Lillah Billah Lirrosul Birrosul Lilghouts bil ghouts.

Selasa, 26 Juli 2011

TERJEMAHAN KITAB KIMYATUSY SYA'ADAH (IMAM AL GHAZALI) III. PEMBUKAAN HATI KE ALAM GHAIB

PEMBUKAAN HATI KE ALAM GHAIB
Pembukaan pintu hati ke Alam Ghaib ini berlaku
juga dalam kondisi-kondisi yang dekat Wahyu
Kenabian, di mana Intuisi atau Wahyu atau Ilham
terbit dalam pikiran tanpa di bawa melalui
saluran-saluran indera(pancaindera) sebagaimana
seseorang itu menyucikan dirinya dari pengaruh
nafsu kebendaan dan menumpukan(konsentrasi)
pikirannya kepada Alloh. Maka semakin
bertambah teranglah kesadarannya pada Intuisi
atau Ilham yang seperti itu. Mereka yang tidak
tahu tentang hal ini tidak berhak menafikan hakikat
tersebut.
Intuisi (Ilham) ini bukanlah terbatas bagi mereka
Kenabian saja. Ibarat besi, jika selalu digosok dan
digilap akan menjadi berkilat seperti cermin.
Begitu juga jiwa dan pikiran yang diasuh dengan
disiplin sedemikian rupa akan dapat menerima
informasi dari Alam Ghaib itu. Sebab itulah Nabi
Muhammad SAW. ada bersabda,
“Tiap-tiap kanak-kanak itu dilahirkan dalam
keadaan Islam (fitrah), maka kemudian ibu-
bapanyalah yang menjadikannya Yahudi atau
Nasrani atau Majusi”
Tiap-tiap manusia dalam kesadaran batinnya
yang dalam itu pernah mendengar pertanyaan;
Bukankah aku ini Tuhanmu?” dan mereka
menjawab; “Ya”, sebenarnya” tetapi sesetengah
hati adalah ibarat cermin yang penuh debu dan
berkarat sehingga tidak memberi bayangan apa-
apa di dalamnya. Tetapi hati Ambiya dan Aulia
meskipun mereka itu manusia biasa yang
mempunyai perasaan seperti kita, mereka sangat
senang dan cepat menerima semua gambaran
atau Ilham Ketuhanan Yang Maha Tinggi itu.
Bukanlah karena Ilmu yang didapati dari Ilham
atau Wahyu atau Intuisi itu saja yang
menyebabkan Ruh manusia itu dapat menduduki
martabat pertama atau paling tinggi di kalangan
makhluk, tetapi juga oleh karena kekuasaannya
(Ruh). Sebagaimana Malaikat-malaikat menguasai
atau memerintah unsur-unsur, maka begitu
jugalah Ruh itu. Ia memerintah anggota-anggota
tubuh. Ruh-ruh yang mencapai peringkat
kekuasaan yang khusus bukan saja memerintah
tubuh mereka sendiri tetapi juga tubuh-tubuh
yang lain.
Jika mereka menginginkan orang sakit supaya
sembuh, maka sembuhlah ia, atau orang yang
sehat bisa disakitinya; atau jika mereka inginkan
seseorang supaya datang kepada mereka, maka
datanglah orang itu.
Oleh karena kerja-kerja Ruh yang kuat ada dua
macam; yaitu baik dan jahat, maka perbuatan
mereka itu pun dibagikan dua macam juga yaitu
Mukjizat dan yang lagi satu Sihir.
Ruh-ruh yang kuat ini berbeda dari Ruh-ruh
orang biasa dalam tiga hal:
Apa yang orang lain dapat lihat secara mimpi
dalam tidur, mereka lihat dalam jaga.
Orang lain hanya dapat menguasai tubuh mereka
sendiri saja, mereka ini dapat menguasai tubuh-
tubuh selain diri mereka juga.
Orang lain mendapat Ilmu dengan belajar dan
mengkaji bersungguh-sungguh, mereka ini
mendapat Ilmu itu secara Ilham atau Wahyu.
Bukanlah ini saja tanda yang membedakan
mereka dari orang biasa. Ada lagi yang lain.
Tetapi itulah saja yang kita ketahui. Sebagaimana
juga kita ketahui yaitu Alloh itu saja yang
mengenal DiriNya Yang Sebenar-benarNya,
begitu jugalah hanya Nabi-nabi itu juga yang
mengenal Hakikat Kenabian itu sebenarnya. Ini
tidaklah mengherankan. Sedangkan dalam
kehidupan sehari-harian ini pun kita mengalami
kesulitan untuk menerangkan keindahan sesuatu
Syair atau Puisi kepada orang yang tidak tahu dan
tidak faham tentang Syair dan Puisi; atau
keindahan warna pada orang buta.
Di samping ketidakmampuan, ada hal lain lagi
yang menghalang seseorang itu mencapai
Hakikat Keruhanian. Satu daripadanya ialah Ilmu
yang diperolehi dari luar.
Sebagai ibarat, hati itu adalah sebuah telaga, dan
lima indera ialah lima batang pipa air yang
sentiasa mengalirkan air ke telaga itu. Untuk
mengetahui isi telaga itu sebenarnya, pipa air itu
hendaklah dihentikan mengalir ke dalam telaga itu
untuk sementara waktu, dan sampah-sampah
yang di bawa oleh pipa air itu hendaklah dibuang
dari telaga itu. Demikianlah ibaratnya.
Sekiranya kita hendak mencapai Hakikat
Keruhanian yang suci itu, maka kita hendaklah
sementara waktu menepikan Ilmu yang
diperolehi dari proses luar (yaitu yang datang dari
luar seperti belajar, membaca dan sebagainya) di
mana biasanya telah menjadi beku dan keras dan
bersifat Prasangka (Doqmatic Prejudice).
Di samping itu ada pula satu kesalahan yang
dilakukan oleh orang-orang yang pendek
IlmuNya, yaitu setelah mereka mendengar
percakapan orang-orang Sufi, mereka pun
merendah-rendahkan taraf ilmu. Ini adalah ibarat
seorang yang bukan ahli dalam bidang Ilmu
Kimia mengatakan, “Kimia itu lebih baik dari
emas!”, dan ia enggan menerima apabila emas
diberikan kepadanya. Kimia lebih baik dari emas,
tetapi ahli-ahli Kimia yang sebenar-benar pakar
sangat sedikit bilangannya. Begitu jugalah ahli-ahli
Sufi yang pakar sebenarnya amat sedikit
bilangannya.
Orang yang hanya tahu sedikit saja berkenaan
Kesufian adalah tidak lebih tinggi martabatnya dari
orang-orang yang berpengetahuan. Begitu juga
orang yang baru mencoba beberapa percobaan
dalam bidang Kimia, janganlah hendak
merendah-rendahkan orang yang kaya.
Orang-orang yang melihat berkenaan hal ini tentu
akan melihat betapa kebahagian itu adalah
sebenarnya berkaitan dengan Mengenal Alloh
Subhanahuwa Taala. Tiap-tiap anggota kita ini
suka dan tertarik dengan apa yang sebenarnya
dia dirasakannya.
Misalnya :
Hawa nafsu suka dengan apa yang
dikehendakinya.
Marah suka dengan membalas dendam.
Mata suka dengan benda yang indah.
Telinga suka mendengar musik yang merdu dan
sebagainya.
Fungsi (tugas) Ruh manusia yang paling tinggi
ialah Menyaksikan atau Melihat Hakikat, dan di
sanalah ia mendapat ketertarikan dan
kebahagiannya. Seorang itu amat gembira diberi
jabatan Perdana Menteri, tetapi kegembiraan itu
akan bertambah jika Raja berkawan baik
dengannya dan menceritakan kepadanya rahasia-
rahasia negeri.
Ahli Ilmu Falak (Astronom) dengan ilmunya dapat
membuat peta-peta bintang dan perjalanan
falaknya, akan merasa lebih tertarik pada ilmunya
itu daripada pemain catur dengan ilmunya. Tidak
ada yang lebih tinggi dari Alloh Subhanahuwa
Taala.
Alangkah besarnya ketertarikan dan kebahagiaan
yang didapati oleh seseorang itu hasil dari Makrifat
Alloh.
Barangsiapa yang sudah hilang keinginan untuk
mencapai Ilmu yang sedemikian tinggi itu, maka
orang itu adalah ibarat orang yang habis
seleranya untuk memakan makanan yang baik-
baik; atau pun seperti orang yang lebih suka
memakan tanah daripada memakan roti. Semua
selera tubuh kasar ini hilang apabila mati (bercerai
nyawa dengan tubuh). Selera itu mati bersama
tubuh kasar itu. Tetapi Ruh tidak mati dan ia tetap
membawa apa juga Ilmu tentang Ketuhanan
yang ada padanya, bahkan menambahkan Ilmu
itu lagi.
Sebagian hal penting berkenaan Ilmu kita tentang
Alloh adalah timbul dari kajian dan pemikiran kita
tentang tubuh kita sendiri, yang membukakan
kepada kita kekuatan, kebijaksanaan dan Cinta
Tuhan Yang Menjadikan segalanya.
KekuasaanNya menunjukkan betapa setitik air
dijadikan kita seorang manusia yang cukup
lengkap dan sempurna. KebijaksanaanNya
ditunjukkan dengan betapa rumit dan sulitnya
anggota-anggota tubuh kita dan saling
persesuaian antara bagian-bagian anggota tubuh
itu antara satu dengan yang lain. CintaNya
ditunjukkan dengan KurniaNya kepada kita bukan
saja anggota-anggota yang paling penting untuk
hidup seperti jantung, hati, otak, tetapi juga
anggota-anggota tubuh yang tidak paling penting
seperti tangan, kaki, lidah dan mata. Kemudian
ditambah pula dengan perhiasan seperti hitam
rambut, merahnya bibir, bulu mata yang
melentik dan sebagainya.
Maka sewajarnyalah manusia itu diibaratkan
sebagai ” ALAM KECIL” dalam dirinya sendiri
bentuk dan susunan tubuh itu hendak dikaji
bukan saja oleh mereka yang hendak jadi dokter
tetapi juga hendaklah dikaji oleh mereka yang
ingin mencapai Makrifatulloh, sebagaimana juga
mengkaji secara mendalam tentang susunan
keindahan bahasa dalam Puisi yang agung akan
membukakan kepada kita kebijaksanaan
pengarangnya.
Bahwa Ilmu atau Mengenal Ruh itu memainkan
peranan yang lebih penting untuk membawa
kepada Makrifatulloh; lebih penting dari mengenal
tubuh dan tugas-tugasnya. Tubuh ini ibarat kuda
tunggangan dan Ruh itu ibarat Penunggangnya.
Tubuh itu dijadikan untuk Ruh, dan Ruh itu untuk
tubuh. Jika seseorang itu tidak tahu dirinya yang
mana adalah yang paling dekat dengan Dia, maka
apakah gunanya ia mengenal yang lain? Ibarat
pengemis, yang dirinya sendiri pun susah hendak
makan berkata pula ia akan memberi makan
kepada penduduk sebuah kampung.
Dalam bab ini kita akan coba sedikit-sebanyak
membicarakan keagungan Ruh manusia.
Orang yang tidak peduli kepada jiwa atau RuhNya
dan membiarkan Ruh atau jiwa itu berkarat dan
gelap, maka rugilah ia di dunia dan di akhirat juga.
Keagungan seseorang manusia itu sebenarnya
terletak pada usaha untuk menuju Yang Kekal
Abadi. Jika tidak, dalam dunia fana ini, manusia
itulah yang paling lemah dari segala makhluk
karena tunduk kepada kepada lapar, dahaga,
panas, sejuk dan dukacita.
Hal yang paling disukai biasanya paling bahaya
kepadanya, dan hal yang memberi faedah hanya
dapat diperolehi melalui usaha dan susah payah.
Berkenaan dengan Aqalnya pula, kesalahan yang
sedikit saja pada otak bisa menyebabkan ia gila
dan rusak. Berkenaan kekuasaan pula, gigitan
nyamuk saja telah cukup menyebabkan ia resah
gelisah dan tidak dapat tidur. Berkenaan dengan
perasaan pula, dia rasa dukacita hanya dengan
kehilangan beberapa sen uang. Berkenaan dengan
kecantikan pula, dia tidak lebih dari hal yang kotor
dibalut dengan kulit yang licin lunak. Tanpa
dibasuh selalu, ia menjadi tidak menarik lagi.
Pada hakikatnya, manusia itu dalam dunia ini
adalah sangat lemah dan hina. Hanya di akhirat
kelak manusia itu akan bernilai dan berharga.
Maka dengan cara “Kimia Kebahagiaan” dia
meningkat naik dari peringkat binatang kepada
peringkat Malaikat. Kalau tidak, peringkat lebih hina
dan rendah dari binatang yang akan hancur dan
akan jadi tanah. Maka perlulah bagi manusia di
samping sadar tentang ketinggian martabatnya
dari semua makhluk, sadarlah hendaknya tentang
lemah hinanya, karena itu pun adalah satu “anak
kunci” membuka pintu Mengenal Alloh
(Makrifatulloh).

TERJEMAHAN KITAB KIMYATUSY SYA'ADAH (IMAM AL GHAZALI) II. ANAK KUNCI UNTK MENGENAL ALLOH

ANAK KUNCI UNTUK MENGENAL ALLOH
Mengenal diri itu adalah “Anak Kunci” untuk
Mengenal Alloh. Hadis ada mengatakan :
MAN ‘ARAFA NAFSAHU FAQAD ‘ARAFA
RABBAHU
(Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal
Alloh)
Firman Alloh Taala :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-
tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada
diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka
bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah
Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa
sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
(QS. 41:53)
Tidak ada hal yang melebihi diri sendiri. Jika anda
tidak kenal diri sendiri, bagaimana anda hendak
tahu hal-hal yang lain? Yang dimaksudkan dengan
Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir
anda, tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain
anggota anda itu. karena mengenal semua hal itu
tidak akan membawa kita mengenal Alloh. Dan
bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda
yaitu bila anda lapar anda makan, bila dahaga
anda minum, bila marah anda memukul dan
sebagainya. Jika anda bermaksud demikian, maka
binatang itu sama juga dengan anda. Yang
dimaksudkan sebenarnya mengenal diri itu ialah:
Apakah yang ada dalam diri anda itu?
Dari mana anda datang? Kemana anda pergi?
Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini?
Apakah sebenarnya bagian dan apakah
sebenarnya derita?
Sebagian daripada sifat-sifat anda adalah bercorak
kebinatangan. Sebagian pula bersifat Iblis dan
sebagian pula bersifat Malaikat. Anda hendaklah
tahu sifat yang mana perlu ada, dan yang tidak
perlu. Jika anda tidak tahu, maka tidaklah anda
tahu di mana letaknya kebahagiaan anda itu.
Kerja binatang ialah makan, tidur dan berkelahi.
Jika anda hendak jadi binatang, buatlah itu saja.
Iblis dan syaitan itu sibuk hendak menyesatkan
manusia, pandai menipu dan berpura-pura. Kalau
anda hendak menurut mereka itu, lakukan
sebagaimana kerja-kerja mereka itu. Malaikat
sibuk dengan memikir dan memandang
Keindahan Ilahi. Mereka bebas dari sifat-sifat
kebinatangan.
Jika anda ingin bersifat dengan sifat KeMalaikatan,
maka berusahalah menuju asal anda itu agar
dapat anda mengenali dan menuju pada Alloh
Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa
nafsu. Sebaiknya hendaklah anda tahu kenapa
anda dilengkapi dengan sifat-sifat kebintangan itu.
A dakah sifat-sifat kebinatangan itu akan
menaklukkan anda atau adakah anda menakluki
mereka?. Dan dalam perjalanan anda ke atas
martabat yang tinggi itu, anda akan gunakan
mereka sebagai tunggangan dan sebagai senjata.
Langkah pertama untuk mengenal diri ialah
mengenal bahwa anda itu terdiri dari bentuk yang
zhohir, yaitu tubuh ; dan hal yang batin yaitu hati
atau Ruh . Yang dimaksudkan dengan “HATI” itu
bukanlah daging yang terletak dalam sebelah kiri
tubuh.
Yang dimaksudkan dengan “HATI” itu ialah satu
hal yang dapat menggunakan semua kekuatan,
yang lain itu hanyalah sebagai alat dan kaki
tangannya saja. Pada hakikat hati itu bukan
termasuk dalam bidang Alam Nyata(Alam Ijsam)
tetapi adalah termasuk dalam Alam Ghaib. Ia
datang ke Alam Nyata ini ibarat pengembara yang
melawat negeri asing untuk tujuan berniaga dan
akhirnya kembali akan kembali juga ke negeri
asalnya. Mengenal hal seperti inilah dan sifat-sifat
itulah yang menjadi “Anak Kunci” untuk
mengenal Alloh.
Sedikit ide tentang hakikat Hati atau Ruh ini
bolehlah didapati dengan memejamkan mata dan
melupakan segala hal yang lain kecuali diri sendiri.
Dengan cara ini, dia akan dapat melihat tabiat atau
keadaan “diri yang tidak terbatas itu”. Meninjau
lebih dalam tentang Ruh itu adalah dilarang oleh
hukum. Dalam Al-Quran ada diterang,
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku,
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit”. (Bani Israil:85)
Demikianlah sepanjang yang diketahui tentang
Ruh itu dan ia adalah mutiara yang tidak bisa
dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan ia
termasuk dalam “Alam Amar/perintah”. Ia
bukanlah tanpa permulaan. Ia ada permulaan dan
diciptakan oleh Alloh. Pengetahuan falsafah yang
tepat mengenai Ruh ini bukanlah permulaan yang
harus ada dalam perjalanan Agama, tetapi adalah
hasil dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam
jalan itu, seperti tersebut di dalam Al-Quran :
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan
Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-
orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut:69)
Untuk menjalankan perjuangan Keruhanian ini,
bagi upaya pengenalan kepada diri dan Tuhan,
maka
• Tubuh itu bolehlah diibaratkan sebagai sebuah
Kerajaan,
• Ruh itu ibarat Raja.
• Pelbagai indera (senses) dan daya (fakulti) itu
ibarat satu pasukan tentara.
• Aqal itu bisa diibaratkan sebagai Perdana
Menteri.
• Perasaan itu ibarat Pemungut pajak, perasaan
itu terus ingin merampas dan merampok.
• Marah itu ibarat Pegawai Polisi,
• marah sentiasa cenderung kepada kekasaran
dan kekerasan.
Perasaan dan marah ini perlu ditundukkan di
bawah perintah Raja. Bukan dibunuh atau
dimusnahkan karena mereka ada tugas yang
perlu mereka jalankan, tetapi jika perasaan dan
marah menguasai Aqal, maka tentulah Ruh akan
hancur.
Ruh yang membiarkan kekuatan bawah
menguasai kekuatan atas adalah ibarat orang
orang yang menyerahkan malaikat kepada
kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang
Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim. Orang
yang menumbuh dan memelihara sifat-sifat iblis
atau binatang atau Malaikat akan menghasilkan
ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu
iblis atau binatang atau Malaikat itu. Dan semua
sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan
bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan.
• Orang yang menurut hawa nafsu nampak
seperti babi,
• Orang yang garang dan ganas seperti anjing
dan serigala,
• Orang yang suci seperti Malaikat.
Tujuan disiplin akhlak (moral) ialah untuk
membersihkan Hati dari karat-karat hawa nafsu
dan amarah, sehingga ia jadi seperti cermin yang
bersih yang akan memantulkan Cahaya Alloh
Subhanahuwa Taala.
Mungkin ada orang bertanya,
“Jika seorang itu telah dijadikan dengan
mempunyai sifat-sifat binatang, Iblis dan juga
Malaikat, bagaimanakah kita hendak tahu yang
sifat-sifat Malaikat itu adalah sifatnya yang hakiki
dan yang lain-lain itu hanya sementara dan bukan
sengaja?”
Jawabannya ialah mutiara atau inti sesuatu
makhluk itu ialah dalam sifat-sifat yang paling
tinggi yang ada padanya dan khusus baginya.
Misalnya keledai dan kuda adalah dua jenis
binatang pembawa barang-barang, tetapi kuda itu
dianggap lebih tinggi darjatnya dari keledai karena
kuda itu digunakan untuk peperangan. Jika ia tidak
boleh digunakan dalam peperangan, maka
turunlah ke bawah derajatnya kepada derajat
binatang pembawa barang-barang. saja.
Begitu juga dengan manusia; daya yang paling
tinggi padanya ialah ia bisa berfikir yaitu Aqal.
Dengan pikiran itu dia bisa memikirkan hal-hal
Ketuhanan. Jika daya berfikir ini yang meliputi
dirinya, maka bila ia mati (bercerai nyawa dari
tubuh) , ia akan meninggalkan di belakang semua
kecenderungan pada hawa nafsu dan marah, dan
layak duduk bersama dengan Malaikat. Jika
berkenaan dengan sifat-sifat Kebinatangan, maka
manusia itu lebih rendah tarafnya dari binatang,
tetapi Aqal menjadikan manusia itu lebih tinggi
tarafnya, karena Al-Quran ada menerangkan
bahwa,
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah
telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa
yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan
batin. Dan di antara manusia ada yang
membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu
pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang
memberi penerangan. (Luqman:20)
Jika sifat-sifat yang rendah itu menguasai
manusia, maka setelah mati, ia akan memandang
terhadap keduniaan dan merindukan keindahan di
dunia saja.
Ruh manusia yang berakal itu penuh dengan
kekuasaan dan pengetahuan yang sangat
menakjubkan.
Dengan Ruh Yang Berakal itu manusia dapat
menguasai segala cabang ilmu dan Sains.
Dapat mengembara dari bumi ke langit dan balik
semula ke bumi dalam sekejap mata.
Dapat memetakan langit dan mengukur jarak
antara bintang-bintang.
Dengan Ruh itu juga manusia dapat menangkap
ikan ikan dari laut dan burung-burung dari udara.
Menundukkan binatang-binatang untuk tunduk
kepadanya seperti gajah, unta dan kuda.
Lima indera (pancaindera) manusia itu adalah
ibarat lima buah pintu terbuka menghadap ke
Alam Nyata (Alam Syahadah) ini.
Lebih ajaib dari itu lagi ialah Hati. Hatinya itu
adalah sebuah pintu yang terbuka menghadap ke
Alam Arwah (Ruh-ruh) yang ghaib.
Dalam keadaan tidur, apabila pintu-pintu dunia
tertutup, pintu Hati ini terbuka dan manusia
menerima berita atau kesan-kesan dari Alam
Ghaib dan kadang-kadang membayangkan hal-
hal yang akan datang. Maka hatinya adalah ibarat
cermin yang memantulkan (bayangan) apa yang
tergambar di Luh Mahfuz. Tetapi meskipun dalam
tidur, pikiran tentang hal-hal keduniaan akan
menggelapkan cermin ini. maka gambaran yang
diterimanya tidaklah terang. Setelah lepasnya
nyawa dengan tubuh (mati), Pikiran-pikiran
tersebut hilang sirna dan segala sesuatu terlihatlah
dalam keadaan yang sebenarnya.
Firman Alloh dalam Al-Quran :
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai
dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu
tutup (yang menutupi) matamu, maka
penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qaaf:22)
.

TERJEMAHAN KITAB KIMYATUSYI SYA'ADAH (IMAM AL GHAZALI) I. PENDAHULUAN

Ketahuilah bahwa manusia ini bukanlah dijadikan
untuk gurau-senda atau “sia-sia” saja. Tetapi
adalah dijadikan dengan ‘Ajaib sekali dan untuk
tujuan yang besar dan mulia. Meskipun manusia
itu bukan Qadim (kekal dari azali lagi), namun ia
hidup selama-lamanya. Meskipun tubuhnya kecil
dan berasal dari bumi, namun Ruh atau Nyawa
adalah tinggi dan berasal dari sesuatu yang
bersifat Ketuhanan. Apabila hawa nafsunya
dibersihkan sebersih-bersihnya, maka ia akan
mencapai taraf yang paling tinggi. Ia tidak lagi
menjadi hamba kepada hawa nafsu yang rendah.
Ia akan mempunyai sifat-sifat seperti Malaikat.
Dalam peringkat yang tinggi itu, didapatinya
SyurgaNya adalah dalam bertafakur mengenang
Alloh Yang Maha Indah dan Kekal Abadi.
Tidaklah lagi ia tunduk kepada kehendak-kehendak
kebendaan dan kenafsuan semata-mata. Al-
Kimiya’ Keruhanian yang membuat pertukaran
ini. Seorang manusia itu adalah ibarat Kimia yang
menukarkan logam biasa (Base Metal) menjadi
emas. Kimia ini bukan senang hendak dicari. Ia
bukan ada dalam sebarang rumah orang.
Kimia ini ialah ringkasnya berpaling dari dunia dan
menghadap kepada Alloh Subhanahuwa Taala.
Bahan-bahan Kimia ini adalah empat :
1. Mengenal Diri
2. Mengenal Alloh
3. Mengenal Dunia ini Sebenarnya. (Hakikat Dunia)
4. Mengenal Akhirat sebenarnya (Hakikat Akhirat)
Tambah lagi satu bahan-bahan kimianya yaitu
Mencintai Alloh sebagaimana yang terdapat dalam
bab-bab.
Kita akan teruskan perbincangan kita berkenaan
bahan-bahan ini satu-persatu…Insya Alloh.
Untuk menerangkan Al-Kimiya’ itu dan cara-cara
operasinya, maka pengarang (Imam Ghazali)
coba menulis Kitab ini dan diberi judul “Al-Kimiya’
As-Saadah” yakni Kimia Kebahagiaan. Bahwa
perbendaharaan Tuhan dimana Kimia ini boleh
didapati ialah Hati Para Ambiya’ dan pewaris-
pewarisNya dari kalangan ulama-ulama Sufi
kalangan Aulia Alloh. Barang siapa yang
mencarinya selain itu adalah sia-sia dan akan
Muflis (bangkrut) di Hari Pengadilan kelak apabila
ia mendengar suara yang mengatakan :
“Kami telah angkat tirai dari kamu, dan
pandangan kamu hari ini sangat tajam dan
nyata”. (Qaaf:22)
Alloh Subhanahuwa Taala telah turunkan ke bumi
ini 124,000 orang Ambiya untuk mengajar
manusia tentang bahan-bahan Al-Kimiya ini.
Bagaimana hendak menyucikan hati mereka dari
sifat-sifat rendah dan keji itu. Ikuti perkembangan
perbincangan Imam Ghazali ini dari satu tingkat
ke satu tingkat yang membuka jalan-jalan orang-
orang Sufi yang mencapai Maqam Mahabbah,
puncak tertinggi kebahagiaan yang ingin dimiliki
oleh orang-orang yang Mengenal Alloh.

Sabtu, 23 Juli 2011

NAFSU MENGUASAI?????ATAU DIKUASAI

“Jika kita menguasai diri, kita akan menguasai
dunia,” demikian kata-kata para ilmuwan.
Dalam Shahihain disebutkan, bahwasanya Rasul
SAW bersabda “Surga itu dikelilingi dengan hal-
hal yg dibenci, adapun neraka dikelilingi dengan
berbagai syahwat.”
Imam Shâdiq radiyallahu ‘anhu juga berkata:
“Janganlah kalian biarkan jiwa bersanding
bersama hawa nafsu. Karena, hawa nafsu pasti
(membawa) kehinaan bagi jiwamu.” Tetapi
masalahnya adalah bagaimana jika kita gagal
menguasai nafsu kita sendiri? Sudah pastilah kita
pula yang akan dikuasainya. Jika demikian amat
buruk akibatnya lantaran nafsu itu adalah ‘hamba’
yang baik tetapi ‘tuan’ yang sangat jahat.
Sesungguhnya orang yang sukses adalah orang
yang gigih mencari kebaikan dunia tetapi selamat
daripada tipuannya. Seperti dalam surah Al-
An’am ayat 32 Allah berfirman:
ُﺓَﺮِﺧَﻷْﺍ ُﺭﺍَّﺪَﻟََﻭ ٌﻮْﻬَﻟَّﻭ ٌﺐِﻌَﻟ َّﻻِﺇ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُﺓﻮَﻴَﺤْﻟﺍﺎَﻣَﻭ
َﻥْﻮُﻠِﻘْﻌَﺗ َﻼَﻓَﺃ َﻥْﻮُﻘَّﺘَﻳ َﻦْﻳِﺬَّﻠِّﻟ ٌﺮْﻴَﺧ
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari
main-main dan senda gurau belaka[10],dan
sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi
orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu
memahaminya?”.
Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, dalam
ucapannya yang popular: “Dulunya kita adalah
kaum yang paling hina, kemudian Allah SWT
memuliakan kita dengan agama Islam, maka
kalau kita mencari kemuliaan dengan selain
agama Islam ini, pasti Allah SWT akan
menjadikan kita lebih hina dan rendah tidak ada
nilai. (Riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)
.
Dalam surah Yunus ayat 58 Allah berfirman:
َﻮُﻫ ﺍْﻮُﺣَﺮْﻔَﻴْﻠَﻓ َﻚِﻟﺍَﺬِﺒَﻓ ِﻪِﺘَﻤْﺣَﺮِﺑَﻭ ِﻪﻠﻟﺍ ِﻞْﻀَﻔِﺑ ْﻞُﻗ
َﻥْﻮُﻌَﻤْﺠَﻳ ﺎَّﻤِّﻣ ٌﺮْﻴَﺧ
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-
Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira
(karunia Allah dan rahmat itu), adalah lebih baik
dari apa yang mereka kumpulkan”.
Karunia Allah dalam ayat ini mayoritas para ulama
menafsirkan dengan keimanan kepada-Nya,
adapun rahmat Allah ditafsirkan dengan Alquran
[11]. Ibnu al-Qayyim dalam soal keutamaan
melawan hawa nafsu mengatakan
“Sesungguhnya melawan hawa nafsu bagi
seorang hamba melahirkan suatu kekuatan di
badan hati dan lisannya.”
Sementara sebagian ulama salaf berkata “Orang
yg bisa mengalahkan nafsunya lebih kuat
daripada orang yg menaklukkan sebuah kota
dengan seorang diri.”
Dalam hadits yang shahih rasul bernah
bersabda :“Tidaklah orang yang kuat itu yang
menang dalam beradu fisik (seperti berkelahi/
bergaduh), tetapi orang yang kuat adalah mereka
yang dapat menguasai hawa nafsunya ketika ia
marah”.
Di dalam sebuah riwayat, Rasulullah berkata:
“Seorang Mujahid (orang yang berperang) adalah
orang yang memerangi dirinya sendiri”,
Peperangan dengan diri yang dimaksudkan
adalah peperangan menentang hawa nafsu.
Berkata Said Hawa di dalam Al-Asas Fi at-Tafsir,
bahwa pada dasarnya melawan nafsu
bermaksud menundukkan nafsu supaya
mengikut kehendak Allah dalam setiap perbuatan.
Jalan terbaik melawannya dengan bermujahadah,
adapun cara paling mudah untuk bermujahadah
dengan menitik-beratkan ibadah-ibadah wajib
setiap hari, karena mujahadah adalah jembatan
takwa.