Lillah Billah Lirrosul Birrosul Lilghouts bil ghouts.

Selasa, 26 Juli 2011

TERJEMAHAN KITAB KIMYATUSYI SYA'ADAH (IMAM AL GHAZALI) I. PENDAHULUAN

Ketahuilah bahwa manusia ini bukanlah dijadikan
untuk gurau-senda atau “sia-sia” saja. Tetapi
adalah dijadikan dengan ‘Ajaib sekali dan untuk
tujuan yang besar dan mulia. Meskipun manusia
itu bukan Qadim (kekal dari azali lagi), namun ia
hidup selama-lamanya. Meskipun tubuhnya kecil
dan berasal dari bumi, namun Ruh atau Nyawa
adalah tinggi dan berasal dari sesuatu yang
bersifat Ketuhanan. Apabila hawa nafsunya
dibersihkan sebersih-bersihnya, maka ia akan
mencapai taraf yang paling tinggi. Ia tidak lagi
menjadi hamba kepada hawa nafsu yang rendah.
Ia akan mempunyai sifat-sifat seperti Malaikat.
Dalam peringkat yang tinggi itu, didapatinya
SyurgaNya adalah dalam bertafakur mengenang
Alloh Yang Maha Indah dan Kekal Abadi.
Tidaklah lagi ia tunduk kepada kehendak-kehendak
kebendaan dan kenafsuan semata-mata. Al-
Kimiya’ Keruhanian yang membuat pertukaran
ini. Seorang manusia itu adalah ibarat Kimia yang
menukarkan logam biasa (Base Metal) menjadi
emas. Kimia ini bukan senang hendak dicari. Ia
bukan ada dalam sebarang rumah orang.
Kimia ini ialah ringkasnya berpaling dari dunia dan
menghadap kepada Alloh Subhanahuwa Taala.
Bahan-bahan Kimia ini adalah empat :
1. Mengenal Diri
2. Mengenal Alloh
3. Mengenal Dunia ini Sebenarnya. (Hakikat Dunia)
4. Mengenal Akhirat sebenarnya (Hakikat Akhirat)
Tambah lagi satu bahan-bahan kimianya yaitu
Mencintai Alloh sebagaimana yang terdapat dalam
bab-bab.
Kita akan teruskan perbincangan kita berkenaan
bahan-bahan ini satu-persatu…Insya Alloh.
Untuk menerangkan Al-Kimiya’ itu dan cara-cara
operasinya, maka pengarang (Imam Ghazali)
coba menulis Kitab ini dan diberi judul “Al-Kimiya’
As-Saadah” yakni Kimia Kebahagiaan. Bahwa
perbendaharaan Tuhan dimana Kimia ini boleh
didapati ialah Hati Para Ambiya’ dan pewaris-
pewarisNya dari kalangan ulama-ulama Sufi
kalangan Aulia Alloh. Barang siapa yang
mencarinya selain itu adalah sia-sia dan akan
Muflis (bangkrut) di Hari Pengadilan kelak apabila
ia mendengar suara yang mengatakan :
“Kami telah angkat tirai dari kamu, dan
pandangan kamu hari ini sangat tajam dan
nyata”. (Qaaf:22)
Alloh Subhanahuwa Taala telah turunkan ke bumi
ini 124,000 orang Ambiya untuk mengajar
manusia tentang bahan-bahan Al-Kimiya ini.
Bagaimana hendak menyucikan hati mereka dari
sifat-sifat rendah dan keji itu. Ikuti perkembangan
perbincangan Imam Ghazali ini dari satu tingkat
ke satu tingkat yang membuka jalan-jalan orang-
orang Sufi yang mencapai Maqam Mahabbah,
puncak tertinggi kebahagiaan yang ingin dimiliki
oleh orang-orang yang Mengenal Alloh.

Sabtu, 23 Juli 2011

NAFSU MENGUASAI?????ATAU DIKUASAI

“Jika kita menguasai diri, kita akan menguasai
dunia,” demikian kata-kata para ilmuwan.
Dalam Shahihain disebutkan, bahwasanya Rasul
SAW bersabda “Surga itu dikelilingi dengan hal-
hal yg dibenci, adapun neraka dikelilingi dengan
berbagai syahwat.”
Imam Shâdiq radiyallahu ‘anhu juga berkata:
“Janganlah kalian biarkan jiwa bersanding
bersama hawa nafsu. Karena, hawa nafsu pasti
(membawa) kehinaan bagi jiwamu.” Tetapi
masalahnya adalah bagaimana jika kita gagal
menguasai nafsu kita sendiri? Sudah pastilah kita
pula yang akan dikuasainya. Jika demikian amat
buruk akibatnya lantaran nafsu itu adalah ‘hamba’
yang baik tetapi ‘tuan’ yang sangat jahat.
Sesungguhnya orang yang sukses adalah orang
yang gigih mencari kebaikan dunia tetapi selamat
daripada tipuannya. Seperti dalam surah Al-
An’am ayat 32 Allah berfirman:
ُﺓَﺮِﺧَﻷْﺍ ُﺭﺍَّﺪَﻟََﻭ ٌﻮْﻬَﻟَّﻭ ٌﺐِﻌَﻟ َّﻻِﺇ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُﺓﻮَﻴَﺤْﻟﺍﺎَﻣَﻭ
َﻥْﻮُﻠِﻘْﻌَﺗ َﻼَﻓَﺃ َﻥْﻮُﻘَّﺘَﻳ َﻦْﻳِﺬَّﻠِّﻟ ٌﺮْﻴَﺧ
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari
main-main dan senda gurau belaka[10],dan
sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi
orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu
memahaminya?”.
Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, dalam
ucapannya yang popular: “Dulunya kita adalah
kaum yang paling hina, kemudian Allah SWT
memuliakan kita dengan agama Islam, maka
kalau kita mencari kemuliaan dengan selain
agama Islam ini, pasti Allah SWT akan
menjadikan kita lebih hina dan rendah tidak ada
nilai. (Riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)
.
Dalam surah Yunus ayat 58 Allah berfirman:
َﻮُﻫ ﺍْﻮُﺣَﺮْﻔَﻴْﻠَﻓ َﻚِﻟﺍَﺬِﺒَﻓ ِﻪِﺘَﻤْﺣَﺮِﺑَﻭ ِﻪﻠﻟﺍ ِﻞْﻀَﻔِﺑ ْﻞُﻗ
َﻥْﻮُﻌَﻤْﺠَﻳ ﺎَّﻤِّﻣ ٌﺮْﻴَﺧ
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-
Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira
(karunia Allah dan rahmat itu), adalah lebih baik
dari apa yang mereka kumpulkan”.
Karunia Allah dalam ayat ini mayoritas para ulama
menafsirkan dengan keimanan kepada-Nya,
adapun rahmat Allah ditafsirkan dengan Alquran
[11]. Ibnu al-Qayyim dalam soal keutamaan
melawan hawa nafsu mengatakan
“Sesungguhnya melawan hawa nafsu bagi
seorang hamba melahirkan suatu kekuatan di
badan hati dan lisannya.”
Sementara sebagian ulama salaf berkata “Orang
yg bisa mengalahkan nafsunya lebih kuat
daripada orang yg menaklukkan sebuah kota
dengan seorang diri.”
Dalam hadits yang shahih rasul bernah
bersabda :“Tidaklah orang yang kuat itu yang
menang dalam beradu fisik (seperti berkelahi/
bergaduh), tetapi orang yang kuat adalah mereka
yang dapat menguasai hawa nafsunya ketika ia
marah”.
Di dalam sebuah riwayat, Rasulullah berkata:
“Seorang Mujahid (orang yang berperang) adalah
orang yang memerangi dirinya sendiri”,
Peperangan dengan diri yang dimaksudkan
adalah peperangan menentang hawa nafsu.
Berkata Said Hawa di dalam Al-Asas Fi at-Tafsir,
bahwa pada dasarnya melawan nafsu
bermaksud menundukkan nafsu supaya
mengikut kehendak Allah dalam setiap perbuatan.
Jalan terbaik melawannya dengan bermujahadah,
adapun cara paling mudah untuk bermujahadah
dengan menitik-beratkan ibadah-ibadah wajib
setiap hari, karena mujahadah adalah jembatan
takwa.

6 SUMBER DLM JIWA MANUSIA

Untuk mengenal posisi hawa nafsu dalam jiwa
dan perannya dalam kehidupan manusia, Allah
SWT telah meletakkan beberapa sumber gerak
dan kesadaran manusia. Semua gerak-aktif
ataupun reaktif, kesadaran manusia bermuara
dari sumber-sumber ini, ada enam sumber
penting yang terutamanya adalah hawa nafsu,
yaitu:
1. Fithrah, yang telah dilengkapi oleh Allah
dengan kecenderungan, keinginan (hasrat)
dan gaya tarik menuju dan mengenal-Nya
dalam rangka meraih keutamaan-
keutamaan seperti akhlak, kesetiaan, ‘iffah
(harga diri), belas kasih sayang dan
kebaikan.
2. ‘Aql, adalah titik pembeda manusia.
3. Iradah, adalah pusat keputusan yang
menjamin kebebasan manusia (dalam
mengambil keputusan) dan
memerdekakannya.
4. Dhamir, berfungsi sebagai hakim dalam
jiwa yang bertugas mengadili, mengecam
dan melakukan penekanan terhadap
manusia demi menyeimbangkan segala
perilakunya(baik dan buruk).
5. Qalb-Fuad-Shodr (Hati) Merupakan
jendela lain bagi kesadaran dan
pengetahuan, sebagaimana kita pahami
melalui ayat-ayat Al-Quran sehingga dapat
menerima atau menampung pencerahan
Ilahi.
6. Al-Hawa, merupakan kumpulan berbagai
nafsu dan keinginan dalam jiwa manuisia
yang menuntut pemenuhan secara intensif.
Bila tuntutannya dipenuhi, ia dapat memberi
manusia kenikmatan tersendiri.
HAWA NAFSU

3 BENTUK PERLAWANAN MANUSIA THD HAWA NAFSU MENURUT ABU HAMID IMAM AL-GHAZALI

Abu Hamid Imam al- Ghazali menyebut ada
tiga bentuk perlawanan manusia terhadap
hawa nafsu, yaitu:
1. Nafs al-Muthmainnah (nafsu yang tenang)
, yaitu: Ketika iman menang melawan hawa
nafsu, sehingga perbuatan manusia
tersebut lebih banyak yang baik daripada
yang buruk. Dengan kata lain mereka yang
mampu menguasai terhadap hawa
nafsunya.
2. Nafs al-Lawwamah (nafsu yang gelisah
dan menyesali dirinya sendiri), yaitu: Ketika
iman kadangkala menang dan kadangkala
kalah melawan hawa nafsu, sehingga
manusia tersebut perbuatan baiknya relatif
seimbang dengan perbuatan buruknya.
Mereka yang sentiasa dalam bertarik tali
melawan hawa nafsu. Adakalanya dia
menang dan ada kalanya kalah. inilah orang
yang sedang berjuang (mujahadah). Mereka
ini menunaikan apa yang diperintahkan oleh
Nabi Muhammad melalui sabdanya yang
bermaksud: ”Berjuanglah kamu melawan
hawa nafsumu sebagaimana kamu
berjuang melawan musuh-musuhmu.”
3. Nafs al-Ammaarah al-Suu’ (nafsu yang
mengajak kepada keburukan), yaitu: Ketika
iman kalah dibandingkan dengan hawa
nafsu, sehingga manusia tersebut lebih
banyak berbuat yang buruk daripada yang
baik. Mereka inilah yang hawa nafsu
sepenuhnya telah dikuasai dan tidak dapat
melawannya sama sekali.