Lillah Billah Lirrosul Birrosul Lilghouts bil ghouts.

Selasa, 04 Januari 2011

KETIKA DISANJUNG

Semua orang pasti senang bila di sanjung dan di
puji. Namun sanjungan dan pujian yang berlebihan
seringkali dapat menjerumuskan seseorang pada
perbuatan tercela. Orang yang mabuk pujian akan
menganggap dirinya sempurna, terpuji dan
terhormat. Dia akan menilai bahwa derajat dan
kehormatan seseorang ditentukan oleh sedikit
banyaknya orang yang memuji. Jika yang memuji
sedikit, maka derajatnya rendah. Sebaliknya, jika
yang memujinya itu banyak maka dia termasuk
orang yang terhormat dan mulia.
Itulah penilaian orang bodoh, yang hatinya telah
dikuasai oleh luapan hawa nafsu, yang tidak
mengerti makna dan tujuan sanjungan. Sehingga ia
menilai bahwa sanjungan merupakan barometer
untuk mengukur kemuliaan seseorang. Dan
pemikiran inilah yang akhirnya ia melakukan
berbagai cara untuk mendapatkan sanjungan.
Karena itu, hendaknya kita dapat menjaga diri
jangan sampai mabuk sanjungan. Sebab, mabuk
sanjungan dapat membutakan mata hati dan
mengeruhkan akal pikiran, sehingga kita tidak bisa
membedakan kebenaran dan kebatilan. Oleh sebab
itu, kita harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Jangan terlalu bergembira ketika menerima
sanjungan
Hal ini karena tidak sedikit sanjungan itu hanya
merupakan umpan untuk menjerumuskan
seseorang kedalam kehancuran. Seperti pujian yang
diterima ketika melakukan kemaksiatan.
Orang yang berakal sehat dan berhati jernih tidak
akan merasa gembira dengan sanjungan yang
ditujukan kepadanya. Ia sadar bahwa orang yang
menyanjungnya itu hanya menyebutkan kebaikan
saja, sedangkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan
ditutup-tutupi. Ia tidak suka kepada sanjungan dan
pengakuan dari orang lain. Ia lebih suka kritik yang
bersifat konstruktif. Karena hal itu merupakan
penunjuk kekurangan, kesalahan, dari tergelincirnya
amal perbuatan, sehingga dirinya dapat terhindar
dari kesalahan fatal. Dengan demikian, jiwanya akan
tetap suci dari kecongkakan, bersih dari sifat tercela.
2. Jangan membenci kritikan
Banyak orang yang tidak suka di kritik. Di
anggapnya kritikan itu adalah hujatan dan cacian
terhadap dirinya, padahal tidaklah demikian.
Penilaian seperti ini adalah akibat dari mabuk
sanjungan dan pujian sehingga dia benci terhadap
kritikan, meskipun kritikan itu akan mengentaskan
dia dari lumpur kefasikan.
Disamping itu, kedewasaan cara berfikir seseorang
dapat dilihat dari cara dia menerima kritikan. Orang
yang berpengetahuan luas, berakhlak mulia, jernih
hatinya, lapang dadanya dan tawadhu ’ tingkah
lakunya akan senang bila dirinya dikritik dan ditegur
kesalahanya. Baginya, kritikan yang bersifat
konstruktif merupakan teguran terhadap
kesalahanya, sekaligus pelurus pada jalan yang
benar. Ia menilai orang yang mengkritik dirinya itu
adalah orang yang menunjukan rasa simpati
kepadanya, serta menghawatirkan kalau dirinya
terjerumus dalam kesesatan.
Sebaliknya, orang yang berjiwa kerdil, buruk
akhlaknya, sempit hatinya dan tumpul otaknya akan
sangat marah dan tersinggung bila dirinya di kritik.
Sebab kritik yang dilakukan oleh orang lain akan di
anggap sebagai rongrongan dan pengusik
kemapanan dirinya. Bahkan ia tega berbuat kejam
terhadap orang yang mengkritik itu. Maunya ingin
selalu di puji dan di sanjung terus. Meskipun
sanjungan itu berupa ‘duri’ yang menyengat
tenggorokanya. Inilah orang yang matanya telah
tertutup oleh kejahatan sehingga tidak bisa melihat
terangnya sinar matahari.
3. Jangan memuji diri sendiri
Memuji diri sendiri adalah perangai orang bodoh
yang tidak tahu harga dirinya, sehingga ia perlu
memuji dirinya untuk mengangkat martabatnya dan
kehormatanya di hadapan orang lain.
Kita pasti tidak suka mendengar orang lain memuji
dirinya sendiri. Begitu pula orang lain, tidak akan
suka mendengar kita memuji diri kita sendiri. Allah
telah memperingatkan agar seseorang tidk
menganggap dirinya suci dan paling baik.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Maka
janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah
yang paling mengetahui tentang orang yang
bertakwa. ” (QS. An-Najm:32).
Yang berhak nilai baik buruknya seseorang adalah
Allah. Sedangkan orang yang menganggap dirinya
suci, paling mulia, paling baik dan paling terhormat
adalah merupakan bentuk kesombongan yang
melampaui batas. Ia tidak merasa malu mengatakan
demikian di hadapan Allah maupun di hadapan
makhluk-Nya padahal setumpuk kejahilan dan
kejahatan berada di pelupik matanya.
Salah seorang hukama’ pernah ditanya: “Apa
kebenaran yang buruk itu?” Ia menjawab,
“Seseorang yang memuji terhadap dirinya sendiri.”
Letak riya’ dan senang disanjung itu bersumber dari
hati yang dipenuhi noda cela. Ia termasuk penyakit
hati yang bisa menelanjangi amal. Karena itu,
hendaknya kita menaburi jiwa dengan akhlak yang
terpuji, menyingkirkan jauh-jauh perasaan dari
mabuk sanjungan dan kehormatan, karena ini
merupakan tipu daya syetan yang hendak
merontokan amal. Dan jangan lupa untuk selalu
memohon ampunan kepada Allah dari segala noda
yang pernah melekat dalam kalbu serta
memperbanyak mujahadah. Wallahu a ’lam

Minggu, 02 Januari 2011

RANGKUMAN PENGAJIAN AL HIKAM 02 JAN 2011

RANGKUMAN PENGAJIAN AL HIKAM 02 JAN 2011

Assalamualaykum warrokhmatullohi wabarokatuh

Segala salah dan khilaf saya mohon maaf yang sebesar besarnya informasi ini diperoleh dari sdr.Barek Bom Nda dan ditulis kembali Ika Gp.

Rangkumannya sbb:

1. Jika manusia belum dibukakan ma'rifat kepada Alloh SWT maka akan terpenjara dan terkuasai dunia/makhluk.

2. Jika manusia sudah Musyahadah kepada ALLOH SWT maka dunia akan mendekat dan ingin menjadi hamba orang tersebut,sehingga apapun yang diinginkan akan terwujud.

3. Harta itu bersifat rohani/ghoib ,apapun yang tampak dimata kita itu adalah perlambang harta.

4. Mbah Ma'ruf RA dicaosi tanah 20 hektar tapi beliau mboten kerso karena beliau mboten butuh,sebab setiap butuh beliau nyuwun dan diberi.

5. Jika orang bisa melihat ALLOH maka makhkluk akan hilang begitu juga sebaliknya.

6. Mari dilatih,di Riyadhoi dibayangkan makhkluk tunduk tapi BILLAH karena ALLOH.

7. JIKA MALAS mujahadah ingatlah janji ALLOH SWT dalam kitab suci bahwa barangsiapa bertaqwa akan diberi jalan keluar.

8. Jika belum diberi mungkin karena agar kita lebih meningkatkan dan lebih bersungguh sungguh.

9. Semua pengamal punya kesempatan yang sama,siapa yang mujahadah nya sungguh sungguh akan dikaruniai Karomah oleh ALLOH SWT.

10. Mulai tahun ini bulan ini mari kita tingkatkan jika tidak ada peningkatan APA GUNANYA???

Sekian semoga manfaat Jazaakumulloh.

Wassalam

nb.dicatat atas dasar pribadi penulis, bukan resmi dari YPW/PONPES.Trima kasih

ILMU,AMAL,HARTA DAN KEKUASAAN SUMBER SUMBER KESOMBONGAN

Dosa pertama yang dilakukan makhluk terhadap
Tuhanya adalah sombong. Pelakunya adalah Iblis,
seteru manusia. Saking sombongnya, Iblis berani
menentang perintah Allah agar mengakui
keunggulan manusia. Kebanggaan terhadap asal-
usul dan rasa senioritas mendorongnya untuk
mengklaim diri sebagai yang paling baik.
Kesombongan, tidak saja menyebabkan Iblis lupa
siapa dirinya, juga lupa terhadap keluhuran
Tuhanya. Ketika Allah dengan sangat murka
mengusirnya, malah dia berani menghujat-Nya.
Alih-alih interopeksi, merenungi dan menyesali
kesalahan, Iblis malah melemparkan kesalahan itu
kepada Allah.
“Ia (syetan) berkata: Oleh karena Engkau (Allah) telah
menyesatkan aku, maka sungguh aku akan
menghalangi mereka (manusia) dari jalan-Mu yang
lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari
depan, belakang, kanan serta kiri. Kemudian Engkau
tidak akan menjumpai kebanyakan mereka itu
benar-benar bersyukur (taat). ” (QS. Al A’raf: 16 17).
Salah satu ciri kesombongan adalah rasa paling
benar sendiri. Dalam hal ini, syetan menganggap
dirinya layaknya Tuhan yang tidak pernah salah. Se-
akan-akan sifat ke-Maha Sempurna-an yang hanya
milik Allah hendak dikudeta. Karenanya, sifat ini
sangat berbahaya jika terjangkit pada manusia. Bila
kesombongan telah mencapai puncaknya, seperti
yang dilakukan Fir ’aun, manusia akan
memproklamirkan diri sebagai Tuhan.
Dengan penuh dendam, Iblis sangat berambisi
untuk menyesatkan sebanyak mungkin manusia
melalui berbagai perangkap yang telah dipasangnya.
Salah satunya adalah sisat sombong yang memang
telah menjadi wataknya. Virus kesombongan itu
setiap saat terus ditularkan kepada siapa saja.
SUMBER-SUMBER KESOMBONGAN
Ada sejumlah celah yang bisa dijadikan alat
perangkap manusia agar bersifat sombong.
Pertama, ILMU PENGETAHUAN. Syetan sanantiasa
menghasut orang-orang yang berilmu agar berlaku
sombong dengan ilmu yang dimilikinya. Mereka
yang terjebak, akan menganggap bahwa dirinya
adalah paling pintar. Sedangkan orang lain dianggap
bodoh dan bermartabat rendah. Akhirnya ia
menjadi gila hormat dan menuntut perlakuan yang
istemewa dari orang lain.
Padahal seharusnya, semakin tinggi ilmu seseorang,
justru semakin rendah hati. Hal ini disebabkan
kesadaranya kepada Allah juga semakin
tinggi. “Sesungguhnya yang paling takut kepada
Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah
ulama ’ (orang-orang berilmu).” (QS. Al Fathir: 28).
Akan tetapi, benar apa yang dikatakan Nabi dalam
hadits riwayat Ad Dailami. Ilmu itu sendiri, jika tidak
disertai hidayah Allah, tidak akan menjadikan dan
menambah dekatnya si pemilik ilmu kepada Allah.
Sehingga, kata Nabi, ”Siapa yang hanya bertambah
ilmunya tetapi tidak bertambah hidayah-Nya, maka
bukanya ia menjadi semakin dekat dengan Allah,
melainkan justru semakin jauh kepada Allah. ”
Hal yang sama juga sering di dawuhkan Hadrotul
Romo Yahi: “Ilmu tidak bisa membuat seseorang
sadar kepada Allah, tetapi hidayahlah yang
menuntun seseorang sadar kepada Allah. ” Karena
itu, disamping menuntut ilmu, seseorang juga
‘ wajib’ mujahadah (agar mendapatkan hidayah).
Dikatakan wajib, sebab menurut Imam Al Ghazali
dalam kitab Ikhya ’nya: “…. Tidak ada kunci lain untuk
mendapatkan hidayah, selain dengan mujahadah.”
Kedua, AMAL IBADAH. Kesomongan secara sangat
halus juga dihembuskan syetan kepada para ahli
ibadah. Dengan ibadah yang dilakukanya, tidak
sedikit orang yang merasa seolah-olah telah menjadi
menusia yang paling dekat dengan Allah, calon
penghuni surga dan merasa paling bebas dari azab
Allah. Ia memandang dirinya lebih selamat dan
aman dari azab Allah, sehingga merasa lebih berhak
untuk mendapat pahala-Nya Allah. Bahkan ditengah-
tengah masyarakat, ia merasa bahwa dirinya adalah
kekasih Allah.
Sifat ini harus di waspadai oleh stiap kita. Jika di
dalam hati kita terlintas rasa bangga atas ibadah-
ibadah yang kita lakukan, maka sesungguhnya
petaka besar telah menimpa kita. Dan itu pertanda
bahwa ibadah kita kosong nilainya, penuh nafsu.
Apalagi kalau ditambah dengan menganggap enteng
kadar ibadah orang lain.
Ketiga, HARTA KEKAYAAN. Aroma dunia sering
membuat seseorang lupa diri. Termasuk diri kita.
Bahkan terkadang kita menyangka bahwa
kenikmatan dunia adalah abadi. Hingga seluruh
energi dan perhatian kita curahkan untuk
mendapatkanya. Saat kekayaan itu telah diraih, kita
merasa bahwa semua itu murni hasil jerih payah
kita sendiri. Sedangkan peran rahmat dan
kemurahan Allah dilupakan sama sekali.
Akibatnya, ia menjadi tinggi hati. Kekayaan duniawi
dianggapnya sebagai sebuah prestasi. Orang-orang
miskin dan lemah cenderung diremehkanya. Dia
menganggap mereka sebagai orang-orang pemalas
yang tak pantas dikasihani. Akhirnya sifat kikirnya
pun menjadi-jadi sehingga membawanya kepada
kekufuran. Dia tidak hanya mengingkari hak-hak
manusia, tetapi juga mengingkari hak-hak Allah
sebagaimana kisah yang menimpa Tsa ’labah pada
zaman Rasulullah SAW. Padahal Allah senantiasa
mewanti-wanti, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu
memaklumkan: Sungguh jika kamu bersyukur, pasti
Aku akan tambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. ” (QS. Ibrahim:
7).
Keempat, KEKUASAAN. tidak banyak yang
menyadari bahwa kekuasaan yang dimiliki
seseorang adalah amanat dari Allah yang senantiasa
harus dijaga kesucianya. Justru kebanyakan orang
menganggap kekuasaan adalah ALAT untuk meraup
sebanyak-banyaknya keuntungan duniawi. Tidak
heran kalau manusia terus berlomba bahkan
bertarung memperebutkan kekuasaan dan jabatan.
Jika perlu, mereka siap menghalalkan segala cara
bahkan siap kalaupun harus mati. Yang penting
kekuasaan berada dalam genggamanya.
Mereka tidak sadar bahwa kekuasaan yang
didapatkan dengan cara seperti itu membawanya ke
jurang kebinasaan. Yang dia fikirkan adalah
bagaimana mengeksploitas kekuasaan tersebut
untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin.
Untuk tujuan tersebut mereka tidak segan-segan
melakukan penyimpangan dan berbagai tindak
kesewenangan. Mereka tidak lagi berfikir bagaimana
seharusnya melayani kepentingan rakyatnya, tap
justru rakyatlah yang harus selalu siap melayani
kepentingan dan ambisinya.
Di mata mereka, orang-orang lemah begitu tidak
berharga karena tidak akan memberikan manfaat
yang banyak untuk menopang kekuasaanya.
Sebaliknya, kepada orang-orang kuat dan
berpengaruh, mereka begitu curiga dan khawatir
akan melakukan kudeta …, dan sejenisnya.
Sebagaimana Fir’aun kepada orang-orang yang
begitu peka terhadap hal-hal yang dianggap akan
membahayakan kekuasaanya. Akhirnya, semua
potensi masyarakat pun dilibasnya.
Di tengah-tengah ketidak berdayaan masyarakat
itulah ia bertindak bak Tuhan. Semua perintahnya
harus di anggap ‘sabda’. Semua tindakanya harus di
anggap kebijakan. Allah SWT
berfirman: ”Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat
sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan
penduduknya berpecah-belah, dengan menindas
segolongan dari mereka. Dia menyembelih anak-
anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir ’aun
termasuk orang-orang yang membuat
kerusakan. ” (QS. Al Qashas: 4).
Itulah beberapa celah rawan perangkap syetan
untuk menghasut manusia agar bersikap sombong.
Di luar itu, masih banyak celah lain yang harus
senantiasa ditutup rapat-rapat. Kuncinya adalah
dengan senantiasa mengetrapkan LILLAH-BILLAH,
LIRRASUL-BIRRASUL dan LILGHAUTS-BILGHAUTS.
Ilmu, amal, harta dan kekuasaan, semua dari Allah
(Billah) dan semata-mata untuk pengabdian diri
kepada Allah (Lillah). Semakin merasa bisa ibadah
seseorang, justru ia semakin tidak ibadah.
Sebaliknya semakin merasa tidak mampu
melakukan ibadah ketika seseorang sedang ibadah,
justru itulah sebenarnya ibadah. Semakin Billah,
semakin tinggi nilai ibadahnya. Semakin terlindungi
dari bujuk rayu nafsu dan bisikan syetan.
Pertanyaanya sekarang; sudahkan semua amal
ibadah kita dan segala yang kita milki di sadari dan
didasari LILLAH dan BILLAH?
Wallahu a’lam

Sabtu, 01 Januari 2011

HARTA TERMAHAL KITA

Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja atas
mereka, apakah kamu beri peringatan atau kamu
tinggalkan. Tetap saja mereka tidak akan beriman.
Allah telah menutup hati dan pandangan mereka.
Dan pada mata mereka terdapat penutup. Dan Bagi
merekalah siksa yang pedih. ”(QS. Al Baqarah: 6-7).
Kata kafir berasal dari fi’il madhi: kafaro, yang artinya
menentang atau mengingkari. Satu hal yang perlu
menjadi perhatian kita adalah kata kafir tidak selalu
indentik dengan kaum nonmuslim. Sebab
adakalanya kata kafir yang memilki pengertian
mengingkari nikmat Allah. Sebagaimana firman-
Nya: ”Jika kalian bersyukur, sungguh akan AKU
tambah (nikmat-KU) atas kalian. Namun jika kalian
mengingkari (kafir/kafartun) terhadap nikmat-KU,
maka sesungguhnya siksa-KU sangatlah
pedih. ” (QS. Ibrahim: 7)
Syekh Ismail Haqqy Al Bursawi dalam kitabnya
Ruuhul Bayaan mengatakan bahwa dalam ayat ini
artinya menentang sifat Allah. Atau dalam
pengertian lain, kafir dalam ayat ini mengacu kepada
mereka yang berada di luar garis Islam
(nonmuslim).
Ayat di atas secara samar menginformasikan
kepada kita bahwa Rasulullah SAW adalah seorang
Rasul yang welas asih kepada seluruh umat. Di
antara sesuatu yang menjadi pokok pemikiran beliau
adalah bagaimana menyelamatkan seluruh umat
manusia dari siksa neraka yang dahsyat. Karena
itulah, hari-hari beliau senantiasa tidak pernah
kosong dari upaya mengajak kepada umat manusia
agar kembali ke jalan Islam. Allah menggambarkan
kepribadian beliau yang luhur ini dalam firman-
Nya: ”Benar-benar telah datang kepada kalian
seorang utusan dari kalangan kalian. Berat sekali
baginya apa-apa yang menimpa kalian. Ia ingin
sekali kalian mendapatkan keselamatan. Dan
terhadap kaum mukmin ia sangat mengasihi dan
menyayangi. ” (QS. At-Taubah: 128).
Sudah tentu, Rasulullah SAW sangat sedih dan
prihatin jika panggilan tersebut tidak mendapatkan
sambutan yang semestinya, atau bahkan ditolak.
Apalagi jika yang menolak itu adalah keluarga beliau
sendiri. Seperti Abu Lahab. Atau bahkan Abu Thalib,
paman beliau yang selama ini menjadi pengasuh
beliau dan melindungi beliau dari kekejaman kaum
kafir Quraisy.
Karena itulah, Allah SWT dalam ayat di atas
memberitahukan bahwa perkara iman atau kafir
adalah urusan Allah. Dalam sebuah hadits shahih,
Rasulullah SAW besabda :
”Sesungguhnya kalian dikumpulkan bahanya di
dalam perut ibunya selam empat puluh hari dalam
bentuk mani. Kemudian setelah itu menjadi alaqoh
(darah kental) selama itu pula. Demikian juga selama
itu pula kemudian menjadi mudghoh (daging).
Kemudian dikirimkan kepadanya malaikat yang
meniupkan ruhnya dan diperintahkan untuk menulis
empat hal. Rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka
atau bahagia. Demi Allah, sesungguhnya seorang
beramal dengan amalan ahli surga sehingga diantara
dia dan surga hanya sejarak sehasta. Namun karena
Al kitab telah mendahuluinya, maka kemudian ia
melakukan pekerjaan ahli neraka hingga akhirnya
kemudian ia memasukinya. Demi Allah,
sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan
ahli neraka sehingga antara dia dan neraka hanya
berjarak sehasta. Namun karena Al kitab
mendahuluinya, maka ia kemudian melakukan
pekerjaan ahli surga hingga akhirnya kemudian
melakukan pekerjaan ahli surga hingga akhirnya
kemudian memasukinya. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu tugas sebenarnya seorang Rasul tiada lain
hanyalah menyampaikan. Sebagaimana firman
Allah: ”…Dan jika mereka berpaling, maka tiada lain
kewajibanmu kecuali hanya menyampaikan…” (QS.
Ali Imran: 20).
Sedangkan masalah seseorang itu menjadi mukmin
atau kafir, semuanya adalah Allah yang
menentukan.
Inilah yang seharusnya menjadi spirit para juru
dakwah dimanapun berada. Bahwa setiap da ’i
haruslah ada rasa kasih-sayang kepada umat.
Bahwa setiap da ’i harus memusatkan perhatianya
untuk mengajak umat kejalan Allah. Bahwa setiap da
‘ i haruslah tiada bosan-bosan untuk berdakwah.
Namun semua aktivitas tersebut haruslah dengan
niat karena atas menaati perintah Allah semata
(Lillah). Sedangkan diterima atau ditolaknya dakwah
yang dilakukan oleh seorang da ’i, itu menjadi urusan
Allah atau Billah. Iman dan kafir bukan da’i yang
menentukan. Bahkan seorang Nabi dan Rasul pun
tidak mampu membuat seseorang menjadi
mukmin. Sekali lagi, semua hal yang berkaitan
dengan iman dan kafir semata-mata adalah
wewenang dan hidayah Allah Ta ’ala.
Satu hal lagi yang menarik dari ayat ini adalah
bahwa iman kita ini benar-benar menunjukan kasih-
sayang Allah kepada kita. Hal ini seharusnya
membuat kita semakin banyak merunduk kepada
Allah. Semakin cinta kepada Allah. Semaikn
menyadari bahwa kita ini mendapat fasilitas yang
istemewa dari Allah. Bukankah Abu Thalib, paman
sekaligus besan Rasulullah SAW, ayah dari Khalifah
Ali KW sekaligus kakek dari Hasan dan Husein serta
leluhur dari para Habaib dan Syarif tiada
mendapatkan anugerah iman sebagaimana kita?
Bukankah Kan ’an, putera dari Nabi Nuh AS, salah
seorang Ulul Azmi tiada mendapatkan keimanan
sebagaimana kita? Bukankah Azar, ayahanda Nabi
Ibrahim AS tiada mendapatkan iman sebagaimana
kita? Karena itulah, seharusnya sehari-hari kita selalu
dipenuhi oleh rasa syukur terhadap nikmat iman ini.
Hingga akibat rasa syukur ini, kesedihan kita
terhadap berbagai problem materi kita menjadi
tertutupi. Bahkan kemudian dihilangkan oleh Allah
Ta ’ala.
Ayat ini seharusnya membuat kita semakin cemas
kepada keputusan Allah. Sebab kita tidak tahu,
adakah iman kita masih akan tetap menyertai kita
saat kita meninggal nanti? Bukankah banyak orang
yang tidak mendapatkan keabadian iman? Qarun,
yang sebelumnya ahli Taurat, mengakhiri hidupnya
dengan kekafiran. Barshisho, seorang wali penuh
karomah mengakhiri hidupnya dengan kekafiran.
Bal ’aam, seorang wali dan ulama juga mengakhiri
hidupnya dengan kekafiran. Siapa yang menjamin
keimanan kita akan tetap menyertai kematian kita?
Allah SWT memperingatkan hal ini dalam firman-
Nya: “Adakah mereka merasa aman dari makar/
jebakan/ azab Allah? Maka tidaklah merasa aman
dari jebakan Allah kecuali orang-orang yang
merugi. ” (QS. Al A’raf: 99).
Inilah sikap hati kita sebagai seorang mukmin. Selalu
merendah. Selalu cemas. Selalu takut kepada Allah.
Wallahu a ’lam