun mereka mukmin, karena mereka beriman
kepada Allah dan hari akhir. Padahal itu tidaklah
cukup. Mereka harus juga beriman kepada
Rasulullah SAW serta semua yang beliau
sampaikan. Rasulullah SAW bersabda,”Andaikan
Musa dan Isa hidup, maka tiada keleluasaan bagi
keduanya kecuali mengikuti. ” (HR. Ahmad).
Ketiga, adalah bahwa salah satu watak orang
munafik adalah suka berbicara dan menjelaskan
bahwa ia adalah orang beriman. Mereka melakukan
hal ini adalah untuk mencari kedudukan di hadapan
manusia. Walaupun sebenarnya mereka memiliki
misi dan tujuan tersembunyi untuk menghancurkan
Islam. Atau juga bisa jadi mereka melakukan semua
itu karena mereka merasa sebagai orang beriman
dan mempunyai maqam yang tinggi. Padahal, sikap
mukmin yang sejati adalah selalu merendah dan
merasa dhalim. Sebagaimana Nabi Yunus yang
berdoa, ”Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci
Engkau yaa Allah. Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang dhalim. ”Rasulullah SAW juga
bersabda,”Yaa Allah! Ampunilah aku, terimalah
taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha menerima
taubat serta Maha Menyayangi. ”
Pada ayat 9, Allah menjelaskan bahwa kaum
munafik melakukan semua itu karena mereka
merasa bahwa Allah itu bisa mereka tipu dan
mereka perdayai. Mereka tidak menyadari bahwa
Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu. Kaum
munafik beranggapan bahwa dengan cara itu
mereka bisa menipu orang-orang beriman. Padahal
sebenarnya orang beriman dapat mengetahui kalau
mereka itu munafik karena sifat-sifat mereka yang
mudah dikenali. Yang dimaksud orang beriman
disini adalah mereka yang beriman secara
sempurna. Dengan pandangan spiritual yang tajam,
para pemilik keimanan tersebut dapat mengenali
kemunafikan pada seseorang.
Justru dalam keterangan ayat di atas, kita dapat
melihat bahwa mereka sebenarnya tertipu oleh
perilaku mereka sendiri. Mereka beranggapan bahwa
mereka akan mendapat sesuatu yang berharga dari
kemunafikkan mereka. Padahal sebenarnya,
kesulitan dan adzab Allah yang pedih menanti
mereka. Dan adzab Allah kepada mereka pun bukan
sekedar adzab. Namun adzab yang terpedih dari
siksa yang di timpakan kepada makhluk Allah yang
ada. Allahu a ’lam

KEAJAIBAB : Tanda Kiamat Yang Berkelanjutan

Keajaiban demi keajaiban mulai terjadi di dunia kita
hari ini. Dan memang, di antara keajaiban-keajaiban
yang beruntun ”Peristiwa –peristiwa ajaib laksana
untaian kalung, saling berdekatan satu sama lainya.”
kata Nabi ketika menjelaskan tanda-tanda kiamat
yang menakjubkan.
Di sekeliling kita, banyak keajaiban yang dianggap
hal biasa. Beberapa tahun silam, pandangan mata
dunia tertuju pada pasangan kembar siam asal Iran,
Laleh dan Laden. Di negeri ini, kita punya pasangan
Dwipayana-Dwipayani (Bali), Rahmadina-Rahmadani
(Jombang). Bahkan ada juga beberapa bayi lahir
yang tidak memiliki anus, yang ada tanduknya, dan
lain-lainya naudzubillah!
Yang pasti, ini adalah keajaiban penciptaan. Untuk
menunjukkan bahwa Allah berkuasa menciptakan
segala sesuatu dengan segala kemungkinannya.
Tetapi, peristiwa itu semestinya memberi begitu
banyak kesadaran yang sering luntur oleh rutinitas
kesibukan dunia. Ketika segala sesuatu yang ada
adalah keajaiban, tetapi itu seringkali terlalu terasa
biasa bagi kebanyakan orang. Lantaran semuanya
berjalan normal, sesuai hukum alam yang berlaku.
Sebuah ‘amuk’ alam yang akhir-akhir ini sering
terjadi di Negara kita, bukan tak punya keajaiban.
Hanya saja manusia modern sekarang ini seperti
tumpul ketajaman batinya atas segala sesuatu yang
rutin dan terkesan biasa-biasa saja. Padahal segala
yang ada selalu punya misteri dan rahasia
penciptaanya. Manusia, mungkin merasa mampu
mengadakan hal yang baru. Tapi hakekatnya ia tidak
mencipta. Ia hanya merekacipta. Ia hanya merakit
apa yang ada menjadi wujud sesuatu yang baru.
Sedang hakekat yang menciptakan adalah Allah
(Billah).
Allah Yang Maha Mencipta menghamparkan untuk
kita berjuta keajaiban melalui penciptaan dengan
segala proses, hasil dan fenomenanya. Seperti:
gunung meletus dan wedus gembelnya, gempa
dan gelombang Tsunami, lumpur menyembur dari
perut bumi, angin puting beliung memporak-
porandakan segala yang ditemuinya, longsor
mengubur ratusan bahkan ribuan nyawa, dan
sebagainya.
Melihat keajaiban-keajaiban itu, bukan sekedar
membelalakan mata kemudian terpaku sesaat di
hadapan hal yang menakjubkan itu tanpa pesan
spiritual. Harusnya ada tergambar dengan jelas pada
keajaiban itu keagungan Allah dan kekuasaan-Nya.
Sehingga akan keluar kata-kata pujian kepada
kebesaran Allah. Bahkan, keajaiban itu seharusnya
menjadi ajang latihan kita untuk meningkatkan iman
kepada-Nya. Agar kita tidak angkuh, dan menyadari
bahwa betapa Maha Besarnya Allah.
Memang, banyak orang yang berubah menjadi
sadar setelah menyaksikan peristiwa yang
menakjubkan. Ia bisa menyadari kedhalimanya.
Tetapi banyak juga manusia yang menyaksikan
sesuatu yang luar biasa itu, kemudian
menganggapnya sebagai hal yang biasa.
Ini yang terjadi di ‘kampung’ kita Indonesia ini. Saat
kita belum juga sadar, bahkan setelah di tunjukkan
keajaiban-keajaiban-Nya, Allah masih saja
menunjukkan welas asih-Nya kepada kita dengan
cara lain. Kali ini, Asma-Nya kerapkali tampak pada
beberapa peristiwa. Seperti: semburan api saat pipa
gas Pertamina meledak di bawah lumpur Lapindo
berbentuk Lafadz Allah. Juga lafadz Allah di dalam
bola bowling, di dalam daging kurban, dan
sebagainya. Bahkan pada tanggal 17 februari 2007
yang silam, seorang warga Tangerang melihat
dengan mata telanjang (selama kurang lebih 10
menit): awan putih berbentuk lafadz Allah. Di
Karawang Jawa Barat, pada bulan Maretnya, seekor
anak kambing baru lahir menjadi tontonan warga,
karena lafadz Allah di bagian kanan tubuhnya dan
lafadz Muhammad di bagian kirinya.
Subhanallah! Maha Suci Allah, Yang Berkuasa
menciptakan segala sesuatu dengan keajaibanya.
Keajaiban penciptaan yang kemudian mengantarkan
pada keajaiban lain; keajaiban kehidupan. Tetapi
intinya Cuma satu; agar kita segera sadar kepada
Allah! Fafirruu Ilallah!
Kita jangan sampai menjadi seperti orang musyrik
Quraisy yang telah menyaksikan keajaiban. Malah
justru menjadikan mereka semakin mendustakan
kebenaran. Bukan membuat mereka beriman,
malah semakin menjauhkan mereka dari Islam.
Mereka sendiri sebenarnya meminta agar
diperlihatkan kemukjizatan Rasul dengan membelah
bulan. Pada malam purnama itu Nabi menggerakan
jarinya ke langit, dan terbelahlah bulan. Belahan
bulan Nampak di balik bukit, sedang belahanya yang
lain Nampak di balik bukit yang lain. Mereka yang
tercengang menyaksikan keajaiban itu bukan
menyadari kesalahan mereka selama ini dan
kebenaran Rasul, tapi justru semakin menghina
Nabi. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam surat
Al Qamar: 1 2: ”Telah dekat (datangnya) saat itu dan
telah terbeah bulan. Dan jika mereka (orang
musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat) mereka
berpaling dan berkata: (ini adalah) sihir yang terus-
menerus. ”
Jika keajaiban-keajaiban yang kerap muncul di
sekeliling kita itu, tak jua menyadarkan. Adalah ibarat
seember air panas yang tak juga membakar
tenggorokan. Bukan air itu kurang panas, tapi
kerongkongan kita yang kelewat bebal.
Disinilah saatnya kita membuktikan seberapa jernih
hati kita. Seberapa peka batin kita menangkap
isyarat-isyarat dari ‘langit’. Seberapa besar
kepasrahan kita kepada yang memiliki alam
semesta. Seberapa besar getar hati kita saat
menyaksikan keajaiban. Wallahu a ’lam

KEAJAIBAB : Tanda Kiamat Yang Berkelanjutan

Keajaiban demi keajaiban mulai terjadi di dunia kita
hari ini. Dan memang, di antara keajaiban-keajaiban
yang beruntun ”Peristiwa –peristiwa ajaib laksana
untaian kalung, saling berdekatan satu sama lainya.”
kata Nabi ketika menjelaskan tanda-tanda kiamat
yang menakjubkan.
Di sekeliling kita, banyak keajaiban yang dianggap
hal biasa. Beberapa tahun silam, pandangan mata
dunia tertuju pada pasangan kembar siam asal Iran,
Laleh dan Laden. Di negeri ini, kita punya pasangan
Dwipayana-Dwipayani (Bali), Rahmadina-Rahmadani
(Jombang). Bahkan ada juga beberapa bayi lahir
yang tidak memiliki anus, yang ada tanduknya, dan
lain-lainya naudzubillah!
Yang pasti, ini adalah keajaiban penciptaan. Untuk
menunjukkan bahwa Allah berkuasa menciptakan
segala sesuatu dengan segala kemungkinannya.
Tetapi, peristiwa itu semestinya memberi begitu
banyak kesadaran yang sering luntur oleh rutinitas
kesibukan dunia. Ketika segala sesuatu yang ada
adalah keajaiban, tetapi itu seringkali terlalu terasa
biasa bagi kebanyakan orang. Lantaran semuanya
berjalan normal, sesuai hukum alam yang berlaku.
Sebuah ‘amuk’ alam yang akhir-akhir ini sering
terjadi di Negara kita, bukan tak punya keajaiban.
Hanya saja manusia modern sekarang ini seperti
tumpul ketajaman batinya atas segala sesuatu yang
rutin dan terkesan biasa-biasa saja. Padahal segala
yang ada selalu punya misteri dan rahasia
penciptaanya. Manusia, mungkin merasa mampu
mengadakan hal yang baru. Tapi hakekatnya ia tidak
mencipta. Ia hanya merekacipta. Ia hanya merakit
apa yang ada menjadi wujud sesuatu yang baru.
Sedang hakekat yang menciptakan adalah Allah
(Billah).
Allah Yang Maha Mencipta menghamparkan untuk
kita berjuta keajaiban melalui penciptaan dengan
segala proses, hasil dan fenomenanya. Seperti:
gunung meletus dan wedus gembelnya, gempa
dan gelombang Tsunami, lumpur menyembur dari
perut bumi, angin puting beliung memporak-
porandakan segala yang ditemuinya, longsor
mengubur ratusan bahkan ribuan nyawa, dan
sebagainya.
Melihat keajaiban-keajaiban itu, bukan sekedar
membelalakan mata kemudian terpaku sesaat di
hadapan hal yang menakjubkan itu tanpa pesan
spiritual. Harusnya ada tergambar dengan jelas pada
keajaiban itu keagungan Allah dan kekuasaan-Nya.
Sehingga akan keluar kata-kata pujian kepada
kebesaran Allah. Bahkan, keajaiban itu seharusnya
menjadi ajang latihan kita untuk meningkatkan iman
kepada-Nya. Agar kita tidak angkuh, dan menyadari
bahwa betapa Maha Besarnya Allah.
Memang, banyak orang yang berubah menjadi
sadar setelah menyaksikan peristiwa yang
menakjubkan. Ia bisa menyadari kedhalimanya.
Tetapi banyak juga manusia yang menyaksikan
sesuatu yang luar biasa itu, kemudian
menganggapnya sebagai hal yang biasa.
Ini yang terjadi di ‘kampung’ kita Indonesia ini. Saat
kita belum juga sadar, bahkan setelah di tunjukkan
keajaiban-keajaiban-Nya, Allah masih saja
menunjukkan welas asih-Nya kepada kita dengan
cara lain. Kali ini, Asma-Nya kerapkali tampak pada
beberapa peristiwa. Seperti: semburan api saat pipa
gas Pertamina meledak di bawah lumpur Lapindo
berbentuk Lafadz Allah. Juga lafadz Allah di dalam
bola bowling, di dalam daging kurban, dan
sebagainya. Bahkan pada tanggal 17 februari 2007
yang silam, seorang warga Tangerang melihat
dengan mata telanjang (selama kurang lebih 10
menit): awan putih berbentuk lafadz Allah. Di
Karawang Jawa Barat, pada bulan Maretnya, seekor
anak kambing baru lahir menjadi tontonan warga,
karena lafadz Allah di bagian kanan tubuhnya dan
lafadz Muhammad di bagian kirinya.
Subhanallah! Maha Suci Allah, Yang Berkuasa
menciptakan segala sesuatu dengan keajaibanya.
Keajaiban penciptaan yang kemudian mengantarkan
pada keajaiban lain; keajaiban kehidupan. Tetapi
intinya Cuma satu; agar kita segera sadar kepada
Allah! Fafirruu Ilallah!
Kita jangan sampai menjadi seperti orang musyrik
Quraisy yang telah menyaksikan keajaiban. Malah
justru menjadikan mereka semakin mendustakan
kebenaran. Bukan membuat mereka beriman,
malah semakin menjauhkan mereka dari Islam.
Mereka sendiri sebenarnya meminta agar
diperlihatkan kemukjizatan Rasul dengan membelah
bulan. Pada malam purnama itu Nabi menggerakan
jarinya ke langit, dan terbelahlah bulan. Belahan
bulan Nampak di balik bukit, sedang belahanya yang
lain Nampak di balik bukit yang lain. Mereka yang
tercengang menyaksikan keajaiban itu bukan
menyadari kesalahan mereka selama ini dan
kebenaran Rasul, tapi justru semakin menghina
Nabi. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam surat
Al Qamar: 1 2: ”Telah dekat (datangnya) saat itu dan
telah terbeah bulan. Dan jika mereka (orang
musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat) mereka
berpaling dan berkata: (ini adalah) sihir yang terus-
menerus. ”
Jika keajaiban-keajaiban yang kerap muncul di
sekeliling kita itu, tak jua menyadarkan. Adalah ibarat
seember air panas yang tak juga membakar
tenggorokan. Bukan air itu kurang panas, tapi
kerongkongan kita yang kelewat bebal.
Disinilah saatnya kita membuktikan seberapa jernih
hati kita. Seberapa peka batin kita menangkap
isyarat-isyarat dari ‘langit’. Seberapa besar
kepasrahan kita kepada yang memiliki alam
semesta. Seberapa besar getar hati kita saat
menyaksikan keajaiban. Wallahu a ’lam

Rabu, 05 Januari 2011

DIDALAM BALA' ADA BELAS KASIH ALLOH

”Siapa yang mengira terlepas nikmat karunia Allah
daripada bala’ ujian yang ditakdirkan oleh Allah,
maka yang demikian itu disebabkan karena piciknya
(dangkalnya) pandangan Allah. ” (Al-Hikam: 116).
Barangsiapa yang menganggap bahwa qadar-Nya
Allah yang sifatnya menyakitkan, didalamnya tidak
ada belas kasihan Allah. Anggapan atau pendapat
pemikiran yang demikian ini menunjukan bahwa
fikiranya sangat kurang, naqis (tidak sempurna),
atau bahkan kalau perlu dikatakan “salah”. Karena
apa?
Jika kita mampu berfikir dengan tepat, tafakur sesaat
hingga kita mampu menerobos rahasia yang
terkandung dalam bala ’, cobaan atau sesuatu yang
tidak meng-enakkan, maka di sana kita pasti
menemukan, bahwa ketika kita mendapat bala’ itu,
sesungguhnya terdapat Al- Thofun Katsirotun (belas
kasihan Allah yang sangat banyak sekali). Jika kita
tidak bisa melihat, berarti fikiran kita ini masih
terhijab atau belum mampu menerobos rahasia
yang terkandung dalam bala ’ atau qadar-Nya Allah
itu. Apa saja belas kasihan-Nya itu?
Di antara belas kasihan Allah yang terdapat dalam
qadhar-Nya yang berupa cobaan atau bala ’, adalah
seseorang bisa menjadikan hatinya terus berdepe-
depe menangis menghadap ke Hadirat Allah SWT,
memohon pertolongan-Nya karena bala ’ yang
dicobakan Allah kepadanya. Hati yang berdepe-depe
dan menangis kepada Allah itu merupakan peristiwa
yang menjadikan perlawanan kepada semua
kehendak nafsu. Yang menjadikan lemahnya
syahwat nafsu.
Dan setiap sesuatu yang dapat menggoyahkan dan
melemahkan nafsu, itu adalah sesuatu yang sangat
mulia. Termasuk cobaan tadi, bila menyebabkan hati
lebih depe-depe, mendekat kepada Allah. Dengan
demikian, ia bisa tetap di dalam bab-Nya Allah
bahkan ia bisa ngungsi (menuju) mohon
pertolongan kepada Allah.
Dan disini disebutkan, raziyatun; sebesar-besarnya
faedah dari adanya bala ’. yakni seseorang yang
menerima bala’ itu ‘menemukan’ dirinya, dan dapat
memegang “ a’dhamu fawaid” ketika mendapat
bala’.
Ketika seseorang mendapat bala’ yang sangat berat,
sesungguhnya ia mendapati dirinya kembali pada
jati diri yang sebenarnya. Sebab, bala ’ itu
mengandung a’dhamu fawaid (sebesar-besarnya
faedah) bagi dirinya didalam menuju sadar kepada
Allah.
Dan lagi. Diantara faedah lain dari adanya bala’ yang
menimpa seseorang, yaitu nafsu menjadi lemah
tidak berkutik, hilangnya kekuatan nafsu dan
rusaknya sifat-sifat nafsu yang dapat menjatuhkan
seorang hamba kepada dosa dan maksiat. Juga bisa
menghilangkan rasa kecintaan seseorang pada
kesenangan dunia.
Jadi, sifat-sifat nafsu yang tadinya selalu mendorong
seorang hamba untuk berbuat dosa dan maksiat,
serta mempengaruhi hati untuk selalu cinta dunia,
menjadi lemah justru akibat dari adanya bala ’ itu
tadi.
Dan juga, di antara faedah lain dari adanya bala’,
yaitu ketika seseorang menerima bala’, hatinya akan
taat kepada Allah. Hingga ia bisa sadar dan ridha
serta tawakal. Dengan keadaan itu kemudian
tumbuhlah sifat zuhud dan suka berjumpa
denganAllah. Ini adalah akibat dari bala ’ itu tadi
karena itu di dawuhkan:
“Se-dzarroh (sebiji atom) nilai ibadahnya ‘hati’, itu
lebih bagus dari pada segunung ibadah lahiriyah.”
Yang demikian itu tadi adalah sebagai tebusan atas
dosa-dosa dan kesalahan, juga merupakan belas
kasihan Allah yang bersifat Ilahiyah.
Karena itulah, jangan sekali-kali ketika kita di coba
Allah dengan musibah, apa saja, menganggap Allah
tidak belas-kasihan kepada kita. Sebab, di dalam
cobaan itu, disana terkandung belas-kasihan Allah
yang sangat besar. Hikmah dari cobaan itu banyak
sekali. Karena ada cobaan, orang bisa menyadari
dirinya lemah, orang bisa merasa dhalim, bisa
merasa salah. Juga bisa berdepe-depe kepada Allah,
jika orang itu dapat hidayah. Tapi kalau tidak, dicoba
malah justru ia nggersulo , mengeluh dan
maksiatnya makin menjadi-jadi. Orang seperti ini
termasuk orang yang tertutup hatinya dari hidayah-
Nya Allah SWT.
Karena itu, Ketika kita mendapat cobaan, hendaknya
kita betul-betul melihat atau mengkaji; hikmah apa
yang terkandung didalam bala ’ itu. Jika kita mau
demikian, insya Allah justru dengan adanya bala’ itu
tadi, iman kita semakin meningkat, meningkat dan
meningkat, yang akhirnya kita bisa sampai kepada
Allah SWT.
Karena itu, kita harus waspada sekaligus pandai-
pandailah mengambil hikmah apabila kita ditimpa
cobaan-cobaan yang sifatnya menyakitkan dan
melemahkan nafsu tadi. Karena didalamnya ada
hikmah yang terkandung.
Begitu juga, apabila kita mendapat bala’ atau cobaan
yang sifatnya enak, seperti diberi nikmat, diberi
karomah, diberi rezeki yang luas, diberi kekuasaan
dan sebagainya, sesungguhnya itu semua termasuk
cobaan Allah. Dengan nikmat-nikmat itu, bisakah kita
menerimanya dengan hati penuh iman? Atau,
setelah menerima nikmat itu, apakah kita masih
tetap ingat dan sadar kepada Allah? Atau justru kita
lupa daratan. Istilah Mbah Yahi: Apakah kita mampu
menyikapi cobaan Allah, baik berupa bala ’ maupun
nikmat (yang meng-enakkan) dengan sikap hati-hati
dan terus berdepe-depe kepada Allah SWT,
memohon ampunan atas segala cobaan atas segala
dosa kita? Atau justru kita terperosok bangga
dengan segala apa yang diberikan, hingga kita
terperosok jauh dari Allah SWT.
Untuk itu mari, ketika dalam kehidupan, kita
menemukan masalah-masalah atau cobaan-cobaan,
sikap yang tepat adalah kita harus mengambil
hikmahnya, hingga bala ’ tadi menjadi suatu sarana
untuk meningkat kita kita kepada Allah SWT. Amin..
Wallahu a ’lam

Selasa, 04 Januari 2011

KETIKA DISANJUNG

Semua orang pasti senang bila di sanjung dan di
puji. Namun sanjungan dan pujian yang berlebihan
seringkali dapat menjerumuskan seseorang pada
perbuatan tercela. Orang yang mabuk pujian akan
menganggap dirinya sempurna, terpuji dan
terhormat. Dia akan menilai bahwa derajat dan
kehormatan seseorang ditentukan oleh sedikit
banyaknya orang yang memuji. Jika yang memuji
sedikit, maka derajatnya rendah. Sebaliknya, jika
yang memujinya itu banyak maka dia termasuk
orang yang terhormat dan mulia.
Itulah penilaian orang bodoh, yang hatinya telah
dikuasai oleh luapan hawa nafsu, yang tidak
mengerti makna dan tujuan sanjungan. Sehingga ia
menilai bahwa sanjungan merupakan barometer
untuk mengukur kemuliaan seseorang. Dan
pemikiran inilah yang akhirnya ia melakukan
berbagai cara untuk mendapatkan sanjungan.
Karena itu, hendaknya kita dapat menjaga diri
jangan sampai mabuk sanjungan. Sebab, mabuk
sanjungan dapat membutakan mata hati dan
mengeruhkan akal pikiran, sehingga kita tidak bisa
membedakan kebenaran dan kebatilan. Oleh sebab
itu, kita harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Jangan terlalu bergembira ketika menerima
sanjungan
Hal ini karena tidak sedikit sanjungan itu hanya
merupakan umpan untuk menjerumuskan
seseorang kedalam kehancuran. Seperti pujian yang
diterima ketika melakukan kemaksiatan.
Orang yang berakal sehat dan berhati jernih tidak
akan merasa gembira dengan sanjungan yang
ditujukan kepadanya. Ia sadar bahwa orang yang
menyanjungnya itu hanya menyebutkan kebaikan
saja, sedangkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan
ditutup-tutupi. Ia tidak suka kepada sanjungan dan
pengakuan dari orang lain. Ia lebih suka kritik yang
bersifat konstruktif. Karena hal itu merupakan
penunjuk kekurangan, kesalahan, dari tergelincirnya
amal perbuatan, sehingga dirinya dapat terhindar
dari kesalahan fatal. Dengan demikian, jiwanya akan
tetap suci dari kecongkakan, bersih dari sifat tercela.
2. Jangan membenci kritikan
Banyak orang yang tidak suka di kritik. Di
anggapnya kritikan itu adalah hujatan dan cacian
terhadap dirinya, padahal tidaklah demikian.
Penilaian seperti ini adalah akibat dari mabuk
sanjungan dan pujian sehingga dia benci terhadap
kritikan, meskipun kritikan itu akan mengentaskan
dia dari lumpur kefasikan.
Disamping itu, kedewasaan cara berfikir seseorang
dapat dilihat dari cara dia menerima kritikan. Orang
yang berpengetahuan luas, berakhlak mulia, jernih
hatinya, lapang dadanya dan tawadhu ’ tingkah
lakunya akan senang bila dirinya dikritik dan ditegur
kesalahanya. Baginya, kritikan yang bersifat
konstruktif merupakan teguran terhadap
kesalahanya, sekaligus pelurus pada jalan yang
benar. Ia menilai orang yang mengkritik dirinya itu
adalah orang yang menunjukan rasa simpati
kepadanya, serta menghawatirkan kalau dirinya
terjerumus dalam kesesatan.
Sebaliknya, orang yang berjiwa kerdil, buruk
akhlaknya, sempit hatinya dan tumpul otaknya akan
sangat marah dan tersinggung bila dirinya di kritik.
Sebab kritik yang dilakukan oleh orang lain akan di
anggap sebagai rongrongan dan pengusik
kemapanan dirinya. Bahkan ia tega berbuat kejam
terhadap orang yang mengkritik itu. Maunya ingin
selalu di puji dan di sanjung terus. Meskipun
sanjungan itu berupa ‘duri’ yang menyengat
tenggorokanya. Inilah orang yang matanya telah
tertutup oleh kejahatan sehingga tidak bisa melihat
terangnya sinar matahari.
3. Jangan memuji diri sendiri
Memuji diri sendiri adalah perangai orang bodoh
yang tidak tahu harga dirinya, sehingga ia perlu
memuji dirinya untuk mengangkat martabatnya dan
kehormatanya di hadapan orang lain.
Kita pasti tidak suka mendengar orang lain memuji
dirinya sendiri. Begitu pula orang lain, tidak akan
suka mendengar kita memuji diri kita sendiri. Allah
telah memperingatkan agar seseorang tidk
menganggap dirinya suci dan paling baik.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Maka
janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah
yang paling mengetahui tentang orang yang
bertakwa. ” (QS. An-Najm:32).
Yang berhak nilai baik buruknya seseorang adalah
Allah. Sedangkan orang yang menganggap dirinya
suci, paling mulia, paling baik dan paling terhormat
adalah merupakan bentuk kesombongan yang
melampaui batas. Ia tidak merasa malu mengatakan
demikian di hadapan Allah maupun di hadapan
makhluk-Nya padahal setumpuk kejahilan dan
kejahatan berada di pelupik matanya.
Salah seorang hukama’ pernah ditanya: “Apa
kebenaran yang buruk itu?” Ia menjawab,
“Seseorang yang memuji terhadap dirinya sendiri.”
Letak riya’ dan senang disanjung itu bersumber dari
hati yang dipenuhi noda cela. Ia termasuk penyakit
hati yang bisa menelanjangi amal. Karena itu,
hendaknya kita menaburi jiwa dengan akhlak yang
terpuji, menyingkirkan jauh-jauh perasaan dari
mabuk sanjungan dan kehormatan, karena ini
merupakan tipu daya syetan yang hendak
merontokan amal. Dan jangan lupa untuk selalu
memohon ampunan kepada Allah dari segala noda
yang pernah melekat dalam kalbu serta
memperbanyak mujahadah. Wallahu a ’lam

Minggu, 02 Januari 2011

ILMU,AMAL,HARTA DAN KEKUASAAN SUMBER SUMBER KESOMBONGAN

Dosa pertama yang dilakukan makhluk terhadap
Tuhanya adalah sombong. Pelakunya adalah Iblis,
seteru manusia. Saking sombongnya, Iblis berani
menentang perintah Allah agar mengakui
keunggulan manusia. Kebanggaan terhadap asal-
usul dan rasa senioritas mendorongnya untuk
mengklaim diri sebagai yang paling baik.
Kesombongan, tidak saja menyebabkan Iblis lupa
siapa dirinya, juga lupa terhadap keluhuran
Tuhanya. Ketika Allah dengan sangat murka
mengusirnya, malah dia berani menghujat-Nya.
Alih-alih interopeksi, merenungi dan menyesali
kesalahan, Iblis malah melemparkan kesalahan itu
kepada Allah.
“Ia (syetan) berkata: Oleh karena Engkau (Allah) telah
menyesatkan aku, maka sungguh aku akan
menghalangi mereka (manusia) dari jalan-Mu yang
lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari
depan, belakang, kanan serta kiri. Kemudian Engkau
tidak akan menjumpai kebanyakan mereka itu
benar-benar bersyukur (taat). ” (QS. Al A’raf: 16 17).
Salah satu ciri kesombongan adalah rasa paling
benar sendiri. Dalam hal ini, syetan menganggap
dirinya layaknya Tuhan yang tidak pernah salah. Se-
akan-akan sifat ke-Maha Sempurna-an yang hanya
milik Allah hendak dikudeta. Karenanya, sifat ini
sangat berbahaya jika terjangkit pada manusia. Bila
kesombongan telah mencapai puncaknya, seperti
yang dilakukan Fir ’aun, manusia akan
memproklamirkan diri sebagai Tuhan.
Dengan penuh dendam, Iblis sangat berambisi
untuk menyesatkan sebanyak mungkin manusia
melalui berbagai perangkap yang telah dipasangnya.
Salah satunya adalah sisat sombong yang memang
telah menjadi wataknya. Virus kesombongan itu
setiap saat terus ditularkan kepada siapa saja.
SUMBER-SUMBER KESOMBONGAN
Ada sejumlah celah yang bisa dijadikan alat
perangkap manusia agar bersifat sombong.
Pertama, ILMU PENGETAHUAN. Syetan sanantiasa
menghasut orang-orang yang berilmu agar berlaku
sombong dengan ilmu yang dimilikinya. Mereka
yang terjebak, akan menganggap bahwa dirinya
adalah paling pintar. Sedangkan orang lain dianggap
bodoh dan bermartabat rendah. Akhirnya ia
menjadi gila hormat dan menuntut perlakuan yang
istemewa dari orang lain.
Padahal seharusnya, semakin tinggi ilmu seseorang,
justru semakin rendah hati. Hal ini disebabkan
kesadaranya kepada Allah juga semakin
tinggi. “Sesungguhnya yang paling takut kepada
Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah
ulama ’ (orang-orang berilmu).” (QS. Al Fathir: 28).
Akan tetapi, benar apa yang dikatakan Nabi dalam
hadits riwayat Ad Dailami. Ilmu itu sendiri, jika tidak
disertai hidayah Allah, tidak akan menjadikan dan
menambah dekatnya si pemilik ilmu kepada Allah.
Sehingga, kata Nabi, ”Siapa yang hanya bertambah
ilmunya tetapi tidak bertambah hidayah-Nya, maka
bukanya ia menjadi semakin dekat dengan Allah,
melainkan justru semakin jauh kepada Allah. ”
Hal yang sama juga sering di dawuhkan Hadrotul
Romo Yahi: “Ilmu tidak bisa membuat seseorang
sadar kepada Allah, tetapi hidayahlah yang
menuntun seseorang sadar kepada Allah. ” Karena
itu, disamping menuntut ilmu, seseorang juga
‘ wajib’ mujahadah (agar mendapatkan hidayah).
Dikatakan wajib, sebab menurut Imam Al Ghazali
dalam kitab Ikhya ’nya: “…. Tidak ada kunci lain untuk
mendapatkan hidayah, selain dengan mujahadah.”
Kedua, AMAL IBADAH. Kesomongan secara sangat
halus juga dihembuskan syetan kepada para ahli
ibadah. Dengan ibadah yang dilakukanya, tidak
sedikit orang yang merasa seolah-olah telah menjadi
menusia yang paling dekat dengan Allah, calon
penghuni surga dan merasa paling bebas dari azab
Allah. Ia memandang dirinya lebih selamat dan
aman dari azab Allah, sehingga merasa lebih berhak
untuk mendapat pahala-Nya Allah. Bahkan ditengah-
tengah masyarakat, ia merasa bahwa dirinya adalah
kekasih Allah.
Sifat ini harus di waspadai oleh stiap kita. Jika di
dalam hati kita terlintas rasa bangga atas ibadah-
ibadah yang kita lakukan, maka sesungguhnya
petaka besar telah menimpa kita. Dan itu pertanda
bahwa ibadah kita kosong nilainya, penuh nafsu.
Apalagi kalau ditambah dengan menganggap enteng
kadar ibadah orang lain.
Ketiga, HARTA KEKAYAAN. Aroma dunia sering
membuat seseorang lupa diri. Termasuk diri kita.
Bahkan terkadang kita menyangka bahwa
kenikmatan dunia adalah abadi. Hingga seluruh
energi dan perhatian kita curahkan untuk
mendapatkanya. Saat kekayaan itu telah diraih, kita
merasa bahwa semua itu murni hasil jerih payah
kita sendiri. Sedangkan peran rahmat dan
kemurahan Allah dilupakan sama sekali.
Akibatnya, ia menjadi tinggi hati. Kekayaan duniawi
dianggapnya sebagai sebuah prestasi. Orang-orang
miskin dan lemah cenderung diremehkanya. Dia
menganggap mereka sebagai orang-orang pemalas
yang tak pantas dikasihani. Akhirnya sifat kikirnya
pun menjadi-jadi sehingga membawanya kepada
kekufuran. Dia tidak hanya mengingkari hak-hak
manusia, tetapi juga mengingkari hak-hak Allah
sebagaimana kisah yang menimpa Tsa ’labah pada
zaman Rasulullah SAW. Padahal Allah senantiasa
mewanti-wanti, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu
memaklumkan: Sungguh jika kamu bersyukur, pasti
Aku akan tambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. ” (QS. Ibrahim:
7).
Keempat, KEKUASAAN. tidak banyak yang
menyadari bahwa kekuasaan yang dimiliki
seseorang adalah amanat dari Allah yang senantiasa
harus dijaga kesucianya. Justru kebanyakan orang
menganggap kekuasaan adalah ALAT untuk meraup
sebanyak-banyaknya keuntungan duniawi. Tidak
heran kalau manusia terus berlomba bahkan
bertarung memperebutkan kekuasaan dan jabatan.
Jika perlu, mereka siap menghalalkan segala cara
bahkan siap kalaupun harus mati. Yang penting
kekuasaan berada dalam genggamanya.
Mereka tidak sadar bahwa kekuasaan yang
didapatkan dengan cara seperti itu membawanya ke
jurang kebinasaan. Yang dia fikirkan adalah
bagaimana mengeksploitas kekuasaan tersebut
untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin.
Untuk tujuan tersebut mereka tidak segan-segan
melakukan penyimpangan dan berbagai tindak
kesewenangan. Mereka tidak lagi berfikir bagaimana
seharusnya melayani kepentingan rakyatnya, tap
justru rakyatlah yang harus selalu siap melayani
kepentingan dan ambisinya.
Di mata mereka, orang-orang lemah begitu tidak
berharga karena tidak akan memberikan manfaat
yang banyak untuk menopang kekuasaanya.
Sebaliknya, kepada orang-orang kuat dan
berpengaruh, mereka begitu curiga dan khawatir
akan melakukan kudeta …, dan sejenisnya.
Sebagaimana Fir’aun kepada orang-orang yang
begitu peka terhadap hal-hal yang dianggap akan
membahayakan kekuasaanya. Akhirnya, semua
potensi masyarakat pun dilibasnya.
Di tengah-tengah ketidak berdayaan masyarakat
itulah ia bertindak bak Tuhan. Semua perintahnya
harus di anggap ‘sabda’. Semua tindakanya harus di
anggap kebijakan. Allah SWT
berfirman: ”Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat
sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan
penduduknya berpecah-belah, dengan menindas
segolongan dari mereka. Dia menyembelih anak-
anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir ’aun
termasuk orang-orang yang membuat
kerusakan. ” (QS. Al Qashas: 4).
Itulah beberapa celah rawan perangkap syetan
untuk menghasut manusia agar bersikap sombong.
Di luar itu, masih banyak celah lain yang harus
senantiasa ditutup rapat-rapat. Kuncinya adalah
dengan senantiasa mengetrapkan LILLAH-BILLAH,
LIRRASUL-BIRRASUL dan LILGHAUTS-BILGHAUTS.
Ilmu, amal, harta dan kekuasaan, semua dari Allah
(Billah) dan semata-mata untuk pengabdian diri
kepada Allah (Lillah). Semakin merasa bisa ibadah
seseorang, justru ia semakin tidak ibadah.
Sebaliknya semakin merasa tidak mampu
melakukan ibadah ketika seseorang sedang ibadah,
justru itulah sebenarnya ibadah. Semakin Billah,
semakin tinggi nilai ibadahnya. Semakin terlindungi
dari bujuk rayu nafsu dan bisikan syetan.
Pertanyaanya sekarang; sudahkan semua amal
ibadah kita dan segala yang kita milki di sadari dan
didasari LILLAH dan BILLAH?
Wallahu a’lam

Sabtu, 01 Januari 2011

HARTA TERMAHAL KITA

Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja atas
mereka, apakah kamu beri peringatan atau kamu
tinggalkan. Tetap saja mereka tidak akan beriman.
Allah telah menutup hati dan pandangan mereka.
Dan pada mata mereka terdapat penutup. Dan Bagi
merekalah siksa yang pedih. ”(QS. Al Baqarah: 6-7).
Kata kafir berasal dari fi’il madhi: kafaro, yang artinya
menentang atau mengingkari. Satu hal yang perlu
menjadi perhatian kita adalah kata kafir tidak selalu
indentik dengan kaum nonmuslim. Sebab
adakalanya kata kafir yang memilki pengertian
mengingkari nikmat Allah. Sebagaimana firman-
Nya: ”Jika kalian bersyukur, sungguh akan AKU
tambah (nikmat-KU) atas kalian. Namun jika kalian
mengingkari (kafir/kafartun) terhadap nikmat-KU,
maka sesungguhnya siksa-KU sangatlah
pedih. ” (QS. Ibrahim: 7)
Syekh Ismail Haqqy Al Bursawi dalam kitabnya
Ruuhul Bayaan mengatakan bahwa dalam ayat ini
artinya menentang sifat Allah. Atau dalam
pengertian lain, kafir dalam ayat ini mengacu kepada
mereka yang berada di luar garis Islam
(nonmuslim).
Ayat di atas secara samar menginformasikan
kepada kita bahwa Rasulullah SAW adalah seorang
Rasul yang welas asih kepada seluruh umat. Di
antara sesuatu yang menjadi pokok pemikiran beliau
adalah bagaimana menyelamatkan seluruh umat
manusia dari siksa neraka yang dahsyat. Karena
itulah, hari-hari beliau senantiasa tidak pernah
kosong dari upaya mengajak kepada umat manusia
agar kembali ke jalan Islam. Allah menggambarkan
kepribadian beliau yang luhur ini dalam firman-
Nya: ”Benar-benar telah datang kepada kalian
seorang utusan dari kalangan kalian. Berat sekali
baginya apa-apa yang menimpa kalian. Ia ingin
sekali kalian mendapatkan keselamatan. Dan
terhadap kaum mukmin ia sangat mengasihi dan
menyayangi. ” (QS. At-Taubah: 128).
Sudah tentu, Rasulullah SAW sangat sedih dan
prihatin jika panggilan tersebut tidak mendapatkan
sambutan yang semestinya, atau bahkan ditolak.
Apalagi jika yang menolak itu adalah keluarga beliau
sendiri. Seperti Abu Lahab. Atau bahkan Abu Thalib,
paman beliau yang selama ini menjadi pengasuh
beliau dan melindungi beliau dari kekejaman kaum
kafir Quraisy.
Karena itulah, Allah SWT dalam ayat di atas
memberitahukan bahwa perkara iman atau kafir
adalah urusan Allah. Dalam sebuah hadits shahih,
Rasulullah SAW besabda :
”Sesungguhnya kalian dikumpulkan bahanya di
dalam perut ibunya selam empat puluh hari dalam
bentuk mani. Kemudian setelah itu menjadi alaqoh
(darah kental) selama itu pula. Demikian juga selama
itu pula kemudian menjadi mudghoh (daging).
Kemudian dikirimkan kepadanya malaikat yang
meniupkan ruhnya dan diperintahkan untuk menulis
empat hal. Rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka
atau bahagia. Demi Allah, sesungguhnya seorang
beramal dengan amalan ahli surga sehingga diantara
dia dan surga hanya sejarak sehasta. Namun karena
Al kitab telah mendahuluinya, maka kemudian ia
melakukan pekerjaan ahli neraka hingga akhirnya
kemudian ia memasukinya. Demi Allah,
sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan
ahli neraka sehingga antara dia dan neraka hanya
berjarak sehasta. Namun karena Al kitab
mendahuluinya, maka ia kemudian melakukan
pekerjaan ahli surga hingga akhirnya kemudian
melakukan pekerjaan ahli surga hingga akhirnya
kemudian memasukinya. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu tugas sebenarnya seorang Rasul tiada lain
hanyalah menyampaikan. Sebagaimana firman
Allah: ”…Dan jika mereka berpaling, maka tiada lain
kewajibanmu kecuali hanya menyampaikan…” (QS.
Ali Imran: 20).
Sedangkan masalah seseorang itu menjadi mukmin
atau kafir, semuanya adalah Allah yang
menentukan.
Inilah yang seharusnya menjadi spirit para juru
dakwah dimanapun berada. Bahwa setiap da ’i
haruslah ada rasa kasih-sayang kepada umat.
Bahwa setiap da ’i harus memusatkan perhatianya
untuk mengajak umat kejalan Allah. Bahwa setiap da
‘ i haruslah tiada bosan-bosan untuk berdakwah.
Namun semua aktivitas tersebut haruslah dengan
niat karena atas menaati perintah Allah semata
(Lillah). Sedangkan diterima atau ditolaknya dakwah
yang dilakukan oleh seorang da ’i, itu menjadi urusan
Allah atau Billah. Iman dan kafir bukan da’i yang
menentukan. Bahkan seorang Nabi dan Rasul pun
tidak mampu membuat seseorang menjadi
mukmin. Sekali lagi, semua hal yang berkaitan
dengan iman dan kafir semata-mata adalah
wewenang dan hidayah Allah Ta ’ala.
Satu hal lagi yang menarik dari ayat ini adalah
bahwa iman kita ini benar-benar menunjukan kasih-
sayang Allah kepada kita. Hal ini seharusnya
membuat kita semakin banyak merunduk kepada
Allah. Semakin cinta kepada Allah. Semaikn
menyadari bahwa kita ini mendapat fasilitas yang
istemewa dari Allah. Bukankah Abu Thalib, paman
sekaligus besan Rasulullah SAW, ayah dari Khalifah
Ali KW sekaligus kakek dari Hasan dan Husein serta
leluhur dari para Habaib dan Syarif tiada
mendapatkan anugerah iman sebagaimana kita?
Bukankah Kan ’an, putera dari Nabi Nuh AS, salah
seorang Ulul Azmi tiada mendapatkan keimanan
sebagaimana kita? Bukankah Azar, ayahanda Nabi
Ibrahim AS tiada mendapatkan iman sebagaimana
kita? Karena itulah, seharusnya sehari-hari kita selalu
dipenuhi oleh rasa syukur terhadap nikmat iman ini.
Hingga akibat rasa syukur ini, kesedihan kita
terhadap berbagai problem materi kita menjadi
tertutupi. Bahkan kemudian dihilangkan oleh Allah
Ta ’ala.
Ayat ini seharusnya membuat kita semakin cemas
kepada keputusan Allah. Sebab kita tidak tahu,
adakah iman kita masih akan tetap menyertai kita
saat kita meninggal nanti? Bukankah banyak orang
yang tidak mendapatkan keabadian iman? Qarun,
yang sebelumnya ahli Taurat, mengakhiri hidupnya
dengan kekafiran. Barshisho, seorang wali penuh
karomah mengakhiri hidupnya dengan kekafiran.
Bal ’aam, seorang wali dan ulama juga mengakhiri
hidupnya dengan kekafiran. Siapa yang menjamin
keimanan kita akan tetap menyertai kematian kita?
Allah SWT memperingatkan hal ini dalam firman-
Nya: “Adakah mereka merasa aman dari makar/
jebakan/ azab Allah? Maka tidaklah merasa aman
dari jebakan Allah kecuali orang-orang yang
merugi. ” (QS. Al A’raf: 99).
Inilah sikap hati kita sebagai seorang mukmin. Selalu
merendah. Selalu cemas. Selalu takut kepada Allah.
Wallahu a ’lam

Jumat, 31 Desember 2010

REMAJA KEKUATAN RAKSASA PERJUANGAN

Saat ini, ketika seseorang mendengar istilah remaja,
yang serigkali terbayang sosok anak-anak muda
yang berhuru-hara di kafe, diskotik atau tempat
hiburan lainya. Atau mungkin ketika seseorang
mendengar istilah remaja, maka yang nampak
adalah sosok anak-anak muda yang asyik
berpacaran, bermain musik atau berlenggak-
lenggok ala foto model. Yang lebih menyedihkan lagi
adalah bahwa seringkali istilah remaja ini dikaitkan
dengan berbagai bentuk ekspresi negatife seperti
seks bebas, narkoba atau berbagai bentuk
kriminalitas.
Berbagai gambaran diatas sebenaranya merupakan
pantulan dari kondisi kaum remaja dewasa ini.
Kebijakan pemerintah membuka lebar-lebar
terhadap berbagai kebudayaan luar telah
menghasilkan para remaja ala Hollywood. Remaja
yang mengahabiskan waktunya dengan hanya
berhura-hura tapi miskin prestasi. Kalaupun ada
prestasi, itupun hanya berkaitan dunia hura-hura.
Seperti juara modeling, juara nyanyi atau juara rias.
Sementara dalam berbagai bidang yang produktif,
seperti olahraga atau dunia ilmiah, sangat minim
prestasi yang didapatkan.
REMAJA DALAM PANGGUNG SEJARAH
Sejarah tegak dan runtuhnya suatu bangsa sangat
berkaitan erat dengan situasi dan kondisi remaja
pada suatu masa. Ketika kaum remaja terbiasa
hidup dengan dunia yang keras, disiplin, serta
penuh semangat belajar dan berkarya, maka pada
saat itulah sebuah bangsa berdiri dengan tegak.
Revolusi Islam di jazirah Arab pada masa awal Islam
ternyata menempatkan barisan remaja pada posisi
terdepan dan kunci. Orang-orang seperti Abu Bakar,
Umar, Utsman, adalah sosok-sosok muda yang
saat itu berusia 30-40 tahun. Bahkan banyak sekali
remaja berusia belasan tahun memainkan peran
yang sangat penting dalam revolusi tersebut. Ali bin
Abi Thalib ketika menjadi Panglima perang Khaibar,
saat itu masih berusia 25 tahun. Abdullah bin
Rowahah ketika memimpin perang Mu ’tah baru
berusia 20-an tahun. Bahkan Usamah bin Zaid usia -
+ 16 tahun telah menjadi seorang jendral yang
memimpin sebuah resimen tentara. Dan lawan
yang dihadapinya pun tidak main-main. Mereka
adalah satuan-satuan pasukan professional
Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) yang
dipimpin oleh jendral-jendral yang telah dewasa,
matang dan berpengalaman dalam berperang
melawan kemaharajaan Persia. Toh akhirnya,
kelompok pemuda muslim tersebut bisa mengatasi
semua permasalahan-permasalahan kemiliteran
yang mereka hadapi.
Revolusi Kemerdekaan Indonesia juga menjadi
pelajaran yang menarik tentang peran remaja. Saat
itu, pasukan Belanda dan sekutu baru saja
memenangkan perang Dunia II dengan
menghancurkan Blok Jerman, Italia dan Jepang.
Mereka dengan di dukung oleh perwira-perwira
dewasa dan matang semisal Jendral Spoor atau
Jendral AWS Mallaby serta prajurit professional
datang kembali ke Indonesia untuk menancapkan
‘ kuku’ penjajahan.
Pasukan yang professional terebut dihadapi oleh
barisan remaja yang walaupn belum begitu
berpengalaman, namun memiliki semangat yang
menyala-nyala. Sebagaimana Revolusi Islam di
Arabia, dalam Revolusi Kemerdekaan Idonesia
inipun remaja memiliki posisi terdepan. Sebut saja
misalnya Pak Dirman. Pada usia 27 tahun beliau
sudah diangkat menjadi Panglima Besar yang
membawahi 3 juta tentara Indonesia yang
menyebar mulai dari Aceh hingga Merauke. Pada
usia yang sama, Jendral (saat itu baru Kolonel) Abdul
Haris Nasution menjadi Panglima Komando Jawa.
Demikian juga menteri-menteri Negara. Sebagian
besar adalah remaja-remaja berusia 30 tahun.
Namun sejarah membuktikan bahwa bangsa
Indonesia ternyata membikin penjajah Belanda
kembali hengkang ke Eropa.
Pada tahun 1979, kembali kita bisa menyaksikan
peristiwa spektakuler dalam sejarah dunia.
Sekelompok anak-anak muda di Iran dengan
inspirasi dari Ayatullah Khomaeni bergerak. Dengan
kekuatan laksana air bah yang meruntuhkan
Kerajaan Iran yang saat itu memiliki tentara terkuat
di Timur Tengah. Kerajaan dengan kekuatan tentara
ratusan ribu, peralatan perang modern, jaringan
intelijen yang rapi dan dukungan mutlak dari
Amerika dan Israel itu tiada mampu membendung
luapan semangat remaja-remaja Iran yang
menuntut keadilan.
Dan akhir kalinya, bangsa Indonesia menyaksikan
kekuatan yang menakjubkan dari remaja pada
Reformasi ’98. Kali ini yang menjadi sasaran
kekuatan raksasa para remaja adalah sebuah
kekuasaan di Indonesia, Rezim Orde Baru. Kekuatan
yang bercokol di Indonesia sejak tahun 1966 ini
memiliki segalanya. Tentara yang professional,
pegawai Negara yang loyal, persenjataan yang
canggih dan wibawa yang luar biasa. Bahkan
bebrapa saat sebelumnya, Golkar yang di dukung
oleh pemerintah, baru saja memenangkan pemilu
dengan angka yang spektakuler, 75%. Kekuatan
Orde Baru saat itu menjadi salah satu kekuasaan
terkokoh di Asia.
Awal tahun 1998, para remaja di berbagai kampus
perguruan tinggi mulai bergerak melihat
kepincangan-kepincangan pemerintah serta
penindasan yang tiada tertahan lagi oleh rakyat.
Kekuatan kaum remaja semula kecil tersebut
kemudian mulai membesar dan terus membesar.
Bahkan akhirnya menjadi kekuatan yang dahsyat.
Dunia akhirnya menyaksikan untuk kesekian kalinya.
Bahkan kekuatan remaja teramat dahsyat untuk
dilawan dengan senapan atau tentara. Kekuatan
inilah yang akhirnya memaksa Jendral Besar
Soeharto harus lengser dari jabatanya.
Sebaliknya, ketika para remaja terbuai dalam
berbagai hiburan dan sibuk memenuhi syahwatnya,
maka pada saat itulah sebuah bangsa berada di
ambang kehancurannya. Pada sekitar tahun 1650-
an, Kesultanan Mataran di bawah Sultan
Amangkurat I masih berdiri kokoh setelah
sebelumnya dibangun dengan susah payah oleh
Sultan Agung. Namun situasi kejiwaan para pemuda
Mataram jauh berbeda dengan era Sultan Agung.
Situasi pemuda pada masa Amangkurat I penuh
dengan hura-hura. Bahkan cenderung nista. Hingga
berbagai catatan Belanda saat itu memberitakan
bahwa Putera Mahkota setiap malam selalu
keluyuran merampas dan memperkosa istri orang.
Hingga bencana pun tibalah. Rakyat Madura
melakukan pemberontakan dengan didukung
berbagai elemen rakyat Mataram yang lain. Dalam
situasi seperti ini, para pemuda dan tentara Mataram
tiada memiliki semangat juang yang tinggi lagi
sebagaimana masa-masa raja sebelum Amangkurat
I. Akibatnya, tentara Mataram dengan mudah dapat
dikalahkan oleh kaum pemberontak. Bukan hanya
disitu saja. Keraton Plered, Ibukota Mataram saat
itupun akhirnya hancur-lebur dan jatuh ke tangan
kaum pemberontak.
Jika kita melihat dunia Islam saat ini, terlihat dimana-
mana penindasan dan penganiayaan kepada kaum
muslimin di berbagai Negara. Ini adalah potret
keadaan kaum remaja muslim saat ini. Dimana
mereka banyak terbuai oleh aneka kesenangan dan
hiburan. Hari-harinya diisi dengan aneka tontonan
dan kesenangan. Sangat sedikit sekali remaja
muslim yang memberikan perhatian terhadap
upaya peningkatan kualitas diri. Mereka asing
dengan belajar. Mereka jauh dengan ulama ’. Mereka
jauh dari majlis ilmu, majlis dzikir dan masjid.
Akibatnya, umat pun menjadi lemah dan kehilangan
wibawa. Hingga kemudian musuh-musuh Islam
pun saling berebut menerkam kaum muslimin,
laksana kawanan srigala berebut domba.
Kita takut, hal yang sama menimpa Perjuangan
Wahidiyah. Remaja-remaja Wahidiyah saat ini
hanya menghabiskan waktu-waktunya dengan
santai dan senang-senang. Hingga, pada suatu
ketika, saat ia diserahi tongkat estafet perjuangan,
mereka kaget, karena tidak adanya persiapan yang
dimiliki. Ia hanya bingung, susah. Tapi tidak tahu
apa yang ia bingungkan. Yang ia rasakan hanyalah
apa yang harus ‘saya’ kerjakan? Bagaimana cara
menggerakkan roda perjuangan yang diamanatkan
kepadanya. Dari sinilah kemudian awal mula
hancurnya perjuangan. Maka benarlah kata
pepatah: ”Jika perjuangan dipegang oleh bukan
ahlinya, maka tunggu sajalah saat
kehancuranya. ”Musthafa Al Ghalayain
mengatakan:”Sesungguhnya di tangan para
remajalah urusan umat (perjuangan). Dan di bawah
telapak kaki perjuanganyalah hidup dan matinya
umat (perjuangan). ”
MENUJU REMAJA UNGGUL
Remaja unggul dan berkualitas adalah sumber
kekuatan umat yang paling utama. Selama remaja
masih memiliki nilai-nilai keunggulan, maka umat
akan selalu aman. Sebaliknya, ketika remaja
kehilangan nilai-nilai keunggulanya, umat pun sudah
tentu diambang bahaya.
Ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang
remaja agar menjadi generasi yang unggul.
Pertama, adalah shihhatul aqiidah (akidah yang
benar). Kelurusan dan kebenaran akidah ini bukan
hanya diperlukan oleh seorang remaja, namun juga
oleh semua golongan usia manusia. Dengan akidah
yang lurus, hidup seseorang menjadi terarah.
Dengan akidah yang lurus, manusia akan bernilai di
sisi Allah. Allah berfirman: ”Sungguh Kami ciptakan
manusia dalam bentuk yang terbaik. Kemudian ia
Kami kembalikan ke tingkat yang paling rendah.
Kecuali mereka yang beriman dan beramal
shalih. ” (QS. At Tien: 5-7).Dan dengan akidah yang
lurus pula, Allah menjanjikan pertolongan untuk
hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Al
Qur ’an:”Allah adalah penolong mereka yang
beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
menuju cahaya …” (QS. Al Baqarah: 257).
Kedua, adalah shalaahul a’mal (baiknya perbuatan).
Allah dalam memberikan janji pertolongan dan
kemuliaan selalu menyaratkan dengan iman
(shihhatul aqiidah) dan amal shalih (shalaahul a ’mal).
Sebagaimana firman Allah:”Dan sampaikanlah kabar
gembira bagi mereka yang beriman dan beramal
shalih bahwa sesungguhnya bagi mereka surga
yang dibawahnya mengalir sungai-sungai …” (QS. Al
Baqarah: 25).
Amal shalih ini memiliki bebarapa arti. Makna yang
pertama adalah melaksanakan syariah. Seroang
remaja muslim baru akan menjadi unggul jika ia
melaksanakan kewajiban Islam dan menjauhi
larangan Islam. Terhadap mereka ini, Allah
menjanjikan pertolongan dalam segala situasi dan
kondisi. Sebagaimana firman Allah Ta ’ala:”Dan
barangsiapa bertakwa kepada Allah, menjadikan
baginya jalan keluar (dari semua
permasalahan). ” (QS. Ath Thalaaq: 2).
Makna yang kedua dari amal shalih adalan
melaksanakan sesuatu secara professional. Artinya,
seorang remaja muslim yang unggul haruslah
melakukan pekerjaan dan profesinya secara baik dan
professional. Jika ia seorang penjahit, ia harus
menghasilkan karya yang bermutu dan sesuai
dengan waktu yang ditentukan. Jika ia seorang
pegawai, maka ia harus melaksanakan tugas
kepegawaian dengan baik serta berdisiplin terhadap
waktu. Jika ia seorang guru, maka ia harus
melaksnakan tugas-tugas keguruan dengan baik dan
sesuai dengan aturan. Demikian seterusnya. Dengan
demikian, masing-masing remaja msulim
menghasilkan karya-karya yang terbaik untuk
perjuangan.
Ketiga, remaja unggul mestilah memiliki akhlak yang
baik. Akhlak yang baik disini mencakup segala
kepribadian yang positif. Ia harus santun, namun
juga tegas. Ia harus lembut namun juga berani. Ia
harus luwes, namun harus juga kukuh pendirian.
Dan seterusnya dan seterusnya.
"Bangsa-bangsa itu hanya akan bertahan selama
mereka masih memiliki akhlak. Mereka akan hancur
berantakan bilamana akhlaknya telah rusak." (Kalam
Hikmah)
Terkadang seseorang meremehkan akhlak. Mereka
cukup mengandalkan kemampuan profesioanal.
Padahal, akhlak sebenarnya memiliki kekuatan yang
sangat dahsyat. Malah seringkali seseorang dapat
menaklukkan seorang musuh dengan seorang diri
melalui kekuatan akhlak. Padahal musuh tersebut
belum tentu dapat di taklukkan dengan satu batalion
tentara. Ada kala juga seseorang sebenarnya
memiliki kemampuan professional yang rendah.
Namun, ia dapat menembus ke puncak karier
dengan keluhuran akhlaknya. Padahal disisi lain,
banyak teman-temanya yang memiliki kemampuan
profesi yang kuat tidak dapat mencapai kedudukan
walaupun sekedar setengahnya saja dari apa yang ia
raih.
Keempat, seorang remaja yang unggul haruslah
meiliki pengetahuan di bidang yang ditekuninya. Bila
ia seorang seniman, ia harus menguasai ilmu seni.
Bila ia seorang akuntan, maka ia harus menguasai
ilmu akuntansi. Bila ia seorang Bodyguard, ia harus
menguasai ilmu bela diri. Pendeknya, seseorang
tidak akan menguasai profesi dan berkembang
dengan profesinya kecuali jika ia menguasai profesi
tersebut. Karena itu, poin keempat ini sangat
berkaitan dengan poin kedua tentang
profesionalisme.
Ilmu bagi remaja bahkan menjadi ciri dan identitas
keremajaanya. Bagi mereka yang tidak memiliki
ilmu, sesungguhnya tiada pantas disebut sebagai
remaja. Sebagaimana dikatakan Imam Syafi ’i
RA.”Demi Allah! Hidupnya para remaja hendaklah
dengan ilmu dan takwa. Bila keduanya tiada
padanya, maka tiada patut ia disebut sebagai
remaja. ”
Dalam konteks Perjuangan Wahidiyah saat ini,
sudah tentu menjadi sangat kompleks serta meliputi
multidimensi. Di sana di butuhkan pendidik, disana
dibutuhkan administrator, disana dibutuhkan teknisi
dan seterusnya dan seterusnya. Perjuangan hanya
akan maju dan unggul jika semua sisi tersebut
tertangani secara tuntas dan bermutu. Sebaliknya,
Perjuangan tentunya akan hancur jika semua sisi
tersebut dikelola secara setengah-setengah. Kata Ahli
Hikmah: ”Jika perkara yang haq (yang benar) tidak
dikelola dengan (manjemen yang) baik, ia akan
dikalahkan oleh perkara yang batil (salah) yang
dikelola (dimenej) dengan baik. ”
Disinilah diperlukan profesionalisme. Penanganan
suatu bidang secara total sehingga mendapat hasil
yang bermutu tinggi. Dan profesioanlisme tidak
akan tercapai kecuali dengan melaksanakan sesuatu
berdasarkan ilmu. Karena itulah Ibnu Ruslam dalam
Kitab Zubad mengatkan , ”Setiap orang yang
beramal tanpa ilmu, Amalnya akan ditolak atau tidak
diterima. ”
Kelima, seorang remaja unggul haruslah memiliki
kekuatan ruhaniyah yang dahsyat. Hal ini diperoleh
melalui serangakaian riyadhah (latihan ruhani) yang
keras. Bukankah keris pada dasarnya hanyalah
sebilah besi? Jika kita melihat dari nilai besinya,
sebilah keris mungkin tidak akan mencapai Rp. 1000.
Namun ketika keris tersebut sudah mengalami
tempaan yang dahsyat serta mendapat doa dari
Empu, maka nilainya akan berlipat-lipat. Sebilah keris
bisa berharga ratusan ribu, bahkan jutaan atau
miliyaran rupiah.
Sebagaian besar para sahabat Rasulullah SAW
sebelumnya adalah manusia-manusia dari kelas
sosial yang rendah. Salman atau Bilal misalnya,
adalah seorang budak. Abdullah bin Mas ’ud adalah
seorang pengembala kambing. Namun dengan
riyadhah yang kuat, akhirnya mereka menjadi
orang-orang mulia. Salman menjadi Gubernur di
Irak, sedang Bilal menjadi tokoh masyarakat Syam.
Sementara Abdullah bin Mas ’ud menjadi maha guru
di Irak.
Bahkan dengan kekuatan riyadhah ini, bangsa Arab
yang miskin dan sebelumnya tidak pernah
disebutkan dalam sejarah, akhirnya dapat menjebol
kekuasaan dua super power itu, Romawi dan Persia.
Keenam, seorang remaja unggul haruslah memiliki
kekuatan fisik yang prima. Kerena sebuah bangsa
tidak akan kuat jika remajanya sakit-sakitan.
Rasulullah SAW bersabda, ”seorang mukmin yang
kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada
seorang mukmin yang lemah. ”
Bangsa Arab, pada masa Rasulullah SAW menjadi
bangsa yang kuat salah satunya juga karena mereka
selalu memiliki fisik terlatih. Mereka aktif berlatih
menunggang kuda, memanah, bergulat, berenang
serta bermain pedang dan tombak. Rasulullah SAW
sendiri sangat menganjurkan pembinaan masalah
ini, hingga beliau bersabda, ”Ajarilah anak-anakmu
berenang dan memanah.” hingga selanjutnya, dlam
fiqih Islam, taruhan dalam dunia berkuda dan
panahan diatur dalam satu bab tersendiri.
Nah, ketika keenam syarat tersebut terkumpul,
sebuah bangsa pada dasarnya telah memiliki
kekuatan yang sangat dahsyat. Bahkan jauh lebih
dahsyat dari sebuah nuklir sekalipun!. Allahu a ’lam

Kamis, 30 Desember 2010

DEMI MASA (AL WAKTU)

Betapa mahalnya waktu. Betapa berharganya
kesempatan. Ia merupakan satu-satunya sumber
daya yang hilang tak bisa dig anti lagi. Bagi kita,
waktu yang kita miliki sama dengan jatah usia yang
akan kita lalui. Karenanya, siapa yang membuang-
buang waktu sama dengan menyia-nyiakan
umurnya sendiri.
Isalm sendiri begitu besar perhatianya terhadap
waktu. Hingga di dalam Al Qur ’an banyak sekali
ayat-ayat yang menunjukkan ‘sumpah’ Allah
dengan waktu; demi waktu subuh, demi waktu
dhuha, demi malam apabila telah menutupi, demi
waktu siang apabila telah menerangi, adalah contoh
‘ sumpah’ Allah atas nama waktu.
Bahkan dalam surat Al Ashr yang berarti masa,
Allah telah bersumpah dengan masa atau waktu,
bahwa manusia akan merugi, kecuali orang-orang
yang beriman (billah) dan beramal shaleh (lillah)
serta saling menasehati supaya menetapi kebenaran
dan kesabaran.
Kenyataanya memang, orang-orang yang berleha-
leha menyia-nyiakan waktu; tidak mau bekerja, tidak
mau beribadah, yang ia dapat hanyalah kerugian
dan rasa penyesalan. Sebaliknya, mereka yang
mampu memanfaatkan waktunya dengan baik,
mereka mendapatkan keuntungan dan kebahagiaan
di kemudian hari.
Untuk melihat betapa berharganya waktu, kita bisa
mencermati apa yang ditemukan oleh para ahli
fisika. Menurut mereka, bahwa waktu 1 detik itu
sama dengan waktu yang diperlukan oleh otom
caesium untuk bergetar sebanyak 9.192.630.770
kali.
Sungguh, betapa sangat berharga nilai sebuah
waktu. Karenanya, dalam beberapa sabdanya
Rasulullah SAW pun tidak bosan-bosanya
mengingatkan kita soal pemanfaatan waktu. Kata
Nabi,
” Dua nikmat yang seringkali dilalaikan oleh
kebanyakan manusia: (nikmat) sehat dan waktu
luang. ” (HR. Turmudzi dalam Kitab Zuhud Juz 4 Hal.
550). Dalam haditsnya yang lain, beliau bersabda:
” Peliharalah lima perkara sebelum dating lima
perkara:1. Masa hidupmu sebelum datang
kematianmu,
2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu,
3. Waktu luangmu sebelum datang masa
sempitmu,
4. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
5. Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu.
(HR. Hakim dan Baihaqi dalam bab Iman, dan
Ahmad dalam bab Zuhud dari Ibnu Abbas RA)
Karenanya, pada masa generasi sahabat, masalah
pemanfaatan waktu ini benar-benar menjadi
perhatian utama mereka. Bahkan konon, ketika
Sayyidina Umar mendapati dirinya sesaat saja lalai
tidak melakukan ibadah, seketika itu pula beliau
langsung mencambuk dirinya sendiri. Hingga
setelah kematianya, para sahabat yang mengurus
jenazah beliau, menemukan guratan-guratan
merahdi tubuh Sayyidaina Umar, bekas cambukan.
Perhatian Islam terhadap waktu memang
sedemikian besar. Tidak hanya soal pemanfaatanya,
tapi juga dalam hal pengalokasian. Bagi kita
pengamal Wahidiyah, setidaknya ada tigamacam
waktu yang harus kita atur dalam menjalani
kehidupan ini. Ada waktu untuk ibadah, waktu untuk
bekerja dan waktu untuk istirahat. Sebenarnya,
ketiga-tiganya bisa bermakna ibadah apabila
pelaksanaanya diniati ibadah kepada Allah, lillah. Niat
untuk taqarruban ilallah (mendekat kepada Allah).
Dan itulah sebaik-baik waktu. Sebagaimana
dikatakan dala Kitab Al Hikam: ”Sebaik-baik waktu
dalam hidupmu adalah waktu ketika kamu dalam
keadaan sadar kepada Allah merasa dan mengakui
kebutuhanmu serta kembali kepada adanya
kerendahan dirimu. ”
Di dunia ini, sesungguhnya tidak ada orang sukses
yang tidak disiplin dalam pemanfaatan waktu.
Mereka yang saat ini kita lihat hidupnya ’enak’, pada
awalnya mereka dalah orang-orang yang disiplin
menggunakan waktu. Disiplin memanfaatkan waktu
belajarnya. Disiplin menggunakan waktu
bekerjanya. Disiplin menjalankan ibadahnya, dan
disiplin dalam melakukan segala aktifitas
kewajibanya.
Karena itu, apabila kita ingin sukses, ingin jaya, ingin
bahagia di dunia dan di akhirat, tidak ada pilihan lain
kecuali kita harus memulainya dengan
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jangan lagi
ada umur yang terbuang sia-sia. Jangan ada lagi
masa yang habis tiada guna. Jangan menunda-
nunda amal perbuatan jika ‘saat ini’ bisa dikerjakan.
Punya waktu sekali, gunakan yang berarti. Sebab,
waktu adalah ibarat pedang, kata Nabi, jika kamu
tidak mampu mempergunakan pedang itu sebaik-
baiknya, maka ia akan memotong lehermu.
Kata Syaikh Hasan Al Bashri: ”Setiap hari yang pada
saat itu fajar mulai terbit, pasti ada satu penyeru dari
Hadirat Yang Maha Haq: Wahai Anak Cucu Adam!
Saya adalah waktu, makhluk yang tercipta. Setiap
amalanmu aku menyaksikanya. Karena itu,
berbekallah kalian dariku dengan amal yang shaleh.
Karena aku tidak akan kembali lagi hingga hari
kiamat.” Wallahu a’lam

Rabu, 29 Desember 2010

JANGAN MENJADI ORANG YANG TIDAK BERADAB DI HADAPAN ALLOH

Tiada meninggalkan sedikit pun dari kebodohan,
siapa yang berusaha akan mengadakan sesuatu
dalam suatu masa, selain dari apa yang dijadikan
oleh Allah didalam masa itu. (Al Hikam 25)
Orang yang meninginkan berpindah dari situasi
yang telah ditetapkan oleh Allah, dan inginnya itu
karena dirinya sendiri, maka orang ini adalah orang
yang masih tetap dalam keadaan bodoh. Atau orang
ini tidak bisa meninggalkan kebodohanya. Ia bodoh
dari sifat ketuhanan Allah SWT Yang Maha Kuasa,
Maha Menemukan.
Maka jika ada seorang murid, atau orang yang
meninginkan sadar kepada Allah. (Murid di sini
bahasanya di tasawuf. Bukan murid orang yang
mengaji, seperti di sekolah-sekolah. Tapi murid
yang menginginkan dekat kepada Allah. Bukan
murid yang menginginkan ilmu dekat, namun
orang yang sudah ingin mendekat kepada Allah).
Jadi bila ada orang yang menginginkan dirinya dekat
kepada Allah SWT, kemudian dia berada dalam
suatu keadaan, baik yang menyangkut badaniyah-
pakaian, makanan, tempat tinggal – maupun
qolbiyah atau hati- situasi sumpek, tidak enak dan
sebagainya- pokoknya keadaan dalam suatu waktu
tertentu, dan keadaan itu tidak dikecam oleh syara ’
dan tidak dilarang oleh Allah, hanya karena tidak
enak perasaan kita, tapi syara ’ tidak melarang.
Kalau seorang murid sudah dalam keadaan itu
sebaiknya kita menyikapinya dengan memperbaiki
adab-adab kita melaksanakan apa yang ada itu saja.
Bukan bagaimana kita berpindah dari situasi itu
kepada situasi yang lain. Kita harus ridha. Ridha
bahwa ini adalah ketetapan Allah misalnya, kita
dicoba; situasi ekonomi agak turun, ada musibah
kecil-kecilan, pokoknya sesuatu yang tidak
memngenakkan, marah, benci, ini kita jangan
berpindah, mencari yang enak, dan hanya karena
didorong rasa ingin. Bukan karena lillah. Itu tidak
tepat. Yang tepat ya kita menyikapinya dengan
ridha. Bahwa ini qadha-qadharnya Allah SWT.
Kemudian kita ikhtiar, bagaimana keadaan ini bisa
diselesaikan. Ini pun harus lillah dan billah. Kita tidak
boleh nggersulo, tapi harus kita terima dengan
ikhlas. Mungkin inilah yang terbaik bagi kita, supaya
kita lebih koreksi diri dan meningkat. Bahkan kalau
kita yakin bahwa ini semua adalah peringatan Allah,
ini yang tepat. Tapi kalau ingin begitu saja tidak enak
pingin enak, itu sama dengan binatang. Dan itu
adalah sikap orang yang tidak sadar kepada Allah.
Jadi, walau bagaimana usaha kita ingin berpindah
dari situasi tidak mengenakkan itu, kalau Allah tidak
menghendakinya tidak bisa. Ketika kita ikhtiar, untuk
keluar dari musibah, dan dari semua kesulitan,
semua itu harus semata lillah. Semata-mata, yu ’ti
kulla dzi haqqin haqqah. Hatinya pasrah tawakkal,
patuh bahwa ini adalah ketetapan Allah. Diterima
dengan baik. Dan bahkan ini kita syukuri karena kita
telah diperingatkan oleh Allah. Sampai Allah nanti
memindahkan kita dari situasi itu.
Seseorang, maqamnya mungkin ada yang tajrid,
ada juga yang kasab. Maqam tajird, yaitu maqam
nyepi dengan menyepinya itu, seringkali Allah
mencukupi kebutuhanya. Ia juga tidak tamak, dan
tidak bergantung dengan pemberian orang lain. Ia
hanya menggantungkan diri kepada Allah. Ini
namanya maqamnya tajrid.
Sedangkan makam kasab, yaitu orang yang diberi
maqam usaha. Usahanya itu pun tidak merusak
agamanya, tidak merusak imanya, bahkan ia
senantiasa tetap menggantungkan diri kepada Allah,
bukan kepada pekerjaanya. Ini namanya maqam
kasab.
Tetapi apabila ada orang yang ditetapkan di maqam
tajrid, tergoda saat ia melihat orang kasab lebih
enak, lebih kaya daripada dirinya (ini menyangkut
ma ’isyah). Kemudian ia ingin pindah tajrid ke kasab.
Artinya dia merasa “Ah, nggak enak tajrid. Aku
bekerja saja biar enak.” Niatnya bukan yu’ti lagi, tapi
binafsi, karena nafsu. Bukan yu’ti lillah, tapi karena
untuk mengisi bidang saja, sebab ia punya
tanggung jawab besar.
Kalau dalam kepindahanya itu terbesit niatan,
“ Barangkali Allah juga meridhai.” Ini lain. Tapi kalau
hanya karena melihat tetangganya yang kasab lebih
kaya, lebih enak. Lalu ia tidak terima diberi tajrid,
yang nafkah dan rezekinya hanya setetes demi
setetes serta hanya cukup untuk dimakan.
Kemudian dorongan ini membuatnya ngotot mati-
matian bekerja karena ‘ingin’ lebih baik, ini tidak
boleh.
Atau orang kasab, yang sudah punya pekerjaan
enak, lancar, tapi ketika ada kesulitan fisik sedikit, dan
kemudian ia tahu seorang tajrid, “Wah, enak kyai
itu, lahiriyahnya duduk-duduk saja, jalan-jalan tok,
dapat duit, ” lalu ia ingin tajrid, hanya melihat
dorongan melihat orang lain sekilas enak itu tadi.
Atau sebaliknya, yang tajrid, ketika ia memandang
orang yang bekerja enak, duitnya banyak, semua itu
adalah pandangan nafsu.
Orang yang berpindah dari keadaan, baik dari tajrid
ke kasab atau dari kasab ke tajrid hanya kerena
dorongan nafsu ingin enak, maka orang seperti itu
adalah yang sedikit sekali adabnya kepada Allah.
Bahkan jika perlu bukan hanya adabnya sedikit, tapi
bahkan tidak punya adab. Ia telah berani kepada
Allah. Sudah ditetakan ingin pindah. Pindahnya
binafsi, lagi sebab nafsunya. Bukan lillah untuk
ikhtiar. Ini hati-hati. Kadang-kadang kita memandang
tetangga kita menanam jeruk, teman kita menanm
padi, kita ikut menanam padi. Tetangganya tajrid,
kita ingin tajrid. Ketika sudah diberi tajrid, ingin
bekerja agar bisa kaya. Orang ini hanya di ombang-
ambing nafsu dan suul adab kepada Allah. Dan dia
adalah orang yang bodoh sekali, karena melakukan
sesuatu yang tidak pantas di hadapan Allah. Di
hadapan Allah itu seharusnya pasrah, tawakkal,
tadhallul, tadharru ’. Nah, dia ini di depan Allah malah
banyak tingkah, tidak patuh sama sekali.
Dalam dunia murid ada istilah qabdhu dan basthu.
Istilah ini adalah bagi seorang murid dalam thariqah
atau murid dalam tasawuf. Kalau di sekolah ya
istilahnya bukan qabdhu atau basthu. Ya marah,
atau senang karena dapat uang, atau nilainya bagus.
Jadi, qabdhu dan basthu ini adalah halul qalbi yang
yurodu ala qolbihi. keadaan hati yang diberikan Allah
kepada hatinya murid, yang berhubungan dengan
nur-nur ilahiyyah atau nurul ma ’rifah. Kalau
demenya (senangnya) murid di SMP SMA, ya bukan
qabdhu. Ya hanya senang, begitu saja. Ini semua
bahasanya dalam disiplin ilmu tasawuf. Jadi bagi
pendengar dari luar supaya memahami disiplin
istilah ini. Agar nanti tidak miss interpretasi, atau
salah faham dengan istilah-istilah tasawuf. Sehingga
nanti tidak ada masalah yang timbul dari kesalah
pahaman ini.
Jadi, qabdhu dan basthu itu hanya berlaku dalam
dunia tasawuf, walau artinya bisa saja diterapkan
dalam hal lain. Tapi konteksnya adalah suatu
keadaan hati yang diberikan oleh Allah di dalam hati
seorang murid. Bukan senang karena dapat mobil,
dapat duit banyak dan sebagainya. Bukan itu yang
dinamakan basthu. Tetapi, ini menyangkut nur
ilahiyyah yang diberikan Allah sehingga Allah
menciptakan suatu keadaan hati, sumpek tanpa
sebab, senang tanpa sebab, berbunga-bunga karena
berhubungan dengan hadratullah SWT.
Orang yang diberi maqam atau keadaan qabdhu,
sumpek tanpa sebab, selalu bergetar, merasa kecil
dihadapan Allah, selalu minder di hadapan Allah,
nelongso dihadapan Allah, kemudian muncul
nafsunya, ia tidak diterima diberi qabdhu. Lalu ia
berubah ingin ke basthu, ingin senang. Orang
seperti ini juga suul adab kepada Allah.
Karena itu, dalam sebuah kisah ada seorang yan
masyhur auliya ’ berkata: “Aku selama 40 tahun ini
tidak pernah oleh Allah dipindahkan kepada situasi
yang aku menjadi tidak suka. Dan aku tidak pernah
dipindahkan oleh Allah dari situasi yang menjadilan
aku benci kepada sesuatu. ”
Dalam keadaan apapun, ia tetap ridha, tetap basthu
dan senang terus. Ini bukan berarti dia tidak ada
perubahan-perubahan keadaaan. Ya mungkin ia
juga dicoba, tetapi ia tetap selalu ridha. Shingga
selama 40 tahun itu, ia tidak pernah merasa sengit.
Ada musibah ya Alhamdulillah, ia menyadari bahwa
ini cobaan Allah. Apalagi saat ia diberi rziki mal atau
rizki ma ’rifah, atau hal-hal tentang ma’rifah, ia
senantiasa bersyukur. Ia tidak lagi benci kepada
keadaan karena ia telah menyadari betul bahwa
semua itu yang membuat Allah. Sehingga ia tidak
ingin berpindah dari tempat satu ke tempat yang
lain, karena dia tidak pernah merasa susah. Ini
selama 40 tahun lamanya. Kok ada orang selam 40
tahun tidak pernah susah? Karena ia dalam
menghadapi masalah ya senang, apalagi
menghadapi yang enak.
Mengapa seorang wali demikian? Karena dia telah
memahami ilmu billah. Ilmu kepada Allah SWT,
bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Dzat
yang menentukan segala-galanya. Dan kita adalah
hamba ciptaan Allah. Dia menyadari betul
keadaanya, dan ia adalah orang yang telah ma ’rifah
kepada ketuhanan-Nya.
Maka Zainal Ali berkata, Man arafa nafsahu fa qad
arafa rabbahu. orang yang tahu keberadaan dirinya,
pasti tahu kedudukan Tuhanya. di balik sama saja,
orang yang tahu Allah, pasti tahu keududukan
dirinya. karena itulah dia ridha. Inilah … mengapa
auliya’ dalam kisah tadi selama 40 tahun tidak
pernah susah, hatinya ridha terus, senang terus.
Tidak lain karena ia telah ma ’rifah kepada Allah SWT.
Sesungguhnya benci atau tidak suka pada keadaan
yang telah diisyaratkan oleh para sufi, kemudian ia
pindah dari keadaan itu karena nafsunya sendiri,
atau karena keinginanya dan bukan karena lillah,
kemudian ia ingin memperbarui keadaan yang telah
ditentukan oleh Allah itu, orang ini telah berada pada
puncak kebodohan kepada Allah SWT. Dan telah
mencapai serendah-rendahnya adab di hadapan
Allah SWT. Dan ini juga merupakan bagian dari
menentang waktu yang telah diisyarahkan oleh ahli
sufi. Menurut mereka, ini adalah sebesar-besarnya
dosa yang telah dilakukan seorang khos, atau
seorang yang sadar kepada Allah.
Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk
orang yang khusnul adab atau isa ’atil adab,
rendahnya adab. Mari, bagaimana sikap kita bila
Allah menetapkan kita dalam suatu keadaan. Apakah
kita ridha kemudian ikhtiar dengan lillah dan billah
atau malah nggersulo karena nafsu. Jika kita polah
(bertingkah) dan tidak terima Allah, ya kita termasuk
orang yang fii isa ’atil adab atau balaghoti ghoyatidz
dzunubi. Puncak dosa inda ahlil khos.
Kalau ‘indal am, mereka menganggap dosa-dosa itu
tidak berat. Tapi kalau indal khos, indal waliyullah, itu
sudah dosa yang sangat tinggi. Apalagi ma ’siatul
badani. Mengapa ma’siatul badani disini tidak
dibahas, kok ma’siatul qalbi terus yang dibahas?
Apakah ma’siatul badani itu tidak dosa, sepereti zina
dan sebagainya? Ya itu sudah perbuatan dosa yang
sudah jelas. Inda syar ’i saja pelakunya itu sudah di
cap ahli ma’siat, maka tidak perlu dibahas lagi inda
khos. Ini bukan berarti dosa-dosa jarawih atau
badaniyah tidak ada. Ini bahasannya dosa-dosa
adab kepada Allah. Pembahasan dosa-dosa fisik
seperti zina dan sebagainya indal khos sudah
berlalu. Itu jelas mutlak dosanya.
Karena itu jangan sampai kita tergelincir mencari
sesuatu yang kita mengira itu lebih enak. Tapi
sesungguhnya, keinginan untuk lebih enak itu
sebenarnya justru akan membuat kita tergelincir dari
rel-rel yang telah ditentukan Allah SWT. Mudah-
mudahan kita oleh Allah dijadikan orang-orang yang
senantiasa menerima apa yang diberikan Allah SWT.
Dan mudah-mudahan kita segera dipindahkan dari
situasi yang tidak sadar kepada Allah menjadi situasi
yang betul-betul sadar kepada Allah SWT. Amin-
amin ya rabbal alamin

Selasa, 28 Desember 2010

IMAN KEPADA KEAGUNGAN KITAB KITAB ALLOH

Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al
Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-
kitab yang telah diturunkan sebelummu.” (Al
Baqarah: 4).
Ayat ini menceritakan ciri-ciri lain para muttaqiin
(mereka yang bertakwa). Yaitu bahwa para
muttaqiin memiliki rasa iman terhadap Al Qur ’an
dan kitab-kitab Allah sebelumnya yang diturunkan
kepada para Nabi yang lain sebelum Nabi
Muhammad SAW. Iman disini artinya adalah bahwa
mereka meyakini segala isi Al Qur ’an dan Kitabullah
yang lain sebagai kebenaran yang tidak
terbantahkan. Konsekuensi dari keimanan tersebut
adalah bahwa seorang muttaqiin mesti menjadikan
Al Qur ’an sebagai panduan hidup mereka dalam
segala aspek kehidupan.
Selanjutnya, pada ayat di atas disebutkan bahwa ciri
ketakwaan tersebut bukan hanya beriman terhadap
Al Qur ’an. Namun juga beriman terhadap kitab-kitab
Allah selain Al Qur’an. Yaitu Taurat yang diturunkan
kepada Nabi Musa AS, Zabur yang diturunkan
kepada Nabi Dawud AS dan Injil yang diturunkan
jepada Nabi Isa AS. Berdasarkan ayat ini,
pengingkaran terhadap kitab-kitab terdahulu tersebut
berarti juga menunjukkan ketidak sempurnaan
tingkat ketakwaan seseorang. Bahkan keimanan
seseorang tersebut diragukan.
Pada ayat di atas, keimanan terhadap Al Qur’an
disebutkan pertama kali sebelum keimanan terhadap
kitab-kitab suci yang lain. Dalam disiplin ilmu
balaghah (sastra arab), penyebutan sesuatu dengan
didahulukannya sesuatu tersebut daripada yang lain
menunjukkan bahwa sesuatu yang pertama kali
disebut tersebut merupakan sesuatu yang paling
penting dan utama. Artinya adalah bahwa Al Qur’an
merupakan kitab suci yang paling utama diantara
kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah Ta ’ala.
Ada beberapa hal yang menyebabkan Al Qur’an
memiliki keunggulan dan keutamaan atas berbagai
kitab-kitab suci yang lain.
Pertama, bahwa Al Qur ’an adalah satu-satunya kitab
suci yang orsinil dan asli. Seluruh dunia saat ini
hanya ada satu model Al Qur ’an. Yaitu Al Qur’an
Mushaf Utsmani. Memang ada berbagai aliran
bacaan dalam Al Qur ’an yang kemudian dikenal
dengan berbagai madzhab bacaan (qiroaat). Namun
berdasarkan studi kesejarahan, berbagai ragam
qiroaat tersebut diajarkan sendiri oleh Rasulullah
SAW. Malah dalam sebuah hadits beliau
bersabda: ”Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan atas
tujuh huruf (model bacaan). “ (HR. Abu
Ya’la).Sehingga dengan demikian, keragaman
bacaan tersebut tidak merusak bacaan Al Qur’an.
Sebab keragaman tersebut adalah dari Allah Ta’ala.
Bukan rekayasa manusia.
Sementara berbagai kitab suci yang lain, keaslianya
diragukan. Allah sendiri telah mengisyaratkan hal ini
dalam Al Qur ’an,”Celakalah mereka yang menulis Al
Kitab dengan tangan-tangan mereka. Kemudian
mereka berkata: ‘Ini (Al Kitab palsu) dari Allah’.
(semua itu mereka lakukan) supaya mereka dapat
membeli (dunia) dengan harga yang murah. ” (QS.
Al Baqarah: 79).Misalnya kitab Injil. Kitab ini memiliki
ratusan versi. Ketika dilakukan konsili (sidang Gereja-
gereja) Nicea, sekitar 300 M, telah ada sekitar 300
versi Injil. Dimana masing-masing versi tersebut
memiliki perbedaan-perbedaan yang mendasar.
Kemudian, Kaisar Constantin I mendekritkan Markus
versi Injil saja yang disahkan. Yaitu versi Matius,
Lukas, Markus dan Yohanes. Pengesahan ini
menurut para ahli sejarah sarat dengan tendensi
politik Kaisar.
Berbagai kepalsuan Al kitab tersebut Nampak jika kita
mengamati berbagai isinya. Bukan hanya itu. Kitab-
kitab suci selain Al Qur ’an diatas memuat hal-hal
yang menjijikkan yang tidak pantas untuk dimuat
dalam sebuah buku pelajaran sekolah sekalipun.
Apalagi jika dimuat dalam kitab suci. Misalnya
ungkapan berikut: ”Aku bagaikan tembok dan buah
dadaku bagaikan menara.” (8: 10).“Sosok tubuhmu
seumpama pohon kurma dan buah dadamu
gugusanya. Kataku, ‘Aku ingin memanjat pohon
kurma itu dan memegang gugusan-gugusannya’.
Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan
nafas hidungmu seperti buah apel. ” (7: 7-8).
Kita juga bisa melihat berbagai penodaan terhadap
para Nabi yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut.
Misalnya di Ulangan 2: 19, disitu diceritakan
bagaimana Nabi Luth berzina dengan kedua anaknya
sendiri. Dalam kejadian 32: 28 dikatakan bahwa Nabi
Ya ’kub dikutuk oleh Tuhan sehingga Tuhan tiada lagi
sudi menyebut namanya. Dan masih banyak lagi
berbagai keganjilan yang menunjukkan kepalsuan
kitab-kitab terdahulu (Injil dan Taurat) saat ini.
Dan diantara keempat versi tersebut, saat ini yang
masih asli pun diragukan. Sebab saat ini versi-versi
Injil tersebut telah diterjemahkan kedalam berbagai
bahasa di dunia. Dan diantara masing-masing versi
terjemahan tersebut terdapat perbedaan-perbedaan
makna mendasar. Sementara versi yang asli dalam
bahasa Aramaic pun nyaris tidak dikenal oleh
kalangan Kristiani. Sudah tentu keaslian kitab-kitab
tersebut sangat diragukan.
Kedua, Al Qur’an bersifat syaamil. Artinya, seluruh
aspek kehidupan manusia dibahas didalam Al
Qur ’an. Bagi mereka yang berdoa, mereka dapat
menemukan bimbingan dari Al Qur’an. Bagi para
penguasa, mereka juga dapat menemukan
bimbingan dari Al Qur ’an. Bidang-bidang ekonomi,
keluarga, pemerintahan dan pergaulan, juga tidak
terlepas dari bahasan Al Qur ’an. Pendeknya, tidak
ada satu pun bidang kehidupan yang tertinggal dari
Al Qur ’an. Hingga Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq
berkata,”Andaikan aku kehilangan tali kendali unta,
saya pasti akan menemukan jawabanya di dalam Al
Qur ’an.”
Sementara kitab-kitab suci yang lain sangat parsial.
Kitab Injil misalnya, disana tidak membahas hukum-
hukum perang, jual-beli, rumah tangga, dan lain-
lain. Kitab Zabur hanya berisi puji-pujian dan doa-
doa. Sedang kitab Taurat yang ada saat ini penuh
berisi hal-hal yang tidak masuk akal dan menjijikkan.
Ketiga, Al Qur’an selalu dapat dibuktikan
kebenaranya dengan akal. Bahkan banyak yang
mendahului penemuan akal manusia. Jauh sebelum
manusia menemukan ilmu bedah dan pemantauan
kandungan, Allah Ta ’ala telah menginformasikan
dalam Al Qur’an tahapan-tahapan pembentukan
janin manusia. Allah berfirman:”Dan sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) di tempat yang kukuh (rahim). Kemudian
air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Lalu
segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang. Lalu tukang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk
yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah,
Pencipta Yang Paling Baik. ” (QS. Al Mu’minuun: 14).
Sementara berbagai kitab suci lain yang saat ini ada
banyak yang bertentangan dengan akal sehat
manusia. Dalam Perjanjian Lama (Old Testinoniy)
misalnya, terdapat kisah bagaimana Nabi Ya ’kub
bergulat dengan Allah (Kejadian 32:28). Sudah tentu
ini merupakan suatu hal yang tidak masuk akal.
Lebih menakjubkan lagi adalah bahwa dalam
pergulatan itu Allah kalah. Subhanallah!
Ayat diatas juga mengisyaratkan kepada kita bahwa
seluruh kitab-kitab agama samawi berasal dari
sumber yang sama. Karena itulah, jika misalnya ada
kemiripan antara AL Qur ’an dengan berbagai kitab-
kitab yang terdahulu., hal itu bukan berarti jiplakan.
Tapi suatu kewajaran. Bukankah semua berasal dari
sumber yang sama?!.
Ada beberapa kesamaan utama antara Al Qur’am
dengan ktab-kitab suci sebelumnya. Antara lain
dalam masalah tauhid. Semua kitab-kitab suci
terdahulu yang masih murni pasti mengajarkan
tauhid. Hanya saja kemudian timbul berbagai
tambahan dalam kitab-kitab suci terdahulu (Taurat
dan Injil) yang menyimpang dari tauhid. Seperti
ajaran Trinitas misalnya. Atau jika di dalam Taurat,
kita akan menemukan banyak sekali kisah-kisah
yang berisi peleceham terhadap kesucian Allah dan
para Nabi.
Diantara kesamaan yang lain adalah masalah
keyakinan tentang kiamat dan alam akhirat. Semua
kitab-kita suci mengajarkan masalah ini. Dan untuk
dua hal ini, sebagaian besar kitab-kitab suci tersebut
relatife sama. Ini yang membedakan kitab-kitab suci
samawi. Kitab Weda (Hindu) dan Tripika (Budha)
misalnya, di sana tidak ada istilah kiamat. Menurut
ajaran Weda, seluruh makhluk akan terus hidup.
Demikian dengan dunia. Menurut Weda, dunia tidak
akan pernah mengalami kiamat. Yang ada menurut
Weda adalah Reinkarnasi(tanassukh) dan Karma.
Yaitu bahwa makhluk hidup akan selalu lahir kembali
dengan berbagai bentuk baru (tanassukh) sesuai
dengan amal perbuatanya dalam kehidupan
sebelumnya (karma). Demikian terjadi secara terus-
menerus. Allahu a ’lam